ya

Sabtu, 18 Oktober 2014

KONSEP MANUSIA DAN PROBLEMATIKANYA (KELOMPOK II)



TUGAS KELOMPOK                                                DOSEN PEMBIMBING
PSIKOTERAPI  ISLAM                                            M. FAHLI ZATRAHADI, M.PD


KONSEP MANUSIA DAN PROBLEMATIKANYA

      DISUSUN OLEH:
          KELOMPOK II
INDRA
REZA PAHLEFI
SUWARI DWI SETIA NINGRUM

JURUSAN BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM
RIAU 2014/2015



KATA PENGANTAR
Puji syukur Penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan kesehatan kepada Penulis sehingga Penulis dapat menyelesaikan Makalah  mengenaiKONSEP MANUSIA DAN PROBLEMATIKANYA. Tidak lupa pula Penulis ucapkan terima kasih atas bimbingan yang telah diberikan oleh Dosen Pembimbing BapakM. FAHLI ZATRAHADI, M.PD,sehingga Penulis dapat  menyelesaikan Makalah ini.
            Meskipun telah berusaha dengan segenap kemampuan, namun Penulis menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena Penulis masih dalam tahap Perkuliahan. Oleh sebab itu, dengan kerendahan hati Penulis mengharapkan kritik dan saran yang positif guna penyempurnaan Makalah ini.
            Semoga Makalah ini dapat memberikan manfaat dan dapat dijadikan sebagai sumber informasi bagi pembaca. Atas kritik dan saran yang positif dari pembaca, Penulis ucapkan terima kasih.



Pekanbaru, 25 September 2014



Penulis

ii
 BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Manusia dikenal sebagai makhluk sosial. Karena manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan manusia yang lainnya. Orang kaya membutuhkan pertolongan orang miskin dan sebaliknya. Menurut ajaran Islam, bahwa manusia diciptakan Allah adalah untuk bisa saling kenal-mengenal, saling tolong-menolong  untuk kebaikan,bukan untuk menjauhi dan saling bermusuhan. Jadi untuk tujuan yang positif, sebagaimana yang dapat kita baca : dalam Al-qur’an surat Al-Mujarat ayat 13 :  artinya: “ wahai manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kamu dari jenis laki-laki dan perempuan dan kami telah menjadikan  kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal”.       Untuk itu manusia memiliki banyak tugas dan tanggung jawab sebagai khalifah dimuka bumi ini. Karena manusia memiliki eksistensi keinsanan dan kemakhlukan yang paling bagus, mulia, pandai dan cerdas, mendapat kepercayaan untuk menjalankan  dan mengembangkan titah-titah amant-Nya serta memperoleh kasih sayang-Nya yang sempurna.
B.     Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini untuk mengetahui lebih dalam tentang konsep manusia dan problematikanya yang meliputi tugas dan tanggung jawab manusia dan musuh besar manusia.



 BAB II
PEMBAHASAN
A.    Tugas dan tanggung jawab manusia
Sesungguhnya tugas dan tanggung jawab seorang manusia yang memiliki jabatan Ilahiyah yaitu “Kholifatullah”. Tugas dan tanggung jawab itu merupakan tugas dan amanat ketuhanan yang sungguh besar dan berat. Dalam surat Al-Ahzab ayat : 72 telah dijelaskan yang artinya: “amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung tetapi semuanya enggan untuk menanggung semua amanat itu dan merasa khawatir terhadap hal itu; sedangkan manusia bersedia menanggungnya, padahal bahwasannya ia cenderung bersikap aniaya dan bodoh”.
Ibnu Abbas dalam tafsirannya menafsirkan ayat diatas, bahwa amanat itu adalah ketaatan dan penghambaan atau ketekunan  beribadah. Langit adalah penduduk langit, gunung dan bumi adalah bentuk pilihan dan suatu negeri; enggan mereka menerima amanat itu karena tidak mau mengambil resiko berupa dosa dan hukuman; tetapi manusia, yaitu Adam bersedia menerima kedua resiko itu. Hal itu telah terbukti bahwa Adam telah mendekati pohon yang Allah telah melarangnya, dan itulah sebuah kebodohannya.
Muhammad Ali Ash-Shabuny mengartikan amanah sebagai kewajiban-kewajiban (fardhu) dan pembebanan hukum (syara’) kepada langit, bumi dan gunung-gunung, namun mereka merasa khawatir untuk menangungnya, karena hal itu merupakan tugas dan tanggung jawab yang sangat berat dan keras.
Telah menjadi sebuah takdir-Nya bagi seorang manusia, suka atau tidak suka, ingin atau tidak ingin, ia harus menerima dan menjalankan tugas dan tanggung jawabnya di muka bumi ini dan alam ini sebagai manifestasi dari titah amanat yang telah diterima sejak turun-temurun sejak nabi Adam As; ia bertitel ilahiyah sebagai khalifah Allah. Allah yang telah menciptakan manusia dalam proses kejadiannya dalam bentuk dan penampilan yang baik, indah dan sempurna. Dalam surat At-Tin ayat :4 yan artinya: “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk.
Arti “khalifah” pada ayat diatas bermakna pengganti, wakil, duta, atau utusan Allah Ta’ala dibumi dan alam semesta. Orang-orang yang berpredikat atau bertitel khalifah ini yaitu:
1.      Khalifah itu adalah khalifah pertama dari golongan manusia, yang terbuat dari air dan beberapa unsur tanah; ia bernama Adam AS.
2.      Para Nabi dan Rasul-Nya; Nabi adalah seorang lelaki yang telah diberi wahyu oleh Allah untuk dirinya sendiri, sedangkan rosul adalah seorang lelaki yang telah diberi wahyu oleh Allah untuk dirinya sendiri, keluarganya, maupun kaumnya.
3.      Rosulullah SAW. Khalifa yang paling sempurna kekhalifaan Rosulullah SAW. Adalah yang paling sempurna dan lengkap, karena ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya tidak hanya mencakup planet bumi, suatu kaum atau bangsa, tetapi seluruh alam semesta; alam langit, alam manusia dan jin serta seluruh bangsa. Dan dijelaskan dalam Al-qur’an surat Al-Anbiya’ ayat: 107 “ Dan kami tidak mengutusmu (Nabi Muhammad SAW) melainkan rahmat bagi seluruh alam.
4.      Ulama sang pewaris para Nabi Allah.
Ulama ialah seorang hamba Allah yang sangat takut dan taat kepada-Nya; ia memiliki potensi kenabian yang telah Allah anugerahkan kepadanya sebagai ahli  waris para Nabi-Nya.
Tugas dan tanggung jawab seorang manusia  sebagai khalifatullah ada dua macam:
Pertama: Tugas dan tanggung jawab Uluhiyah; yaitu yang berhubungan dengan Tuhannya yakni:
·         Memimpin dirinya sendiri, keluarganya, lingkungan dan alam untuk bersujud kepada Allah SWT, bertasbih, bertahmid, bertahlil dan bertakbir;
·         Mendidik dirinya sendiri, keluarganya, lingkungan dan alam dengan baik;
·         Menyembuhkan dirinya sendiri, kelurganya, lingkungannya, dan alam dari penyakit yang dapat menghancurkan mental, spiritual dan moral Ilahiyah;
·         Merawat, menjaga dan mengawasi diri, keluarga, lingkungan, dan alam dari gangguan, bisikan, rongrongan, serta tipu daya syetan, jin, iblis baik dalam bentuk rupa aslinya, maupun jelmaannya.
Kedua: Tugas dan tanggung jawab Rububiyah; yaitu yang berhubungan dengan makhluknya; yakni:
·         Memimpin dirinya, keluarganya, lingkungannya, dan alam agar dapat mengembangkan serta memberdayakan mereka agar dapat mengembangkan kehidupan yang hidup, bermusyawarah, bermufakat, saling mendatangkan manfaat dan keseimbangan;
·         Mendidik dirinya, keluarganya, lingkungan dan alam secara proporsional sehingga semuanya akan menjadi sumber energi kehidupan yang potensial dimanapun dan kapanpun;
·         Menyembuhkan dan mencari solusi bagi dirinya sendiri, keluarganya, lingkungan dan alam dari berbagai problematika yang sedang atau yang akan datang, sehingga ekosistem kehidupan akan senantiasa terpelihara dengan baik, benar, indah, dan harmonis;
·         Melakukan pengawasan, penjagaan dan perawatan dari penyimpangan-penyimpangan dan gangguan aspek kehidupan yang terjadi pada semua aspek kehidupan antara manusia, alam dan lingkungannya.
Kewajiban memelihara dan memberdayagunakan ekosistem (sistem tauhidiyah) merupakan suatu yang mutlak; dan barang siapa merusaknya maka Allah Ta’ala, para malaikat dan seluruh makhluk dan hamba-Nya akan mengutuk. Akibat kebanyakan manusia tidak memiliki skill Ilahiyah dan Team work Ilahiyah yang baik, maka ekosistem itu terluka bahkan menjadi rusak berat; Allah menjadi murka; para malikatpun ikut geram; seluruh alam dan isinya kecewa akibat ulah manusia.[1]
Setelah kita menyadari semua itu, maka dalam hati kita akan timbul tanda tanya : Apa saja tugas kekhalifaan yang dibebankan atas manusia menurut petunjuk Allah itu. Tugas yang dibebankan atas manusia itu banyak sekali, tetapi dapat disimpulkan dalam tiga bagian pokok yaitu :
1.      Tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri
Tugas pokok terhadap diri sendiri ada dua macam yaitu:
·         Menuntut ilmu pengetahuan
Di dalam hadist mengatakan  : “Menuntut ilmu wajib atas setiap kaum muslim laki-lakidan muslimah perempuan”.
·         Menghiasi diri dengan akhlaq yang mulia atau moral yang baik.
Akhlaq yang harus dimiliki oleh setiap orang itu meliputi:
-          Akhlaq yang mulia terhadap Allah dan rasulnya
-          Akhlaq yang mulia terhadap orang tua dan keluarga dekat
-          Akhlaq yang mulia terhadap sesama muslim
-          Akhlaq yang mulia terhadap tetangga.
2.      Tugas kekhalifahan dalam  keluarga atau rumah tangga
Prinsip-prinsip dalam pembentukan keluarga:
·         Perkenalan
·         Pilihan dan persetujuan
·         Sekufu’ (sepadan) yang paling utama seagama
·         Cinta kasih (mawaddah warahmah)
3.      Tugas kekhalifahan dalam masyarakat
Ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan tugas kekhalifahan dalam masyarakat itu cukup banyak, tetapi yang pokok ialah:
·         Mewujudkan persatuan dan ketentuan umat
·         Tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan
·         Menegakkan keadilan dalam masyarakat
·         Bertanggung jawab terhadap amar ma’ruf dan nahi munkar
·         Barlaku baik terhadap golongan-golongan yang lemah.[2]

B.     Musuh Besar Manusia
Secara universal, manusia adalah makhluk Allah yang memiliki eksistensi keinsanan dan kemakhlukan yang paling bagus, mulia, pandai dan cerdas, mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan dan mengembangkan titah-titah amanat-Nya serta memperoleh kasih sayang-Nya yang sempurna. Sedangkan secara spesifik, yaitu manusia yang telah mencapai tingkat keimanan dan ketakwaan yang tinggi dan sempurna maka ia memperoleh martabat, derajat dan titel ketuhanan yang paling tinggi, paling mulia dan paling lengkap diantara manusia lainnya. Mereka itulah para Nabi, Rasul, Auliya, Arifin, Shalihin, Muhsinin, Mukminin, Muslimin dan sebagainya. Oleh karena itu syetan dan iblis, mereka tidak senang kepada manusia yang ingin mengembangkan, meningkatkan dan memberdayakan esensi potensi keinsanannya.
Siapa sesungguhnya syetan, jin atau iblis itu? Setan dan iblis adalah termasuk jin, dan karena keduanya telah kufur dan durhaka kepada Allah, maka mereka disebut dengan syetan dan iblis.
Makhluk Allah yang bernama jin itu ialah:
1.      Ia diciptakan dari api yang sangat panas
2.      Ia telah diciptakan Allah terlebih dahulu sebelum adanya manusia.
3.      Ia merupakan makhluk yang ghaib dan tidak dapat disaksikan dengan mata kasar.
4.      Diantara mereka ada yang mencapai derajat keimanan, keshalihan dan perangai yang sempurna, bahkan mencapai derajat wali Allah; ada pula yang kufur, nifaq, dan zhalim; dan ada pula yang bodoh dan memiliki daya intelektual yang rendah.
5.      Ia diperintahkan sebagai manusia oleh Allah SWT. Untuk menjalankan syari’at dan hukum-hukum agama Islam dan mengikuti ketauladanan para Rasul-Nya.
Kata “syaithan” asal maknanya adalah terbakar, hangus, gosong, dirasa dan mendidih. Sedangkan kata “Iblis”, asal maknanya adalah jahat, bersedih hati, bingung, putus asa, pecah hati dan kurang kebaikan. Maka dari makna etimologis ini dapat difahami bahwa kerja syetan adalah membakar dan menghanguskan keimanan, keislaman, keihsanan dan ketauhidanseorang manusia bahkan seorang jin yang shalihpun ia hancurkan, hingga terjadi kebinasaan dan kehancuran aqidah serta moral Ilahiyah sejak hidup di dunia hingga kehidupan akhira. Sedangkan kerja iblis adalah mengajak, menggiring dan menjebloskan manusia kedalam kejahatan, kesedihan dan putus asa dalam proses aktifitas meraih tingkat dan martabat keinsanan yang sempurna dihadapan Allah SWT.
Metode dan strategi syetan dan iblis dalam menghancurkan keshalihan dan keyakinan seseorang ada tiga metode dan strategi, yaitu:
1.      Rayuan yang menghanyutkan
Dengan kelembutan bisikan, tiupan-tiupan bahkan air liur yang mereka tumpahkan kedalam diri seseorang akan benar-benar dapat membius bahkan menyihir kesadaran dan akal fikirannya. Biasanya mereka membisikkan angan-angan dan khayal-khayalan agar manusia meninggalkan kesabaran dan ketabahan dalam menjalani ketaatan terhadap perintah Allah, menjauhi larangan-Nya dan tabah terhadap ujian-Nya.
2.      Jebakan yang menghancurkan
Setelah berhasil merayu, menggoda dan membius, kemudian mereka melanjutkan strateginya dengan jebakan-jebakan yang  menghancurkan. Seperti tipu daya dalam dalam perjudian, pencarian harta karun, barang antik dan sebagainya. Akhirnya diri menjadi hancur secara mental, spiritual, moral maupun material, anak dan istri menjadi terlantar, hutang dimana-mana. Pada saat itu setan dan iblis bertepuk tangan, bergembira serta berpesta pora atas kemenangan mereka, dan saat itu pula mereka pergi dan meninggalkan manusia hancur. Pada saat itu manusia sudah kehilangan daya akal fikiran yang sehat. Dan akhirnya mencari jalan yang keliru, seperti mengkonsumsi obat-obatan psikotropika, minum-minuman keras, bahkan akhirnya bunuh diri.
3.      Penjajahan dan perbudakan
Bahaya yang paling besar setelah penjebakan adalah perbudaka. Artinya syetan dan iblis telah menyatu dalam diri seseorang manusia dan ia menjadi pangabdi merek. Tiada hari dan waktu tanpa kedurhakaan dan dos. Ironisnya manusia yang telah terjajah seperti ini tidak pernah merasa berdosa atau bersalahatau penyesalan. Dan mereka merasa akan hancur, jika tidak melakukan kejahatan dan dosa. Inilah “manusia iblis” atau “iblis berpostur manusia”, bahkan dapat menampakan diri dengan dua penampilan dalam diri manusia; yakni panampilan yang kotor dan lusuh atau penampilan yang rapi dengan stelan jas dan kendaraan yang mewah.
Wahai para pecinta kebenaran! Hati-hatilah dengan syetan dan iblis yang telah menjelma dalam diri manusia. Mereka adalah musuh manusia dalam yang nyata dan tidak gha’ib lagi, tetapi suara, bisikan dan energi tetap dalam kondisi abstrak.sedangkan wujud sering dalam bentuk yang nyata.
Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat: 168: “Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan, karena sesungguhnya ia merupakan musuh yang nyata bagimu”.
Dialah yang disebut dengan “Wali Syetan”, yaitu kekasih dan utusan atau wakil syetan dan iblis untuk menyesatkan umat manusia dari jalan ketuhanan atau jalan yang benar.
Karena pasti mereka akan menghancurkan orang yang beriman dengan berbagai macam metode, cara dan strategi yang sangat profesional dan berpengalaman. Maklum karena setan belum pernah dimatikan oleh Allah SWT sejak dari jaman nabi Adam AS. Hingga saat ini. Oleh karena itu syetan memiliki banyak referensi tentang cara menyesatkan dan memporak-porandakan keimanan manusia.[3]



 BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Tugas dan tanggung jawab seorang manusia  sebagai khalifatullah ada dua macam: Pertama: tugas dan tanggung jawab Uluhiyah; yaitu yang berhubungan dengan Tuhannya yakni: 
·         Memimpin dirinya sendiri, keluarganya, lingkungan dan alam untuk bersujud kepada Allah SWT, bertasbih, bertahmid, bertahlil dan bertakbir;
·         Mendidik dirinya sendiri, keluarganya, lingkungan dan alam dengan baik;
·         Menyembuhkan dirinya sendiri, kelurganya, lingkungannya, dan alam dari penyakit yang dapat menghancurkan mental, spiritual dan moral Ilahiyah;
·         Merawat, menjaga dan mengawasi diri, keluarga, lingkungan, dan alam dari gangguan, bisikan, rongrongan, serta tipu daya syetan, jin, iblis baik dalam bentuk rupa aslinya, maupun jelmaannya.
Kedua: Tugas dan tanggung jawab Rububiyah; yaitu yang berhubungan dengan makhluknya; yakni:
·         Memimpin dirinya, keluarganya, lingkungannya, dan alam.
·         Mendidik dirinya, keluarganya, lingkungan dan alam secara proporsional sehingga semuanya akan menjadi sumber energi kehidupan yang potensial.
·         Menyembuhkan dan mencari solusi bagi dirinya sendiri, keluarganya, lingkungan dan alam dari berbagai problematika yang sedang atau yang akan datang.
·         Melakukan pengawasan, penjagaan dan perawatan dari penyimpangan-penyimpangan dan gangguan aspek kehidupan yang terjadi.
Metode dan strategi syetan dan iblis dalam menghancurkan keshalihan dan keyakinan seseorang ada tiga metode dan strategi, yaitu:
1.      Rayuan yang menghanyutkan
2.      Jebakan yang menghancurkan
3.      Penjajahan dan perbudakan.

B.     SARAN
Adapun kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun dan memperbaiki sangat kami harapkan agar kami dapat menulis dengan lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Bakran Adz-Dzky,Hamdani, Konseling dan Psikoterapi Islam, Fajar Pustaka Baru,   Yogyakarta, 2002.                                                                                                           Muhammad, Abubakar, Membangun Manusia Seutuhnya Menurut Al-qur’an Al-Ikhlas,         Surabaya.



[1]Hamdani Bakran Adz-Dzky, Konseling dan Psikoterapi Islam, Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta, 2002, hal 66-74
[2]Drs. Abubakar Muhammad, Membangun Manusia Seutuhnya Menurut Al-qur’an, Al-Ikhlas, Surabaya, hal 203-265
[3]Hamdani Bakran Adz-Dzky, Konseling dan Psikoterapi Islam, Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta, 2002, hal  76-84

Tidak ada komentar:

Posting Komentar