Tugas
kelompok : Dosen
Pembimbing :
Psikoterapi islam M.Fahli Zatra Hadi, M.Pd
DEFINISI,METODE,FUNGSI DAN TUJUAN PSIKODIAGNOSTIK
Di
susun oleh:
Agung Tri Lestari
Yusmi Andriani
JURUSAN
BIMBINGAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
2014
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan
Karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas Yang diberikan dalam mata
kuliah Psikoterapi Islam.
Kami mengucapkan terima kasih kepada
M.Fahli Zatra Hadi, M.pd Sebagai
dosen mata kuliah yang telah banyak memberikan bimbingan, petunjuk dan motivasi
sampai selesainya tugas ini.
Kepada seluruh rekan-rekan yang telah
banyak membantu kami di dalam penyelesaian makalah ini, yang tidak dapat kami
sebutkan satu-persatu, kami ucapkan terima kasih dan semoga mendapatkan balasan
dari Tuhan yang Maha Kuasa untuk kemajuan kita semua dalam menghadapi masa
depan nanti.
Akhirnya
kami sangat mengharapkan agar makalah ini bermanfaat bagi kita semua baik untuk
masa kini maupun untuk masa yang akan datang.
Pekanbaru,
september 2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR........................................................................................................ i
DAFTAR
ISI...................................................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN
A.Latar
Belakang ...................................................................................................... 1
B.Rumusan
Masalah.................................................................................................. 1
C.
Tujuan.................................................................................................................... 1
BAB
II PEMBAHASAN
BAB
III PENUTUP
A. KESIMPULAN...................................................................................................... 11
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Alqur’an
sebagai sumber dan pedoman psikodiagnostik dalam islam berfungsi sebagai Al-
Furqan, yaitu pembeda antara yang hak
dan yang batil, yang baik dan yang buruk, yang terpuji dan tercela. Al qur’an
membimbing kepada upaya memahami kepribadian individu yang sehat atau sakit
secara psikilogis melalui apa-apa yang tampak pada permukaan aktifitasnya baik
berupa perkataan, perbuatan, sikap, gerak-gerik, suara ,aroma, wajah, pandangan
mata.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana cara untuk mengetahui kepribadian
seseorang lewat menafsirkan kausalitas
dari munculnya perilaku itu secara psikologis.
C. Maksud dan
Tujuan
1.
Mengetahui
definisi psikodiagnostik
2.
Metode-metode
psikodiagnostik
3.
Fungsi dan
tujuan psikodiagnostik
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi
psikodiagnostik
Psikodiagnostik
adalah studi mengenai kepribadian lewat penafsiran terhadap tanda-tanda tingkah
laku, cara berjalan, gerak isyarat, sikap, penampilan wajah, suara dan
seterusnya.
Sumadi
suryobroto membagi pengertian psikodiagnostik kepada dua makna yaitu:
·
Dalam arti sempit,
psikodiagnostik adalah metode yang digunakan untuk menetapkan kelainan-kelainan
psikis, dengan bertujuan untuk mendapatkan pertolongan/pengobatan dengan lebih
cepat
·
Dalam arti luas, makna ini
dapat dilihat dari dua aspek yaitu, aspek praktis dan aspek teoritis.
Pengertian dalam arti praktis adalah setiap metode untuk membuat diagnosis
psikologis, yang bertujuan untuk memperlakukan subjek dengan lebih tepat.
Sedangkan pengertian dari aspek teoritis ialah studi ilmiah tentang berbagai
metode untuk membuat diagnosis psikologis, dengan bertujuan supaya dapat
memperlakukan subjek dengan lebih tepat.
Jadi
psikodiagnostik adalah suatu aktifitas memahami prilaku manusia, baik berupa
perkataan, perbuatan, sikap, gerak-gerik, ekspresi dan sebagainya. Atas dasar
diagnosis psikologis yang benar dan baik akan sangat membantu dalam proses
konseling dan penyembuhan klien secara baik dan benar pula.
Al
qur’an sebagai sumber dan pedoman psikodiagnostik dalam islam berfungsi sebagai
Al- Furqan, yaitu pembeda antara yang
hak dan yang batil, yang baik dan yang buruk, yang terpuji dan tercela. Al
qur’an membimbing kepada upaya memahami kepribadian individu yang sehat atau
sakit secara psikilogis melalui apa-apa yang tampak pada permukaan aktifitasnya
baik berupa perkataan, perbuatan, sikap, gerak-gerik, suara ,aroma, wajah,
pandangan mata dan sebagainya.
B.
Metode
Psikodiagnostik
Ada
beberapa metode yang terdapat pada psikodiagnostik yaitu,
1.
Metode
ilmiah
Ada lima
macam metode yang dipakai pada pengumpulan data dalam lapangan psikologis atau
penelitian ilmiah:
a. Opservasi,
yaitu aktivitas mengamati aktivitas individu baik secara langsung si pengamat
ikut serta dalam kegiatan yang dilakukan oleh subjek yang diamati atau
diselidiki (opserpasi partisipan) atau
observer (pengamat/penyelidik) tidak ikut serta dalam kegiatan itu atau
opserver meelakukan suatu kegiatan dengan sengaja untuk dapat menimbulkan
gejala tertentu dari subjek dan gejala-gejala itulah yang diamati oleh
observer.
b. Pengumpulan
bahan-bahan, yakni dapat berupa alat-alat permainan. Subjek disuruh melakukan
permainan tertentu dan yang menjadi focus observasi adalah bagaimana subjek
melakukan permainan itu atau mengamati hasil karya tulis, seperti puisi, prosa,
hasil melukis, tulisan tangan.
c. Biografis,
yaitu meneliti dan mengamati tulisan-tulisan mengenai kehidupan subjek yang
diteliti atau diselidiki , baik tulisan itu ditulis oleh subjek sendiri atau
orang lain, seperti biografi, buku harian, kenang-kenangan masa muda dan
sebagainya.
d. Angket,
yaitu pengamatan, penyelidikan atau penelitian melalui jawaban dan isian dari
daftar pertanyaan yang harus dijawab, atau daftar isian yang harus diisi yang
berdasarkan pada sejumlah subjek.
e. Wawancara,
yaitu suatu metode tanya jawab secara langsung antara observer dan subjek yang
di observer.
f. Tes
psikologis, yaitu metode yang dilakukan dengan menggunakan
pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan atau perintah-perintah yang harus
dijalankan, yang berdasar atas bagaimana seseorang menjawab
pertanyaan-pertanyaan , lalu peneliti/penyelidik mengambil kesimpulan dengan
cara membandingkannya dengan standar.
2.
Metode
kenabian ( prophetik )
Metode
psikodiagnostik dalam islam dapat dikaji dalam literatur keislaman, khususnya
metode yang sering digunakan oleh para sufi dalam mengamati tentang kondisi rohaniah, kewajiban, qalbu dan moral. Dari hasil pengamatan dan eksperimen yang
cukup lama lebih kurang tujuh tahun ( 1986-1993), maka penulian telah menemukan
metode-metode yang pada prinsipnya
metode-metode itu telah dilakukan oleh para nabi, rasul, dan orang-orang
shalih.
Dari hasil pengamatan empiric itu,
maka penulis telah menemukan tiga metode yang lebih mengarah kepada metode
profetik, yaitu metode yang terdiri dari potensi rububiyyah dan uluhiyah yang
terpaut sangat erat dengan khususnya malaikat Jibril AS. Yang memiliki
spesifikasi tugas menurunkan wahyu, ilham, hidayah, dan isyarad. Sehubungan
dengan proses menjalankan tugas yang amat steril dari gangguan dan tipu daya
syaitan dan iblis.
a. Metode
Mimpi
Petunjuk-petunjuk
tentang adanya kebenaran mimpi yang dapat dijadikan sebagai sebuah metode untuk
memperoleh informasi tentang kondisi dari esensi dan keberadaan seseorang yang
berkaitan dengan kejiwaan dan bagian dalam dirinya,
( yusuf,
12:4)
Dari ayat diatas maka dapat kita pahami bahwa
mimpi ialah:
·
Suatu peristiwa atau kejadian
dan keadaan yang dilihat, dirasakan dan dialami saat dalam keadaan tidur
·
Mimpi merupakan sebagian dari
45 bagian potensi kenabian
·
Mimpi yang baik berasal dari
Allah sedangkan mimpi yang buruk berasal dari syaithan
·
Mimpi yang benar adalah mimpi
orang muslim yang dekat dengan Allah dan senantiasa membenarkan ayat-ayat-Nya
·
Mimpi yang sering benar
adalah mimpi seorang muslim yang dalam kondisi darurat, terpaksa, teraniaya,
atau terhimpit dengan ujian hidup sedang ia senantiasa berserah diri kepada
Allah
·
Mimpi yang buruk tidak boleh
diceritakan kepada orang lain, sedang mimpi buruk dapat diceritakan kepada
orang yang dicintai dan dipercaya bahwa ia dapat menyimpan rahasia mimpi itu
·
Mimpi melihat atau berjumpa
dengan Rasulullah SAW. Adalah benar, karena penampilan beliau tidak dapat oleh
syaithan, jika yang bermimpi telah benar-benar mengetahui sifat-sifat,
karakter, sikap dan bentuk beliau dari telaah yang mendalam
Menurut
Syeihk Abdul Ghani Nabulsi membagi mimpi-mimpi yang benar dalam 5 kategori:
1. Penampakan
yang jernih oleh seorang yang shalih tentang sesuatu yang benar-benar terjadi
persis seperti yang terlihat dalam mimpi. Ini adalah jenis mimpi yang dipandang
sebagai salah satu dari 46 cabang kenabian termasuk dari mimpi Rasulullah SAW.
Memasuki kota Mekkah ( Al-Fath, 48: 27 ) dan mimpi nabi Ibrahim AS mengorbankan
putranya. ( Ash-Shaffat, 37:102 )
2. Meliputi
sebuah peringatan atau teguran langsung dari Allah
3. Mimpi
yang diperlihatkan kepada anda oleh malaikat, dan mananya adalah shaddiiqun
4. Menampilkan
mimpi-mimpi berupa kiasan, perwujudan atau symbol-simbol yang dapat dimengerti
artinya. Jenis ini datang melalui ruh-ruh yang baik atau jiwa-jiwa yang
diberkahi
5. Mimpi
yang melibatkan penyaksian, seperti melihat diri sendiri bermain alat music di
mesjid. Mimpi ini dapat bermakna meminta ampunan atas dosa-dosa secara terbuka
Untuk
memperoleh mimpi yang berkualitas, benar dann bermakna, maka diperlukan
beberapa syarat sebagai upayah memohon pertolongan kepada Allah. Sebagaimana
penulis lakukan, yakni sebagai berikut:
·
Hendaknya melakukan thaharah
( bersuci ), mensucikan yang najis ( istinja ), membersihkan yang kotor ( mandi
) dan mensucikan yang bersih ( wudhu )
·
Pakaian, peralatan dan tempat
shalat, harus bersih dan suci dari kotoran dan najis lahir dan batin.
·
Mendirikan shalat hajat dua
rakaat, sebagai jalan dan tempat memohon kepada Allah
·
Setelah selesai mengerjakan
shalat hajat, dapat membaca beberapa do,a atau wirid
·
Mempersiapkan diri untuk
tidur. Kesucian diri, pakaian dan tempat tidur harus tetap terjagaserta harus
menutup aurat dengan baik
Dalam
praktiknya upaya untuk mendapatkan mimpi yang diharapkan tidaklah mudah. Karena
upaya atau usaha itu harus benar-benar terlepas dari angan-angan dan keinginan
pribadi. Pengumpulan data atau
bahan-bahan tentang kondisi kejiwaan atau mental seseorang dapat dilakukan
dengan dua sumber mimpi, yaitu mimpi data dari klien, dan mimpi datang dari
seorang psikodiagnostikus. Mimpi- mimpi datang dari seorang psikodiagnostikus
adalah berdasarkan usaha dengan berbagai persyaratan yang harus ditempuh,
sedangkan dari seorang klien adalah semata-mata munculnya tanpa usaha,
melainkan sebagai gambaran dari keadaan mental atau kejiwaan, baik keadaan jiwa
yang berhubungan dengan Tuhannya, dirinya sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan
kerjanya maupun lingkungan sosial dan lingkungan alam sekitarnya.
b. Metode
Ilham ( intuisi )
Yaitu
sebuah metode untuk mengetahui suatu keadaan atau kondisi subyek dengan melalui
bisikan yang berupa kata-kata saja atau kata yang disertai dengan gambaran yang
terlintas didepan mata secara lahir atau secara batin. Ilham ini datang saat
tertidur atau terjaga yang berfungsi memberikan petunjuk, jalan dan bimbingan
secara tiba-tiba atau melalui perenungan yang dalam ( tafakkur ). Sehingga dengan adanya ilham tu seseorang akan mudah
menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya atau mencari jalan keluar dari
seluruh kesulitan yang sedang dialaminya.
Asy-syam
91 ayat 8
Menurut
ahli tafsir Azkasyi dalam kitab al burhan Fi ‘Ulim al-Quran, ilham adalah
memberi pelajaran atau mengajar. Dalam kaum sufi, ilham mempunyai arti penting
dalam kaitannya dalam kaitannya dengan tujuan mereka mencapai makrifat dan
kecintaan kepada Allah SWT.
Menurut
pendapat Manna ‘Khalil al-Qattan dalam kitabnya ‘’Mabahits fi ‘Ulum al-Quran’’,
bahwa pengertian wahyu dalam makna kebahasaan meliputi;
1. Ilham
sebagai bawaan dasar manusia
2. Ilham
yang berupa naluri pada hewan
3. Isyarat
yang cepat melalui rumus dan kode
4. Bisikan
dan tipu daya syeithan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah dalam diri
manusia
5. Sesuatu
yang disampaikan allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah untuk
dikerjakan
Ilham
(intuisi) dapat dijadikan metode penelitian, penyelidikan dan penguatan
gejala-gejala kejiwaan dalam lapangan psikologi islam sepanjang tidak menyimpan
dari pesan-pesan al quran dan as-sunah.
Wara’
adalah pensucian hati dari raga dan melepaskan seseorang dari penyakit jiwa,
karena sifat wara’ merupakan hasil dari taubat hati dan seluruh anggota
jasmani. Sikap inilah yang mendatangkan ketenangan jiwa dan sifat zuhud jiwa
yang sangat mendalam, yakni tidak terpedaya, tidak dijajah dan terlepas akal
pikiran dan kerja inderawi dari keserakahan dunia dan isinya.
c. Metode
kasysyaf
Kata
kasyf berasal dari kata; kasyafa, yaksyifu, kasfhan yang artinya; membuka,
mengungkapkan, memperlihatkan, mempertunjukan, menelanjangi dan menemukan.
Metode kasyf ialah suatu
metode memahami subjek dan objek dengan melihat aspek yang tersembunyi dari
manusia, ia bersifat lembut, ghaib dan hakiki. Dan metode ini hanya dapat
dilakukan oleh orang-orang yang telah
memiliki tingkat rohaniyah yang tinggi dan sangat dekat dengan Rabb-nya. Ilmu
kasyf merupakan bagian dari ilmu tentang rahasia-rahasia ketuhanan yang allah
telah menganugrahkan kepada para nabi, rasul, dan siapa saja yang dia
kehendaki.
Dalam pandangan pakar dan
kaum sufi, bahwasan nya manusia memiliki tingkatan-tingkatan kemampuan dalam
menangkap ilmu pengetahuan, diantara nya adalah;
a. Tingkatan muhadharah
b. Tingkatan
mukasyafah
c. Tingkatan
musyahadah
3.
Metode
Normatif (Al quran as-sunnah)
Metode
normatif adalah sesuatu cara memahami manusia dengan segala problematikanya
melalui kajian terhadap al quran dan as-sunnah sebagaimana keduanya merupakan
sumber psikologi islam khusus nya dalam aplikasi proses konseling, diagnosis
dan psikoterapi islam.
( Al-maidah 5;44)
Aplikasi metode ini adalah
sebagai berikut;
1. Meneliti
ayat-ayat dan hadits-hadits yang berhubungan dengan manusia secara umum
2. Meneliti
ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan perilaku manusia dan hubungan
nya dengan kejiwaan atau mental ruhaniyah
3. Meneliti
ayat-ayat dan hadits-hadits yang menjelaskan tentang sebab-sebab terjadinya
penyimpangan dan pengingkaran melalui sikap dan perilaku
4. Meneliti
ayat-ayat dan hadits-hadits yang menjelaskan akar permasalah terjadinya
penyimpangan dan pengingkaran serta akibat-akibat yang akan timbul ( dampak )
baik bagi kehidupan yang berhubungan dengan hak-hak allah maupun hak-hak hamba
dan lingkungannya
5. Meneliti
ayat-ayat dan hadits-hadits yang berhubungan dengan cara-cara menanggulangi
berbagai masalah hidup dan kehidupan yang bertalian dengan kejiwaan, kerohanian
dan moral.
C.
Fungsi
dan Tujuan psikodiagnostik
Fungsi psikodiagnostik adalah
memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang manusia secara lengkap yaitu;
1. Aspek
ruhaniyah ( batiniyah ):
·
Eksistensi ruh
·
Eksistensi nafs
·
Eksistensi qalb
·
Eksistensi akal fikiran
·
Eksistensi inderawi
2. Aspek
jasmaniyah ( lahiriyah )
·
Macam-macam tingkah laku
manusia
·
Macam-macam karakteristik
manusia yang terekspresikan pada tingkah laku
·
Macam-macam penampilan
manusia
Tujuan psikodiagnostik ialah;
1. Memberikan
bantuan kepada individu yang mengalami kesulitan dalam persoalan
2. Memberikan
bantuan penyembuhan terhadap gangguan kejiwaan
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Psikodiagnostik adalah studi mengenai
kepribadian lewat penafsiran terhadap tanda-tanda tingkah laku, cara berjalan,
gerak isyarat, sikap, penampilan wajah, suara dan seterusnya.
Metode
Psikodiagnostik
4. Metode
ilmiah
5. Metode
kenabian ( prophetik )
6.
Metode Normatif (Al quran
as-sunnah)
Fungsi
psikodiagnostik adalah memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang manusia secara lengkap. Tujuan psikodiagnostik
ialah;
3. Memberikan
bantuan kepada individu yang mengalami kesulitan dalam persoalan
Memberikan bantuan penyembuhan terhadap
gangguan kejiwaan
DAFTAR PUSTAKA
Hamdani Bakran
Adz-Dzky.2002. Konseling dan psikoterapi islam, Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar