ya

Selasa, 14 Oktober 2014

DEFINISI, METODE, FUNGSI DAN TUJUAN PSIKODIAGNOSTIK (KELOMPOK 4)



Tugas kelompok :                                               Dosen Pembimbing :
Psikoterapi islam                                                M.Fahli Zatra Hadi, M.Pd

DEFINISI,METODE,FUNGSI DAN TUJUAN PSIKODIAGNOSTIK





Di susun oleh:
Agung Tri Lestari
Alpianti
Yusmi Andriani
JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
2014



KATA PENGANTAR

            Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan Karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas Yang diberikan dalam mata kuliah Psikoterapi Islam.
          Kami mengucapkan terima kasih kepada M.Fahli Zatra Hadi, M.pd Sebagai dosen mata kuliah yang telah banyak memberikan bimbingan, petunjuk dan motivasi sampai selesainya tugas ini.
          Kepada seluruh rekan-rekan yang telah banyak membantu kami di dalam penyelesaian makalah ini, yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu, kami ucapkan terima kasih dan semoga mendapatkan balasan dari Tuhan yang Maha Kuasa untuk kemajuan kita semua dalam menghadapi masa depan nanti.
          Akhirnya kami sangat mengharapkan agar makalah ini bermanfaat bagi kita semua baik untuk masa kini maupun untuk masa yang akan datang.



                                                                                       Pekanbaru, september  2014

               
                                                                                                            Penulis

   
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................   i
DAFTAR ISI......................................................................................................................   ii
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang ......................................................................................................   1
B.Rumusan Masalah..................................................................................................   1
C. Tujuan....................................................................................................................   1

BAB II PEMBAHASAN
BAB III PENUTUP
A.    KESIMPULAN......................................................................................................                           11
DAFTAR PUSTAKA
                   
                                               

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Alqur’an sebagai sumber dan pedoman psikodiagnostik dalam islam berfungsi sebagai Al- Furqan, yaitu  pembeda antara yang hak dan yang batil, yang baik dan yang buruk, yang terpuji dan tercela. Al qur’an membimbing kepada upaya memahami kepribadian individu yang sehat atau sakit secara psikilogis melalui apa-apa yang tampak pada permukaan aktifitasnya baik berupa perkataan, perbuatan, sikap, gerak-gerik, suara ,aroma, wajah, pandangan mata.
B.     Rumusan Masalah
Bagaimana cara untuk mengetahui kepribadian seseorang  lewat menafsirkan kausalitas dari munculnya perilaku itu secara psikologis.
C.    Maksud dan Tujuan
1.      Mengetahui definisi psikodiagnostik
2.      Metode-metode psikodiagnostik
3.      Fungsi dan tujuan psikodiagnostik



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi psikodiagnostik
Psikodiagnostik adalah studi mengenai kepribadian lewat penafsiran terhadap tanda-tanda tingkah laku, cara berjalan, gerak isyarat, sikap, penampilan wajah, suara dan seterusnya.
Sumadi suryobroto membagi pengertian psikodiagnostik kepada dua makna yaitu:
·         Dalam arti sempit, psikodiagnostik adalah metode yang digunakan untuk menetapkan kelainan-kelainan psikis, dengan bertujuan untuk mendapatkan pertolongan/pengobatan dengan lebih cepat
·         Dalam arti luas, makna ini dapat dilihat dari dua aspek yaitu, aspek praktis dan aspek teoritis. Pengertian dalam arti praktis adalah setiap metode untuk membuat diagnosis psikologis, yang bertujuan untuk memperlakukan subjek dengan lebih tepat. Sedangkan pengertian dari aspek teoritis ialah studi ilmiah tentang berbagai metode untuk membuat diagnosis psikologis, dengan bertujuan supaya dapat memperlakukan subjek dengan lebih tepat.
Jadi psikodiagnostik adalah suatu aktifitas memahami prilaku manusia, baik berupa perkataan, perbuatan, sikap, gerak-gerik, ekspresi dan sebagainya. Atas dasar diagnosis psikologis yang benar dan baik akan sangat membantu dalam proses konseling dan penyembuhan klien secara baik dan benar pula.
Al qur’an sebagai sumber dan pedoman psikodiagnostik dalam islam berfungsi sebagai Al- Furqan, yaitu  pembeda antara yang hak dan yang batil, yang baik dan yang buruk, yang terpuji dan tercela. Al qur’an membimbing kepada upaya memahami kepribadian individu yang sehat atau sakit secara psikilogis melalui apa-apa yang tampak pada permukaan aktifitasnya baik berupa perkataan, perbuatan, sikap, gerak-gerik, suara ,aroma, wajah, pandangan mata dan sebagainya.


B.     Metode Psikodiagnostik
Ada beberapa metode yang terdapat pada psikodiagnostik yaitu,
1.      Metode ilmiah
Ada lima macam metode yang dipakai pada pengumpulan data dalam lapangan psikologis atau penelitian ilmiah:
a.       Opservasi, yaitu aktivitas mengamati aktivitas individu baik secara langsung si pengamat ikut serta dalam kegiatan yang dilakukan oleh subjek yang diamati atau diselidiki  (opserpasi partisipan) atau observer (pengamat/penyelidik) tidak ikut serta dalam kegiatan itu atau opserver meelakukan suatu kegiatan dengan sengaja untuk dapat menimbulkan gejala tertentu dari subjek dan gejala-gejala itulah yang diamati oleh observer.
b.      Pengumpulan bahan-bahan, yakni dapat berupa alat-alat permainan. Subjek disuruh melakukan permainan tertentu dan yang menjadi focus observasi adalah bagaimana subjek melakukan permainan itu atau mengamati hasil karya tulis, seperti puisi, prosa, hasil melukis, tulisan tangan.
c.       Biografis, yaitu meneliti dan mengamati tulisan-tulisan mengenai kehidupan subjek yang diteliti atau diselidiki , baik tulisan itu ditulis oleh subjek sendiri atau orang lain, seperti biografi, buku harian, kenang-kenangan masa muda dan sebagainya.
d.      Angket, yaitu pengamatan, penyelidikan atau penelitian melalui jawaban dan isian dari daftar pertanyaan yang harus dijawab, atau daftar isian yang harus diisi yang berdasarkan pada sejumlah subjek.
e.       Wawancara, yaitu suatu metode tanya jawab secara langsung antara observer dan subjek yang di observer.
f.       Tes psikologis, yaitu metode yang dilakukan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan atau perintah-perintah yang harus dijalankan, yang berdasar atas bagaimana seseorang menjawab pertanyaan-pertanyaan , lalu peneliti/penyelidik mengambil kesimpulan dengan cara membandingkannya dengan standar.

2.      Metode kenabian ( prophetik )
Metode psikodiagnostik dalam islam dapat dikaji dalam literatur keislaman, khususnya metode yang sering digunakan oleh para sufi dalam mengamati tentang  kondisi rohaniah, kewajiban, qalbu dan moral.  Dari hasil pengamatan dan eksperimen yang cukup lama lebih kurang tujuh tahun ( 1986-1993), maka penulian telah menemukan metode-metode yang pada prinsipnya  metode-metode itu telah dilakukan oleh para nabi, rasul, dan orang-orang shalih.
            Dari hasil pengamatan empiric itu, maka penulis telah menemukan tiga metode yang lebih mengarah kepada metode profetik, yaitu metode yang terdiri dari potensi rububiyyah dan uluhiyah yang terpaut sangat erat dengan khususnya malaikat Jibril AS. Yang memiliki spesifikasi tugas menurunkan wahyu, ilham, hidayah, dan isyarad. Sehubungan dengan proses menjalankan tugas yang amat steril dari gangguan dan tipu daya syaitan dan iblis.
a.       Metode Mimpi
Petunjuk-petunjuk tentang adanya kebenaran mimpi yang dapat dijadikan sebagai sebuah metode untuk memperoleh informasi tentang kondisi dari esensi dan keberadaan seseorang yang berkaitan dengan kejiwaan dan bagian dalam dirinya,


( yusuf, 12:4)
Dari  ayat diatas maka dapat kita pahami bahwa mimpi ialah:
·         Suatu peristiwa atau kejadian dan keadaan yang dilihat, dirasakan dan dialami saat dalam keadaan tidur
·         Mimpi merupakan sebagian dari 45 bagian potensi kenabian
·         Mimpi yang baik berasal dari Allah sedangkan mimpi yang buruk berasal dari syaithan
·         Mimpi yang benar adalah mimpi orang muslim yang dekat dengan Allah dan senantiasa membenarkan ayat-ayat-Nya
·         Mimpi yang sering benar adalah mimpi seorang muslim yang dalam kondisi darurat, terpaksa, teraniaya, atau terhimpit dengan ujian hidup sedang ia senantiasa berserah diri kepada Allah
·         Mimpi yang buruk tidak boleh diceritakan kepada orang lain, sedang mimpi buruk dapat diceritakan kepada orang yang dicintai dan dipercaya bahwa ia dapat menyimpan rahasia mimpi itu
·         Mimpi melihat atau berjumpa dengan Rasulullah SAW. Adalah benar, karena penampilan beliau tidak dapat oleh syaithan, jika yang bermimpi telah benar-benar mengetahui sifat-sifat, karakter, sikap dan bentuk beliau dari telaah yang mendalam
Menurut Syeihk Abdul Ghani Nabulsi membagi mimpi-mimpi yang benar dalam 5 kategori:
1.      Penampakan yang jernih oleh seorang yang shalih tentang sesuatu yang benar-benar terjadi persis seperti yang terlihat dalam mimpi. Ini adalah jenis mimpi yang dipandang sebagai salah satu dari 46 cabang kenabian termasuk dari mimpi Rasulullah SAW. Memasuki kota Mekkah ( Al-Fath, 48: 27 ) dan mimpi nabi Ibrahim AS mengorbankan putranya. ( Ash-Shaffat, 37:102 )
2.      Meliputi sebuah peringatan atau teguran langsung dari Allah
3.      Mimpi yang diperlihatkan kepada anda oleh malaikat, dan mananya adalah shaddiiqun
4.      Menampilkan mimpi-mimpi berupa kiasan, perwujudan atau symbol-simbol yang dapat dimengerti artinya. Jenis ini datang melalui ruh-ruh yang baik atau jiwa-jiwa yang diberkahi
5.      Mimpi yang melibatkan penyaksian, seperti melihat diri sendiri bermain alat music di mesjid. Mimpi ini dapat bermakna meminta ampunan atas dosa-dosa secara terbuka
Untuk memperoleh mimpi yang berkualitas, benar dann bermakna, maka diperlukan beberapa syarat sebagai upayah memohon pertolongan kepada Allah. Sebagaimana penulis lakukan, yakni sebagai berikut:
·         Hendaknya melakukan thaharah ( bersuci ), mensucikan yang najis ( istinja ), membersihkan yang kotor ( mandi ) dan mensucikan yang bersih ( wudhu )
·         Pakaian, peralatan dan tempat shalat, harus bersih dan suci dari kotoran dan najis lahir dan batin.
·         Mendirikan shalat hajat dua rakaat, sebagai jalan dan tempat memohon kepada Allah
·         Setelah selesai mengerjakan shalat hajat, dapat membaca beberapa do,a atau wirid
·         Mempersiapkan diri untuk tidur. Kesucian diri, pakaian dan tempat tidur harus tetap terjagaserta harus menutup aurat dengan baik
Dalam praktiknya upaya untuk mendapatkan mimpi yang diharapkan tidaklah mudah. Karena upaya atau usaha itu harus benar-benar terlepas dari angan-angan dan keinginan pribadi.  Pengumpulan data atau bahan-bahan tentang kondisi kejiwaan atau mental seseorang dapat dilakukan dengan dua sumber mimpi, yaitu mimpi data dari klien, dan mimpi datang dari seorang psikodiagnostikus. Mimpi- mimpi datang dari seorang psikodiagnostikus adalah berdasarkan usaha dengan berbagai persyaratan yang harus ditempuh, sedangkan dari seorang klien adalah semata-mata munculnya tanpa usaha, melainkan sebagai gambaran dari keadaan mental atau kejiwaan, baik keadaan jiwa yang berhubungan dengan Tuhannya, dirinya sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan kerjanya maupun lingkungan sosial dan lingkungan alam sekitarnya.
b.      Metode Ilham ( intuisi )
Yaitu sebuah metode untuk mengetahui suatu keadaan atau kondisi subyek dengan melalui bisikan yang berupa kata-kata saja atau kata yang disertai dengan gambaran yang terlintas didepan mata secara lahir atau secara batin. Ilham ini datang saat tertidur atau terjaga yang berfungsi memberikan petunjuk, jalan dan bimbingan secara tiba-tiba atau melalui perenungan yang dalam ( tafakkur ). Sehingga dengan adanya ilham tu seseorang akan mudah menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya atau mencari jalan keluar dari seluruh kesulitan yang sedang dialaminya.


Asy-syam 91 ayat 8

Menurut ahli tafsir Azkasyi dalam kitab al burhan Fi ‘Ulim al-Quran, ilham adalah memberi pelajaran atau mengajar. Dalam kaum sufi, ilham mempunyai arti penting dalam kaitannya dalam kaitannya dengan tujuan mereka mencapai makrifat dan kecintaan kepada Allah SWT.
Menurut pendapat Manna ‘Khalil al-Qattan dalam kitabnya ‘’Mabahits fi ‘Ulum al-Quran’’, bahwa pengertian wahyu dalam makna kebahasaan meliputi;
1.      Ilham sebagai bawaan dasar manusia
2.      Ilham yang berupa naluri pada hewan
3.      Isyarat yang cepat melalui rumus dan kode
4.      Bisikan dan tipu daya syeithan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah dalam diri manusia
5.      Sesuatu yang disampaikan allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah untuk dikerjakan
Ilham (intuisi) dapat dijadikan metode penelitian, penyelidikan dan penguatan gejala-gejala kejiwaan dalam lapangan psikologi islam sepanjang tidak menyimpan dari pesan-pesan al quran dan as-sunah.
Wara’ adalah pensucian hati dari raga dan melepaskan seseorang dari penyakit jiwa, karena sifat wara’ merupakan hasil dari taubat hati dan seluruh anggota jasmani. Sikap inilah yang mendatangkan ketenangan jiwa dan sifat zuhud jiwa yang sangat mendalam, yakni tidak terpedaya, tidak dijajah dan terlepas akal pikiran dan kerja inderawi dari keserakahan dunia dan isinya.
c.       Metode kasysyaf
Kata kasyf berasal dari kata; kasyafa, yaksyifu, kasfhan yang artinya; membuka, mengungkapkan, memperlihatkan, mempertunjukan, menelanjangi dan menemukan.
Metode kasyf ialah suatu metode memahami subjek dan objek dengan melihat aspek yang tersembunyi dari manusia, ia bersifat lembut, ghaib dan hakiki. Dan metode ini hanya dapat dilakukan oleh  orang-orang yang telah memiliki tingkat rohaniyah yang tinggi dan sangat dekat dengan Rabb-nya. Ilmu kasyf merupakan bagian dari ilmu tentang rahasia-rahasia ketuhanan yang allah telah menganugrahkan kepada para nabi, rasul, dan siapa saja yang dia kehendaki.


Dalam pandangan pakar dan kaum sufi, bahwasan nya manusia memiliki tingkatan-tingkatan kemampuan dalam menangkap ilmu pengetahuan, diantara nya adalah;
a.        Tingkatan muhadharah
b.      Tingkatan mukasyafah
c.       Tingkatan musyahadah

3.      Metode Normatif (Al quran as-sunnah)
Metode normatif adalah sesuatu cara memahami manusia dengan segala problematikanya melalui kajian terhadap al quran dan as-sunnah sebagaimana keduanya merupakan sumber psikologi islam khusus nya dalam aplikasi proses konseling, diagnosis dan psikoterapi islam.


( Al-maidah 5;44)

Aplikasi metode ini adalah sebagai berikut;
1.      Meneliti ayat-ayat dan hadits-hadits yang berhubungan dengan manusia secara umum
2.      Meneliti ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan perilaku manusia dan hubungan nya dengan kejiwaan atau mental ruhaniyah
3.      Meneliti ayat-ayat dan hadits-hadits yang menjelaskan tentang sebab-sebab terjadinya penyimpangan dan pengingkaran melalui sikap dan perilaku
4.      Meneliti ayat-ayat dan hadits-hadits yang menjelaskan akar permasalah terjadinya penyimpangan dan pengingkaran serta akibat-akibat yang akan timbul ( dampak ) baik bagi kehidupan yang berhubungan dengan hak-hak allah maupun hak-hak hamba dan lingkungannya
5.      Meneliti ayat-ayat dan hadits-hadits yang berhubungan dengan cara-cara menanggulangi berbagai masalah hidup dan kehidupan yang bertalian dengan kejiwaan, kerohanian dan moral.

C.    Fungsi dan Tujuan psikodiagnostik
Fungsi psikodiagnostik adalah memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang manusia secara lengkap yaitu;
1.      Aspek ruhaniyah ( batiniyah ):
·         Eksistensi ruh
·         Eksistensi nafs
·         Eksistensi qalb
·         Eksistensi akal fikiran
·         Eksistensi inderawi
2.      Aspek jasmaniyah ( lahiriyah )
·         Macam-macam tingkah laku manusia
·         Macam-macam karakteristik manusia yang terekspresikan pada tingkah laku
·         Macam-macam penampilan manusia
Tujuan psikodiagnostik ialah;
1.      Memberikan bantuan kepada individu yang mengalami kesulitan dalam persoalan
2.      Memberikan bantuan penyembuhan terhadap gangguan kejiwaan


BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Psikodiagnostik adalah studi mengenai kepribadian lewat penafsiran terhadap tanda-tanda tingkah laku, cara berjalan, gerak isyarat, sikap, penampilan wajah, suara dan seterusnya.
Metode Psikodiagnostik
4.      Metode ilmiah
5.      Metode kenabian ( prophetik )
6.      Metode Normatif (Al quran as-sunnah)
Fungsi psikodiagnostik adalah memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang manusia secara lengkap. Tujuan psikodiagnostik ialah;
3.      Memberikan bantuan kepada individu yang mengalami kesulitan dalam persoalan
Memberikan bantuan penyembuhan terhadap gangguan kejiwaan













DAFTAR PUSTAKA
Hamdani Bakran Adz-Dzky.2002. Konseling dan psikoterapi islam, Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar