TUGAS KELOMPOK DOSEN
PEMBIMBING
PSIKOTERAPI ISLAM M.
FAHLI ZATRAHADI, M.PD
KONSEP MANUSIA DAN
PROBLEMATIKANYA
DISUSUN OLEH:
KELOMPOK
II
INDRA
REZA PAHLEFI
SUWARI
DWI SETIA NINGRUM
JURUSAN
BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM
FAKULTAS
DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM
RIAU 2014/2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur Penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan kesehatan kepada Penulis sehingga
Penulis dapat menyelesaikan Makalah
mengenaiKONSEP MANUSIA DAN PROBLEMATIKANYA. Tidak lupa pula Penulis ucapkan terima kasih atas
bimbingan yang telah diberikan oleh Dosen Pembimbing BapakM. FAHLI ZATRAHADI, M.PD,sehingga Penulis dapat
menyelesaikan Makalah ini.
Meskipun telah berusaha
dengan segenap kemampuan, namun Penulis menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena Penulis masih
dalam tahap Perkuliahan. Oleh sebab itu, dengan kerendahan hati Penulis
mengharapkan kritik dan saran yang positif guna penyempurnaan Makalah ini.
Semoga
Makalah ini dapat memberikan manfaat dan dapat dijadikan sebagai sumber
informasi bagi pembaca. Atas kritik dan saran
yang positif dari pembaca, Penulis ucapkan terima kasih.
Pekanbaru,
25 September
2014
Penulis
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Manusia dikenal sebagai makhluk sosial. Karena manusia tidak dapat
hidup sendiri tanpa bantuan manusia yang lainnya. Orang kaya membutuhkan
pertolongan orang miskin dan sebaliknya. Menurut ajaran Islam, bahwa manusia
diciptakan Allah adalah untuk bisa saling kenal-mengenal, saling
tolong-menolong untuk kebaikan,bukan
untuk menjauhi dan saling bermusuhan. Jadi untuk tujuan yang positif,
sebagaimana yang dapat kita baca : dalam Al-qur’an surat Al-Mujarat ayat 13 : artinya: “ wahai manusia, sesungguhnya kami
telah menciptakan kamu dari jenis laki-laki dan perempuan dan kami telah
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia
diantara kamu disisi Allah ialah yang paling bertaqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal”. Untuk itu manusia memiliki banyak tugas dan tanggung jawab
sebagai khalifah dimuka bumi ini. Karena manusia memiliki eksistensi keinsanan
dan kemakhlukan yang paling bagus, mulia, pandai dan cerdas, mendapat
kepercayaan untuk menjalankan dan
mengembangkan titah-titah amant-Nya serta memperoleh kasih sayang-Nya yang
sempurna.
B.
Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini
untuk mengetahui lebih dalam tentang konsep manusia dan problematikanya yang meliputi
tugas dan tanggung jawab manusia dan musuh besar manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Tugas dan
tanggung jawab manusia
Sesungguhnya tugas dan tanggung jawab seorang manusia yang memiliki
jabatan Ilahiyah yaitu “Kholifatullah”. Tugas dan tanggung jawab itu merupakan
tugas dan amanat ketuhanan yang sungguh besar dan berat. Dalam surat Al-Ahzab
ayat : 72 telah dijelaskan yang artinya: “amanat kepada langit, bumi, dan
gunung-gunung tetapi semuanya enggan untuk menanggung semua amanat itu dan
merasa khawatir terhadap hal itu; sedangkan manusia bersedia menanggungnya,
padahal bahwasannya ia cenderung bersikap aniaya dan bodoh”.
Ibnu Abbas dalam tafsirannya menafsirkan ayat diatas, bahwa amanat
itu adalah ketaatan dan penghambaan atau ketekunan beribadah. Langit adalah penduduk langit,
gunung dan bumi adalah bentuk pilihan dan suatu negeri; enggan mereka menerima
amanat itu karena tidak mau mengambil resiko berupa dosa dan hukuman; tetapi
manusia, yaitu Adam bersedia menerima kedua resiko itu. Hal itu telah terbukti
bahwa Adam telah mendekati pohon yang Allah telah melarangnya, dan itulah
sebuah kebodohannya.
Muhammad Ali Ash-Shabuny mengartikan amanah sebagai kewajiban-kewajiban
(fardhu) dan pembebanan hukum (syara’) kepada langit, bumi dan gunung-gunung,
namun mereka merasa khawatir untuk menangungnya, karena hal itu merupakan tugas
dan tanggung jawab yang sangat berat dan keras.
Telah menjadi sebuah takdir-Nya bagi seorang manusia, suka atau
tidak suka, ingin atau tidak ingin, ia harus menerima dan menjalankan tugas dan
tanggung jawabnya di muka bumi ini dan alam ini sebagai manifestasi dari titah
amanat yang telah diterima sejak turun-temurun sejak nabi Adam As; ia bertitel ilahiyah
sebagai khalifah Allah. Allah yang telah menciptakan manusia dalam proses
kejadiannya dalam bentuk dan penampilan yang baik, indah dan sempurna. Dalam
surat At-Tin ayat :4 yan artinya: “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia
dengan sebaik-baik bentuk.
Arti “khalifah” pada ayat diatas bermakna pengganti, wakil, duta,
atau utusan Allah Ta’ala dibumi dan alam semesta. Orang-orang yang berpredikat
atau bertitel khalifah ini yaitu:
1.
Khalifah itu
adalah khalifah pertama dari golongan manusia, yang terbuat dari air dan beberapa
unsur tanah; ia bernama Adam AS.
2.
Para Nabi dan
Rasul-Nya; Nabi adalah seorang lelaki yang telah diberi wahyu oleh Allah untuk
dirinya sendiri, sedangkan rosul adalah seorang lelaki yang telah diberi wahyu
oleh Allah untuk dirinya sendiri, keluarganya, maupun kaumnya.
3.
Rosulullah SAW.
Khalifa yang paling sempurna kekhalifaan Rosulullah SAW. Adalah yang paling
sempurna dan lengkap, karena ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya tidak
hanya mencakup planet bumi, suatu kaum atau bangsa, tetapi seluruh alam
semesta; alam langit, alam manusia dan jin serta seluruh bangsa. Dan dijelaskan
dalam Al-qur’an surat Al-Anbiya’ ayat: 107 “ Dan kami tidak mengutusmu (Nabi
Muhammad SAW) melainkan rahmat bagi seluruh alam.
4.
Ulama sang
pewaris para Nabi Allah.
Ulama
ialah seorang hamba Allah yang sangat takut dan taat kepada-Nya; ia memiliki
potensi kenabian yang telah Allah anugerahkan kepadanya sebagai ahli waris para Nabi-Nya.
Tugas dan tanggung jawab seorang manusia sebagai khalifatullah ada dua macam:
Pertama: Tugas dan tanggung jawab Uluhiyah; yaitu yang berhubungan
dengan Tuhannya yakni:
·
Memimpin
dirinya sendiri, keluarganya, lingkungan dan alam untuk bersujud kepada Allah
SWT, bertasbih, bertahmid, bertahlil dan bertakbir;
·
Mendidik
dirinya sendiri, keluarganya, lingkungan dan alam dengan baik;
·
Menyembuhkan
dirinya sendiri, kelurganya, lingkungannya, dan alam dari penyakit yang dapat
menghancurkan mental, spiritual dan moral Ilahiyah;
·
Merawat,
menjaga dan mengawasi diri, keluarga, lingkungan, dan alam dari gangguan,
bisikan, rongrongan, serta tipu daya syetan, jin, iblis baik dalam bentuk rupa
aslinya, maupun jelmaannya.
Kedua: Tugas dan tanggung jawab Rububiyah; yaitu yang berhubungan
dengan makhluknya; yakni:
·
Memimpin dirinya,
keluarganya, lingkungannya, dan alam agar dapat mengembangkan serta
memberdayakan mereka agar dapat mengembangkan kehidupan yang hidup,
bermusyawarah, bermufakat, saling mendatangkan manfaat dan keseimbangan;
·
Mendidik
dirinya, keluarganya, lingkungan dan alam secara proporsional sehingga semuanya
akan menjadi sumber energi kehidupan yang potensial dimanapun dan kapanpun;
·
Menyembuhkan
dan mencari solusi bagi dirinya sendiri, keluarganya, lingkungan dan alam dari
berbagai problematika yang sedang atau yang akan datang, sehingga ekosistem kehidupan
akan senantiasa terpelihara dengan baik, benar, indah, dan harmonis;
·
Melakukan
pengawasan, penjagaan dan perawatan dari penyimpangan-penyimpangan dan gangguan
aspek kehidupan yang terjadi pada semua aspek kehidupan antara manusia, alam
dan lingkungannya.
Kewajiban memelihara dan memberdayagunakan ekosistem (sistem
tauhidiyah) merupakan suatu yang mutlak; dan barang siapa merusaknya maka Allah
Ta’ala, para malaikat dan seluruh makhluk dan hamba-Nya akan mengutuk. Akibat
kebanyakan manusia tidak memiliki skill Ilahiyah dan Team work Ilahiyah yang
baik, maka ekosistem itu terluka bahkan menjadi rusak berat; Allah menjadi
murka; para malikatpun ikut geram; seluruh alam dan isinya kecewa akibat ulah
manusia.[1]
Setelah kita menyadari semua itu, maka dalam hati kita akan timbul
tanda tanya : Apa saja tugas kekhalifaan yang dibebankan atas manusia menurut
petunjuk Allah itu. Tugas yang dibebankan atas manusia itu banyak sekali,
tetapi dapat disimpulkan dalam tiga bagian pokok yaitu :
1.
Tugas
kekhalifahan terhadap diri sendiri
Tugas pokok
terhadap diri sendiri ada dua macam yaitu:
·
Menuntut ilmu
pengetahuan
Di dalam hadist
mengatakan : “Menuntut ilmu wajib atas
setiap kaum muslim laki-lakidan muslimah perempuan”.
·
Menghiasi diri
dengan akhlaq yang mulia atau moral yang baik.
Akhlaq yang
harus dimiliki oleh setiap orang itu meliputi:
-
Akhlaq yang
mulia terhadap Allah dan rasulnya
-
Akhlaq yang
mulia terhadap orang tua dan keluarga dekat
-
Akhlaq yang
mulia terhadap sesama muslim
-
Akhlaq yang
mulia terhadap tetangga.
2.
Tugas kekhalifahan
dalam keluarga atau rumah tangga
Prinsip-prinsip
dalam pembentukan keluarga:
·
Perkenalan
·
Pilihan dan
persetujuan
·
Sekufu’
(sepadan) yang paling utama seagama
·
Cinta kasih
(mawaddah warahmah)
3.
Tugas
kekhalifahan dalam masyarakat
Ketentuan-ketentuan
yang berhubungan dengan tugas kekhalifahan dalam masyarakat itu cukup banyak,
tetapi yang pokok ialah:
·
Mewujudkan
persatuan dan ketentuan umat
·
Tolong-menolong
dalam kebaikan dan ketaqwaan
·
Menegakkan
keadilan dalam masyarakat
·
Bertanggung
jawab terhadap amar ma’ruf dan nahi munkar
·
Barlaku baik
terhadap golongan-golongan yang lemah.[2]
B.
Musuh Besar
Manusia
Secara universal, manusia adalah makhluk Allah yang memiliki
eksistensi keinsanan dan kemakhlukan yang paling bagus, mulia, pandai dan
cerdas, mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan dan mengembangkan titah-titah
amanat-Nya serta memperoleh kasih sayang-Nya yang sempurna. Sedangkan secara
spesifik, yaitu manusia yang telah mencapai tingkat keimanan dan ketakwaan yang
tinggi dan sempurna maka ia memperoleh martabat, derajat dan titel ketuhanan
yang paling tinggi, paling mulia dan paling lengkap diantara manusia lainnya.
Mereka itulah para Nabi, Rasul, Auliya, Arifin, Shalihin, Muhsinin, Mukminin,
Muslimin dan sebagainya. Oleh karena itu syetan dan iblis, mereka tidak senang
kepada manusia yang ingin mengembangkan, meningkatkan dan memberdayakan esensi
potensi keinsanannya.
Siapa sesungguhnya syetan, jin atau iblis itu? Setan dan iblis
adalah termasuk jin, dan karena keduanya telah kufur dan durhaka kepada Allah,
maka mereka disebut dengan syetan dan iblis.
Makhluk Allah yang bernama jin itu ialah:
1.
Ia diciptakan
dari api yang sangat panas
2.
Ia telah
diciptakan Allah terlebih dahulu sebelum adanya manusia.
3.
Ia merupakan
makhluk yang ghaib dan tidak dapat disaksikan dengan mata kasar.
4.
Diantara mereka
ada yang mencapai derajat keimanan, keshalihan dan perangai yang sempurna,
bahkan mencapai derajat wali Allah; ada pula yang kufur, nifaq, dan zhalim; dan
ada pula yang bodoh dan memiliki daya intelektual yang rendah.
5.
Ia
diperintahkan sebagai manusia oleh Allah SWT. Untuk menjalankan syari’at dan
hukum-hukum agama Islam dan mengikuti ketauladanan para Rasul-Nya.
Kata “syaithan” asal maknanya adalah terbakar, hangus, gosong,
dirasa dan mendidih. Sedangkan kata “Iblis”, asal maknanya adalah jahat,
bersedih hati, bingung, putus asa, pecah hati dan kurang kebaikan. Maka dari
makna etimologis ini dapat difahami bahwa kerja syetan adalah membakar dan
menghanguskan keimanan, keislaman, keihsanan dan ketauhidanseorang manusia
bahkan seorang jin yang shalihpun ia hancurkan, hingga terjadi kebinasaan dan
kehancuran aqidah serta moral Ilahiyah sejak hidup di dunia hingga kehidupan
akhira. Sedangkan kerja iblis adalah mengajak, menggiring dan menjebloskan
manusia kedalam kejahatan, kesedihan dan putus asa dalam proses aktifitas
meraih tingkat dan martabat keinsanan yang sempurna dihadapan Allah SWT.
Metode dan strategi syetan dan iblis dalam menghancurkan keshalihan
dan keyakinan seseorang ada tiga metode dan strategi, yaitu:
1.
Rayuan yang
menghanyutkan
Dengan kelembutan bisikan, tiupan-tiupan bahkan air liur yang
mereka tumpahkan kedalam diri seseorang akan benar-benar dapat membius bahkan
menyihir kesadaran dan akal fikirannya. Biasanya mereka membisikkan angan-angan
dan khayal-khayalan agar manusia meninggalkan kesabaran dan ketabahan dalam
menjalani ketaatan terhadap perintah Allah, menjauhi larangan-Nya dan tabah
terhadap ujian-Nya.
2.
Jebakan yang
menghancurkan
Setelah berhasil merayu, menggoda dan membius, kemudian mereka
melanjutkan strateginya dengan jebakan-jebakan yang menghancurkan. Seperti tipu daya dalam dalam
perjudian, pencarian harta karun, barang antik dan sebagainya. Akhirnya diri
menjadi hancur secara mental, spiritual, moral maupun material, anak dan istri
menjadi terlantar, hutang dimana-mana. Pada saat itu setan dan iblis bertepuk
tangan, bergembira serta berpesta pora atas kemenangan mereka, dan saat itu
pula mereka pergi dan meninggalkan manusia hancur. Pada saat itu manusia sudah
kehilangan daya akal fikiran yang sehat. Dan akhirnya mencari jalan yang
keliru, seperti mengkonsumsi obat-obatan psikotropika, minum-minuman keras,
bahkan akhirnya bunuh diri.
3.
Penjajahan dan
perbudakan
Bahaya yang paling besar setelah penjebakan adalah perbudaka.
Artinya syetan dan iblis telah menyatu dalam diri seseorang manusia dan ia
menjadi pangabdi merek. Tiada hari dan waktu tanpa kedurhakaan dan dos.
Ironisnya manusia yang telah terjajah seperti ini tidak pernah merasa berdosa
atau bersalahatau penyesalan. Dan mereka merasa akan hancur, jika tidak
melakukan kejahatan dan dosa. Inilah “manusia iblis” atau “iblis berpostur
manusia”, bahkan dapat menampakan diri dengan dua penampilan dalam diri
manusia; yakni panampilan yang kotor dan lusuh atau penampilan yang rapi dengan
stelan jas dan kendaraan yang mewah.
Wahai para pecinta kebenaran! Hati-hatilah dengan syetan dan iblis
yang telah menjelma dalam diri manusia. Mereka adalah musuh manusia dalam yang
nyata dan tidak gha’ib lagi, tetapi suara, bisikan dan energi tetap dalam
kondisi abstrak.sedangkan wujud sering dalam bentuk yang nyata.
Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat: 168: “Dan janganlah
kamu mengikuti langkah-langkah syetan, karena sesungguhnya ia merupakan musuh
yang nyata bagimu”.
Dialah yang disebut dengan “Wali Syetan”, yaitu kekasih dan utusan
atau wakil syetan dan iblis untuk menyesatkan umat manusia dari jalan ketuhanan
atau jalan yang benar.
Karena pasti mereka akan menghancurkan orang yang beriman dengan
berbagai macam metode, cara dan strategi yang sangat profesional dan
berpengalaman. Maklum karena setan belum pernah dimatikan oleh Allah SWT sejak
dari jaman nabi Adam AS. Hingga saat ini. Oleh karena itu syetan memiliki
banyak referensi tentang cara menyesatkan dan memporak-porandakan keimanan
manusia.[3]
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Tugas dan tanggung jawab seorang manusia sebagai khalifatullah ada dua macam: Pertama:
tugas dan tanggung jawab Uluhiyah; yaitu yang berhubungan dengan Tuhannya
yakni:
·
Memimpin
dirinya sendiri, keluarganya, lingkungan dan alam untuk bersujud kepada Allah
SWT, bertasbih, bertahmid, bertahlil dan bertakbir;
·
Mendidik
dirinya sendiri, keluarganya, lingkungan dan alam dengan baik;
·
Menyembuhkan
dirinya sendiri, kelurganya, lingkungannya, dan alam dari penyakit yang dapat
menghancurkan mental, spiritual dan moral Ilahiyah;
·
Merawat,
menjaga dan mengawasi diri, keluarga, lingkungan, dan alam dari gangguan,
bisikan, rongrongan, serta tipu daya syetan, jin, iblis baik dalam bentuk rupa
aslinya, maupun jelmaannya.
Kedua:
Tugas dan tanggung jawab Rububiyah; yaitu yang berhubungan dengan makhluknya;
yakni:
·
Memimpin
dirinya, keluarganya, lingkungannya, dan alam.
·
Mendidik
dirinya, keluarganya, lingkungan dan alam secara proporsional sehingga semuanya
akan menjadi sumber energi kehidupan yang potensial.
·
Menyembuhkan
dan mencari solusi bagi dirinya sendiri, keluarganya, lingkungan dan alam dari
berbagai problematika yang sedang atau yang akan datang.
·
Melakukan
pengawasan, penjagaan dan perawatan dari penyimpangan-penyimpangan dan gangguan
aspek kehidupan yang terjadi.
Metode
dan strategi syetan dan iblis dalam menghancurkan keshalihan dan keyakinan
seseorang ada tiga metode dan strategi, yaitu:
1.
Rayuan yang
menghanyutkan
2.
Jebakan yang
menghancurkan
3.
Penjajahan dan
perbudakan.
B.
SARAN
Adapun
kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun dan memperbaiki sangat
kami harapkan agar kami dapat menulis dengan lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Bakran Adz-Dzky,Hamdani, Konseling dan
Psikoterapi Islam, Fajar Pustaka Baru,
Yogyakarta, 2002.
Muhammad, Abubakar, Membangun Manusia
Seutuhnya Menurut Al-qur’an Al-Ikhlas,
Surabaya.
[1]Hamdani Bakran Adz-Dzky, Konseling dan Psikoterapi
Islam, Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta, 2002, hal 66-74
[2]Drs.
Abubakar Muhammad, Membangun Manusia Seutuhnya Menurut Al-qur’an, Al-Ikhlas,
Surabaya, hal 203-265
[3]Hamdani Bakran Adz-Dzky, Konseling dan Psikoterapi
Islam, Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta, 2002, hal 76-84
Tidak ada komentar:
Posting Komentar