ya

Kamis, 30 Oktober 2014

KELOMPOK 7 (SYARAT-SYARAT PSIKOTERAPIS ISLAM )



TUGAS KELOMPOK                                                                     DOSEN PEMBIMBING
 PSIKOTERAPI ISLAM                                                                  M. Fahli Zatra Hadi, M.Pd

SYARAT-SYARAT PSIKOTERAPIS DALAM ISLAM


OLEH:
KELOMPOK 7
DEWI RAHMAWATI
DEWI SARTIKA



JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
2014


KATA PENGANTAR
Segala puji bagi allah yang telah memberikan nikmat serta hidayah-nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Syarat-Syarat Psikoterapis Dalam Islam”.kemudian shalawat beserta salam kita sampaikan kepada nabi besar kita Muhammad saw yang telah memberikan pedoman hidup yakni al-qur’an dan sunnah untuk keselamatan umat di dunia.
Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Psikoterapi Islam di program studi BKI fakultas dakwah dan ilmu komunikasi.selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada bapak M. Fahli Zatra Hadi, M.Pd. selaku dosen pembimbing mata kuliah psikoterapi islam dan kepada segenap pihak yang telah memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan makalah ini.
Akhirnya penulis menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam penulisan makalah ini,maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.





Pekanbaru, 24 September 2014


Penulis,


i
 

 BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Psikoterapi dalam islammemberikan bimbingan dalam proses pendidikan dalam melepaskan diri dari pengaruh-pengaruh negatif yang senantiasa menggangu eksistensi kepribadian yang selalu cenderung untuk taat dan patuh kepada tuhannya. Dalam beberapa dekade belakangan ini semakin tampak kepercayaan orang bahwa keberagaman (religiusty) keimanan atau spiritualitas memiliki peran untuk mengatasi berbagai problem kejiwaan manusia modern. Dikatakan oleh muhammad Utsman Najati bahwa keimanan kepada tuhan merupakan kekuatan luar biasa yang membekali manusia yang religius dengan kekuatan ruhaniyah yang menopangnya dalam menanggung beban hidup, menghindarkannya dari keresahan yang banyak menimpa manusia modern yang didominasi oleh kehidupan materi dan persaingan keras guna meraih pendapatan materi dan pada saat yang sama ia membutuhkan hubungan yang ruhaniah.
Peran keimanan dalam mengatasi berbagai problem manusia jauh-jauh hari telah diperkenalkan oleh psikolog-psikolog barat. Berbagai bukti empiris di Barat dan Timur menunjukkan bahwa keberagaman keimanan dan spiritual mengembangkan kepribadian seseorang dan sekaligus menurunkan problem-problem psikologis yang di alaminya.orang-orang yang religius memiliki kepribadian yang lebih kuat dan terhindar dari berbagai penyakit jiwa.

B.       Rumusan Masalah
1.      Bagaimana aspek spiritualitas dalam psikoterapi islam?
2.      Bagaimana aspek moral dalam psikoterapi islam?
3.      Bagaimana aspek keilmuan dan skill dalam psikoterapi islam?

C.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui bagaimana aspek spritualitas dalam psikoterapi islam.
2.      Untuk mengetahui bagaimana aspek moral dalam psikoterapi islam.
3.      Untuk mengetahui bagaimana aspek keilmuan dan skill dalam psikoterapi islam.

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Aspek Spiritualitas

Keahlian (skill) dalam bidang konseling, psikodiagnostik dan psikoterapi merupakan profesi kenabian, dimana para Nabi, Rasul mempunyai tugas yang paling hakiki yaitu mengajak, membantu dan membimbing manusia menuju kepada kehidupan yang bahagia lahir dan batin, di dunia hingga akhirat.
Konselor, psikodiagnastikus dan psikoterapis dalam ajaran Islam mereka adalah “ulama billah” (ulama Allah), karena mereka telah mewarisi tugas dan tanggung jawab kenabian. Oleh karena itu tidak akan mungkin seorang dapat mengetahui tentang seluk beluk manusia secara utuh dan sempurna baik dari aspek lahiriyah. Lebih-lebih aspek batiniyyah, atau aspek jasmaniah lebih-lebih aspek rohaniyah.
Syarat-syarat spritual yang paling utama yang harus dimiliki adalah bermakrifat kepada Allah SWT. Dengan bermakrifat (mengenal) dan dekat dengan Allah SWT. Maka semua tabir alam transendental khusus insan akan terbuka dan dibukakan oleh nya.
Bukti kedekatan seseorang dengan Allah ialah:
1.    Taat nya beribadah kepadanya dengan mengerjakan ibadah shalat wajib maupun sunnat, puasa wajib maupun puasa sunnat, selalu banyak berzikir dan sekejap pun tidak pernah lupa dengan Allah, selalu banyak berdoa dengan membaca Al-Quran.
2.    Senantiasa memperoleh perlindungan Allah dari tipu daya, kejahatan dan kezaliman syetan, iblis, jin dan manusia.
3.    Doa dan permohonannya selalu dikabulkan oleh Allah SWT cepat atau lambat.
4.    Tersingkap nya kecerdasan ilahiyah sebagaimana yang dimiliki oleh para Nabi, Rasul dan Auliyah Allah SWT.
5.    Terbukanya alam para malaikat, bahkan dapat berkomunisi dengan mereka atas izin Allah SWT.
6.    Terbukanya hakikat dan batin Al-Quran, makna-makna rohaniyah yang hidup di sisi Allah SWT dari ayat-ayat nya yang ada di Lauh Mahfuzh maupun yang tersebar diseluruh penjuru alam semesta.
7.    Terbukanya alam kenabian dan kerasulan, bahkan mereka dapat berkomunikasi bersama para Nabi dan Rasul-nya atas izin-nya.
8.    Terbukanya rahasia hari kiamat, oleh karena itu ia senantiasa mempersiapkan diri dengan memperbanyak ketaatan, ibadah dan amal saleh sebagai bekal menghadap Allah kelak.
9.    Terbukanya alam taqdir dan qadho Allah, oleh karena itu ia senantiasa meningkatkan kesabaran, ketakwaan dan upaya perlindungan kepada Allah SWT. Agar senantiasa menjadi orang-orang yang dikehendaki olehnya untuk memperoleh cahaya, hidayah, taufik, kesejahteraan, kemanfaatan dan keselamatan di dunia hingga di akhirat.

B.       Aspek Moralitas
Aspek inipun sangat penting dimiliki oleh konselor, psikodiagnostikus dan psikoterapis yaitu aspek moralitas, aspek yang memperhatikan nilai-nilai, sopan santun, adat, etika dan tata krama ketuhanan, yang dengan moralitas ini proses kerja konseling, diagnosis dan terapi dilakukan. Aspek-aspek moralitas itu adalah:
1.      Niat
Niat adalah menyengaja dan bermaksud sungguh-sungguh untuk melakukan sesuatu dan tempatnya ialah didalam hati, dan tidak ada sangkut paut nya dengan lisan. Niat yang paling esensial dalam melakukan perbuatan, khusus nya dalam hal ini adalah memberikan bantuan dan pertolongan kepada individu-individu yang sangat membutuhkan nya, hendak nya semata mengharap ridha, cinta dan perjumpaan wajah nya, bukan selain itu. Karena perbuatan itu disamping sebagai profesional tetapi juga ibadah.
2.      Iktikad (keyakinan)
Iktikad ialah suatu keyakinan bahwa pada hakikatnya Allah SWT. Jugalah yang maha memberi bimbingan, memberi petunjuk dan nasihat, maha memberi kesembuhan, sedangkan seorang hamba hanya sebagai sebagai media dan jalan. Dengan iktikad yang benar, maka seorang terapis terlepas dari sifat dan sikap sombong, bangga terhadap diri sendiri dan suka pamer (riya). Sesungguhnya tanpa ada pertolongan, bimbingan serta qudrat (kuasa) dan iradat (keinginan) Allah, maka apa yang telah dan selalu di usahakan tidak akan kunjung berhasil.
3.      Siddiq (kejujuran dan kebenaran)
Siddiq adalah suatu sifat dan sikap yang lurus, benar dan jujur, dalam proses kerja konseling, diagnotis ataupun terapi, kejujuran dan kebenaran merupakan suatu prinsip, seorang terapis harus memiliki sifat ini. Kejujuran adalah tiang penopang segala persoalan. Derajat terendah kejujuran adalah bila batin seseorang selaras dengan perbuatan lahirnya. Shaadiqhh adalah orang yang benar-benar jujur dalam kata-katanya. Shadhhiiq adalah orang yang benar-benar jujur dalam semua kata-kata, perbuatan dan keadaan batin nya.
4.      Amanah
Amanah ialah segala sesuatu yang dipercayakan kepada manusia, baik yang menyangkut hak dirinya, hak orang lain, maupun hak Allah SWT. Rasulullah SAW. Menjelaskan tentang dua tingkatan amanat, yaitu:
Pertama: ketika amanat masih dalam kondisi kokoh dalam hati manusia, kemudian turunlah Al-Quran, lalu mereka mempelajarinya dan mempelajari As-Sunnah.
Kedua: ketika amanat tercabut dalam hati manusia, yaitu ketika seorang hamba tidur, maka tercabutlah amanat dari hatinya hingga tinggal bekas yang sangat sedikit. Oleh karena itu profesi dan keahlian atau ilmu pengetahuan yang telah diraih oleh seseorang, hal itu merupakan amanat dn titipan Allah, dan ilmu harus disampaikan dan dipergunakan untuk kesejahteraan, kemanfaatan dan keselamatan hidup baik bagi dirinya pribadi maupun orang lain. Jika tidak, maka ilmu itu akan menjadi kotoran dalam batin dan jiwa nya.
5.      Tabligh
Tabligh secara makna bahasa berarti menyampaikan, sedangkan dalam makna istilah menyampaikan ajaran-ajaran (Islam) yang diteriam dari Allah SWT. kepada ummat manusia untuk dijadikan pedoman dan dilaksanakan agar memperoleh kebahagian dunia dan akhirat. Prinsip terapi atau konseling Islam pada dasarnya adalah memberikan nasehat-nasehat, saran-saran dan petunjuk-petunjuk agar seseorang dapat mengaplikasikan segala perintah Allah SWT. dan Rasul-Nya dan menjauhkan diri dari perbuatan yang mungkar atau menyimpang dan melanggar hukum-hukum nya. Sehingga seseorang akan menjadi sehat jiwa dan raganya, lahiriyah dan bathiniyahnya serta jasmaniah dan rohaniayah serta akan bahagia di dunia hingga akhirat.
6.      Sabar (tabah)
Sabar adalah menahan diri dan membawanya kepada yang dituntunkan syara’ akal serta menghindarkannya dari apa yang dibenci oleh keduanya. Sikap sabar ini harus dimiliki oleh konselor dan terapis ketika menjalankan tugasnya, sabar dalam menerima keluhan-keluhan dan pencurahan isi hati individu atau ketika melakukan terapi dan konseling. Karena kadang-kadang seorang terapis selalu sering dihadapkan dengan sika, tingkah laku atau hal-hal yang tidak dapat diterima oleh akal pikiran atau pandangan mata kasar.
Ada beberapa hal kesabaran dalam kerja psikologi yaitu:
1.      Mendengarkan keluhan-keluhan dan perasaan yang tidak nyaman dari individu.
2.      Proses melakukan terapi baik berupa konseling atau psikoterapi terhadap gangguan kejiwaan yang lagi berat.
3.      Bersikap mulia, bahwa apa yang sedang dilakukan merupakan ibadah dan perintah Allah SWT.
4.      Menghadapi cobaan, tingkah laku atau sikap dari individu atau klien yang kadang-kadang dapat menyinggung atau menyakitkan hati dan perasaan konselor maupun terapis.
7.      Ikhtiar dan tawakkal
Ikhtiar adalah suatu daya upaya dengan mengerahkan segala kemampuan, tenaga dan pikiran dalam rangka ingin meraih suatu tujuan yang positif dengan baik, benar dan memuaskan. Sedangkan tawakkal adalah suatu sikap menyerahkan segala permasalahan kepada Allah SWT. dengan totalitas, agar apa yang telah di ikhtiarkan itu, dia memberikan restu dan keridhaan dengan mengabulkan permohonan, memberikan jawaban atas pertanyaan yang dikemukakan, kehadiratnya serta mendatangkan kemanfaatan dan keselamatan.
8.      Mendo’a
Mendoakan klien merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh konselor atau terapis, karena doa merupakan inti sebuah pengabdian yang bersih dan mulia. Maksud dan tujuan mendoakan klien ialah agar Allah berkenan memberikan hidayah, kesembuhan dan keselamatan kepadanya, sehingga pada akhirnya ia dapat menjadi individu yang mandiri, berkepribadian yang agung dan bermental yang tangguh dalam menjalani kehidupan didunia dan akhirat.
9.      Memelihara kerahasiaan
Hukum menyebunyikan atau merahasiakan problem atau permasalahan yang sedang dihadapi oleh klien adalah wajib, lebih-lebih permasalahan itu bersifat sangat pribadi. Biasa klien sangat menaruh kepercayaan kepada konselor atau terapis, karena sangat mengharapkan pertolongan dan bimbingannya.
10.  Memelihara pandangan mata
Dalam proses aplikasi konseling atau terapi pada umumnya adalah adanya aktivitas berhadapan antara konselor atau terapis dengan klien. Oleh karena itu dalam anjuran etika islam idealnya adalah seorang klien wanita hendaknya mencari konselor atau terapis seorang wanita juga atau sebaliknya, kecuali dalam kondisi darurat, seperti tidak ada atau belum adanya konselor atau terapis yang dapat meberikan bantuan dalam penyelesaian masalahnya, kecuali hanya seorang lelaki atau sebaliknya.
11.  Menggunakan kata-kata yang baik dan terpuji
Dengan menggunakan perkataan yang baik, tidak menggunakan perkataan yang tidak etis dan tidak menyinggung perasaan klien. Semua sikap itu dapat memberikan dukungan terapi terhadap klien secara tidak langsung. Apabila seorang konselor atau terapis sedang menghadapi masalah pribadi yang cukup berat sangat mempengaruhi kondisi emosionalnya, maka jangan melakukan aktivitas konseling.

C.      Aspek keilmuan dan skill
1.      Aspek keilmuan
Aspek keilmuan yang dimaksud ialah konselor harus memiliki ilmu pengetahuan yang cukup luas tentang manusia dengan berbagai eksistensi dan problematikanya, baik psikologi pada umumnya maupun psikologi islam yang bersumber kepada Al-Quran, As-Sunnah dan emprik para sahabat.
2.      Skill (keahlian)
Skill (keahlian dan keterampilan) ialah suatu potensi yang siap pakai yang di peroleh melalui latihan-latihan yang disiplin, konsisten, dengan metode tertentu serta dibawah bimbingan dan pengawasan para ahli yang lebih senior.
Dr.M.D.Dahlan menjelaskan bahwa nkonselor dituntut untuk memiliki berbagai keterampilan melaksanakan konseling serta karakteristik yang memadai seperti: empati, tenang, selalu siap berdialog dengan klien, menumbuhkan keberanian klien untuk berbicara, melaksanakan kegiatan konseling yang terarah.
Keterampilan dan keahlian tidak akan tumbuh dengan sendirinya, baik konseling, maupun terapis akan tetapi harus ada beberapa keterampilan yang perlu dilatihkan kepada calon konselor atau terapis, yaitu:
v  Takhalli (pembersihan diri)
Pembersihan itu adalah dengan jalan “taubat nasuha” yaitu dengan berikrar dengan sungguh-sungguh dihadapan Allah SWT yang disaksikan pembimbing yang sangat menguasai tentang ilmu melepaskan diri dari bekasan0bekasan kedurhakaan dan dosa dari dalam diri.
v  Tahalli (pengisian diri)
Setelah melakukan ikrar dan janji setia dihadapan Allah SWT. melakukan tindakan-tindakan pembersihan diri baik pembersihan akal pikiran, hati, jiwa, indrawi, dan jasad adalah dengan jalan mengisi nya dengan ketaatan-ketaatan beribadah secara spesifik dengan penuh pemahaman secara filosofis  lahiriyah maupun batiniyah.
v  Tajalli (kelahiran baru)
Tajalli ialah kelahiran atau munculnya eksistensi yang baru dari manusia yaitu perbuatan, ucapan, sikap dan gerak-gerik yang baru dan esensi diri yang baru itulah yang disebut dengan kemenangan dari Allah SWT.  adapun indikasi kelahiran baru seseorang manusia adalah: hadirnya rasa aman, tenang, tentram baik secara psikologis spiritual maupun fisik kemudian hadirnya sikap,sifat, perilaku yang baik dan benar sopan santun, istiqomah dan sebagainya secara otomatis bukan rekayasa. Selanjutnya hadirnya potensi menerima ilham yang benar. Selanjutnya kesempurnaan yaitu hadirnya ketiga tingkatan itu ke dalam diri.
v  Pemberdayaan menuju insan kamil
Pemberdayaan terhadap potensi dan keahlian tingkat pemula ini adalah dengan berupaya meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengalaman-pengalaman ibadah seperti fase tahali pada tingkat yang lebih tinggi, semakin dalam dan kokoh pemberdayaan itu maka semakin meningkatkan keahlian dan keterampilan dalam melaksanakan tugasnya.[1]


BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Kesimpulannya adalah syarat-syarat utama yang harus dimiliki oleh konselor, dan psikoterapi islam adalah:
1.      Adanya hubungan spiritual yang sangat dekat dengan rabb-nya, yang hal itu diperoleh melalui ketaatannya melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya.
2.      Adanya kualitas moral atau akhlak islamiyah yang baik dan benar secara otomatis dari nurani bukan karena rekayasa dan tuntutan profesionalisme.
3.      Adanya pendidikan yang cukup dan menguasai teori-teori konseling, dan psikoterapi islam maupun umum.
4.      Adanya keahlian dan ketrampilan dalam melakukan proses konseling, dan terapi dengan metode ilmiah, propetik (kenabian) maupun normatif (Al-Quran dan As-Sunnah).

B.       Kritik dan Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, hal ini disebabkan karena keterbatasan ilmu yang melekat dalam diri penulis. Oleh karena itu saran dan kritikan akan makalah dari pembaca sangat membantu dalam penyempurnaan makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA
Bakran Adz-Dzaky, Hamdani. 2002. Konseling dan Psikoterapi Islam. Yogyakarta: Fajar      Pustaka Baru.







[1]M.Hamdani Bakran Adz-Dzaky, Konseling dan Psikoterapi Islam, Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta, 2002, p. 299-329

Tidak ada komentar:

Posting Komentar