TUGAS KELOMPOK DOSEN
PEMBIMBING
PSIKOTERAPI ISLAM M. Fahli Zatra Hadi, M.Pd
SYARAT-SYARAT
PSIKOTERAPIS DALAM ISLAM
OLEH:
KELOMPOK
7
DEWI
RAHMAWATI
DEWI
SARTIKA
JURUSAN
BIMBINGAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS
NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
2014
KATA
PENGANTAR
Segala puji bagi allah yang
telah memberikan nikmat serta hidayah-nya terutama nikmat kesempatan dan
kesehatan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Syarat-Syarat Psikoterapis Dalam Islam”.kemudian
shalawat beserta salam kita sampaikan kepada nabi besar kita Muhammad saw yang
telah memberikan pedoman hidup yakni al-qur’an dan sunnah untuk keselamatan
umat di dunia.
Makalah ini merupakan salah
satu tugas mata kuliah Psikoterapi Islam
di program studi BKI fakultas dakwah dan ilmu komunikasi.selanjutnya
penulis mengucapkan terima kasih kepada bapak M. Fahli Zatra Hadi, M.Pd. selaku dosen pembimbing mata kuliah
psikoterapi islam dan kepada segenap pihak yang telah memberikan bimbingan
serta arahan selama penulisan makalah ini.
Akhirnya penulis menyadari
bahwa banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam penulisan makalah ini,maka
dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para
pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Pekanbaru, 24 September 2014
Penulis,
|
BAB I
A.
Latar
Belakang
Psikoterapi
dalam islammemberikan bimbingan dalam proses pendidikan dalam melepaskan diri
dari pengaruh-pengaruh negatif yang senantiasa menggangu eksistensi kepribadian
yang selalu cenderung untuk taat dan patuh kepada tuhannya. Dalam beberapa
dekade belakangan ini semakin tampak kepercayaan orang bahwa keberagaman
(religiusty) keimanan atau spiritualitas memiliki peran untuk mengatasi
berbagai problem kejiwaan manusia modern. Dikatakan oleh muhammad Utsman Najati
bahwa keimanan kepada tuhan merupakan kekuatan luar biasa yang membekali
manusia yang religius dengan kekuatan ruhaniyah yang menopangnya dalam
menanggung beban hidup, menghindarkannya dari keresahan yang banyak menimpa
manusia modern yang didominasi oleh kehidupan materi dan persaingan keras guna
meraih pendapatan materi dan pada saat yang sama ia membutuhkan hubungan yang
ruhaniah.
Peran
keimanan dalam mengatasi berbagai problem manusia jauh-jauh hari telah
diperkenalkan oleh psikolog-psikolog barat. Berbagai bukti empiris di Barat dan
Timur menunjukkan bahwa keberagaman keimanan dan spiritual mengembangkan
kepribadian seseorang dan sekaligus menurunkan problem-problem psikologis yang
di alaminya.orang-orang yang religius memiliki kepribadian yang lebih kuat dan
terhindar dari berbagai penyakit jiwa.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
aspek spiritualitas dalam psikoterapi islam?
2. Bagaimana
aspek moral dalam psikoterapi islam?
3. Bagaimana
aspek keilmuan dan skill dalam psikoterapi islam?
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui bagaimana aspek spritualitas dalam psikoterapi islam.
2. Untuk
mengetahui bagaimana aspek moral dalam psikoterapi islam.
3. Untuk
mengetahui bagaimana aspek keilmuan dan skill dalam psikoterapi islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Aspek
Spiritualitas
Keahlian
(skill) dalam bidang konseling, psikodiagnostik dan psikoterapi merupakan
profesi kenabian, dimana para Nabi, Rasul mempunyai tugas yang paling hakiki
yaitu mengajak, membantu dan membimbing manusia menuju kepada kehidupan yang
bahagia lahir dan batin, di dunia hingga akhirat.
Konselor,
psikodiagnastikus dan psikoterapis dalam ajaran Islam mereka adalah “ulama billah”
(ulama Allah), karena mereka telah mewarisi tugas dan tanggung jawab kenabian.
Oleh karena itu tidak akan mungkin seorang dapat mengetahui tentang seluk beluk
manusia secara utuh dan sempurna baik dari aspek lahiriyah. Lebih-lebih aspek
batiniyyah, atau aspek jasmaniah lebih-lebih aspek rohaniyah.
Syarat-syarat
spritual yang paling utama yang harus dimiliki adalah bermakrifat kepada Allah
SWT. Dengan bermakrifat (mengenal) dan dekat dengan Allah SWT. Maka semua tabir
alam transendental khusus insan akan terbuka dan dibukakan oleh nya.
Bukti
kedekatan seseorang dengan Allah ialah:
1. Taat
nya beribadah kepadanya dengan mengerjakan ibadah shalat wajib maupun sunnat,
puasa wajib maupun puasa sunnat, selalu banyak berzikir dan sekejap pun tidak
pernah lupa dengan Allah, selalu banyak berdoa dengan membaca Al-Quran.
2. Senantiasa
memperoleh perlindungan Allah dari tipu daya, kejahatan dan kezaliman syetan,
iblis, jin dan manusia.
3. Doa
dan permohonannya selalu dikabulkan oleh Allah SWT cepat atau lambat.
4. Tersingkap
nya kecerdasan ilahiyah sebagaimana yang dimiliki oleh para Nabi, Rasul dan
Auliyah Allah SWT.
5. Terbukanya
alam para malaikat, bahkan dapat berkomunisi dengan mereka atas izin Allah SWT.
6. Terbukanya
hakikat dan batin Al-Quran, makna-makna rohaniyah yang hidup di sisi Allah SWT
dari ayat-ayat nya yang ada di Lauh Mahfuzh maupun yang tersebar diseluruh
penjuru alam semesta.
7. Terbukanya
alam kenabian dan kerasulan, bahkan mereka dapat berkomunikasi bersama para
Nabi dan Rasul-nya atas izin-nya.
8. Terbukanya
rahasia hari kiamat, oleh karena itu ia senantiasa mempersiapkan diri dengan
memperbanyak ketaatan, ibadah dan amal saleh sebagai bekal menghadap Allah
kelak.
9. Terbukanya
alam taqdir dan qadho Allah, oleh karena itu ia senantiasa meningkatkan
kesabaran, ketakwaan dan upaya perlindungan kepada Allah SWT. Agar senantiasa
menjadi orang-orang yang dikehendaki olehnya untuk memperoleh cahaya, hidayah,
taufik, kesejahteraan, kemanfaatan dan keselamatan di dunia hingga di akhirat.
B.
Aspek
Moralitas
Aspek
inipun sangat penting dimiliki oleh konselor, psikodiagnostikus dan
psikoterapis yaitu aspek moralitas, aspek yang memperhatikan nilai-nilai, sopan
santun, adat, etika dan tata krama ketuhanan, yang dengan moralitas ini proses
kerja konseling, diagnosis dan terapi dilakukan. Aspek-aspek moralitas itu
adalah:
1. Niat
Niat
adalah menyengaja dan bermaksud sungguh-sungguh untuk melakukan sesuatu dan
tempatnya ialah didalam hati, dan tidak ada sangkut paut nya dengan lisan. Niat
yang paling esensial dalam melakukan perbuatan, khusus nya dalam hal ini adalah
memberikan bantuan dan pertolongan kepada individu-individu yang sangat
membutuhkan nya, hendak nya semata mengharap ridha, cinta dan perjumpaan wajah
nya, bukan selain itu. Karena perbuatan itu disamping sebagai profesional tetapi
juga ibadah.
2. Iktikad
(keyakinan)
Iktikad
ialah suatu keyakinan bahwa pada hakikatnya Allah SWT. Jugalah yang maha
memberi bimbingan, memberi petunjuk dan nasihat, maha memberi kesembuhan,
sedangkan seorang hamba hanya sebagai sebagai media dan jalan. Dengan iktikad
yang benar, maka seorang terapis terlepas dari sifat dan sikap sombong, bangga
terhadap diri sendiri dan suka pamer (riya). Sesungguhnya tanpa ada
pertolongan, bimbingan serta qudrat (kuasa) dan iradat (keinginan) Allah, maka
apa yang telah dan selalu di usahakan tidak akan kunjung berhasil.
3. Siddiq
(kejujuran dan kebenaran)
Siddiq
adalah suatu sifat dan sikap yang lurus, benar dan jujur, dalam proses kerja
konseling, diagnotis ataupun terapi, kejujuran dan kebenaran merupakan suatu
prinsip, seorang terapis harus memiliki sifat ini. Kejujuran adalah tiang
penopang segala persoalan. Derajat terendah kejujuran adalah bila batin
seseorang selaras dengan perbuatan lahirnya. Shaadiqhh adalah orang yang
benar-benar jujur dalam kata-katanya. Shadhhiiq adalah orang yang benar-benar
jujur dalam semua kata-kata, perbuatan dan keadaan batin nya.
4. Amanah
Amanah
ialah segala sesuatu yang dipercayakan kepada manusia, baik yang menyangkut hak
dirinya, hak orang lain, maupun hak Allah SWT. Rasulullah SAW. Menjelaskan
tentang dua tingkatan amanat, yaitu:
Pertama: ketika amanat
masih dalam kondisi kokoh dalam hati manusia, kemudian turunlah Al-Quran, lalu
mereka mempelajarinya dan mempelajari As-Sunnah.
Kedua: ketika amanat
tercabut dalam hati manusia, yaitu ketika seorang hamba tidur, maka tercabutlah
amanat dari hatinya hingga tinggal bekas yang sangat sedikit. Oleh karena itu
profesi dan keahlian atau ilmu pengetahuan yang telah diraih oleh seseorang,
hal itu merupakan amanat dn titipan Allah, dan ilmu harus disampaikan dan
dipergunakan untuk kesejahteraan, kemanfaatan dan keselamatan hidup baik bagi
dirinya pribadi maupun orang lain. Jika tidak, maka ilmu itu akan menjadi
kotoran dalam batin dan jiwa nya.
5. Tabligh
Tabligh
secara makna bahasa berarti menyampaikan, sedangkan dalam makna istilah
menyampaikan ajaran-ajaran (Islam) yang diteriam dari Allah SWT. kepada ummat
manusia untuk dijadikan pedoman dan dilaksanakan agar memperoleh kebahagian
dunia dan akhirat. Prinsip terapi atau konseling Islam pada dasarnya adalah
memberikan nasehat-nasehat, saran-saran dan petunjuk-petunjuk agar seseorang
dapat mengaplikasikan segala perintah Allah SWT. dan Rasul-Nya dan menjauhkan
diri dari perbuatan yang mungkar atau menyimpang dan melanggar hukum-hukum nya.
Sehingga seseorang akan menjadi sehat jiwa dan raganya, lahiriyah dan
bathiniyahnya serta jasmaniah dan rohaniayah serta akan bahagia di dunia hingga
akhirat.
6. Sabar
(tabah)
Sabar
adalah menahan diri dan membawanya kepada yang dituntunkan syara’ akal serta
menghindarkannya dari apa yang dibenci oleh keduanya. Sikap sabar ini harus
dimiliki oleh konselor dan terapis ketika menjalankan tugasnya, sabar dalam
menerima keluhan-keluhan dan pencurahan isi hati individu atau ketika melakukan
terapi dan konseling. Karena kadang-kadang seorang terapis selalu sering
dihadapkan dengan sika, tingkah laku atau hal-hal yang tidak dapat diterima
oleh akal pikiran atau pandangan mata kasar.
Ada beberapa hal
kesabaran dalam kerja psikologi yaitu:
1. Mendengarkan
keluhan-keluhan dan perasaan yang tidak nyaman dari individu.
2. Proses
melakukan terapi baik berupa konseling atau psikoterapi terhadap gangguan
kejiwaan yang lagi berat.
3. Bersikap
mulia, bahwa apa yang sedang dilakukan merupakan ibadah dan perintah Allah SWT.
4. Menghadapi
cobaan, tingkah laku atau sikap dari individu atau klien yang kadang-kadang
dapat menyinggung atau menyakitkan hati dan perasaan konselor maupun terapis.
7. Ikhtiar
dan tawakkal
Ikhtiar
adalah suatu daya upaya dengan mengerahkan segala kemampuan, tenaga dan pikiran
dalam rangka ingin meraih suatu tujuan yang positif dengan baik, benar dan
memuaskan. Sedangkan tawakkal adalah suatu sikap menyerahkan segala
permasalahan kepada Allah SWT. dengan totalitas, agar apa yang telah di
ikhtiarkan itu, dia memberikan restu dan keridhaan dengan mengabulkan
permohonan, memberikan jawaban atas pertanyaan yang dikemukakan, kehadiratnya
serta mendatangkan kemanfaatan dan keselamatan.
8. Mendo’a
Mendoakan
klien merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh konselor atau
terapis, karena doa merupakan inti sebuah pengabdian yang bersih dan mulia.
Maksud dan tujuan mendoakan klien ialah agar Allah berkenan memberikan hidayah,
kesembuhan dan keselamatan kepadanya, sehingga pada akhirnya ia dapat menjadi
individu yang mandiri, berkepribadian yang agung dan bermental yang tangguh
dalam menjalani kehidupan didunia dan akhirat.
9. Memelihara
kerahasiaan
Hukum
menyebunyikan atau merahasiakan problem atau permasalahan yang sedang dihadapi
oleh klien adalah wajib, lebih-lebih permasalahan itu bersifat sangat pribadi.
Biasa klien sangat menaruh kepercayaan kepada konselor atau terapis, karena
sangat mengharapkan pertolongan dan bimbingannya.
10. Memelihara
pandangan mata
Dalam
proses aplikasi konseling atau terapi pada umumnya adalah adanya aktivitas
berhadapan antara konselor atau terapis dengan klien. Oleh karena itu dalam
anjuran etika islam idealnya adalah seorang klien wanita hendaknya mencari
konselor atau terapis seorang wanita juga atau sebaliknya, kecuali dalam
kondisi darurat, seperti tidak ada atau belum adanya konselor atau terapis yang
dapat meberikan bantuan dalam penyelesaian masalahnya, kecuali hanya seorang
lelaki atau sebaliknya.
11. Menggunakan
kata-kata yang baik dan terpuji
Dengan
menggunakan perkataan yang baik, tidak menggunakan perkataan yang tidak etis
dan tidak menyinggung perasaan klien. Semua sikap itu dapat memberikan dukungan
terapi terhadap klien secara tidak langsung. Apabila seorang konselor atau
terapis sedang menghadapi masalah pribadi yang cukup berat sangat mempengaruhi
kondisi emosionalnya, maka jangan melakukan aktivitas konseling.
C.
Aspek
keilmuan dan skill
1. Aspek
keilmuan
Aspek
keilmuan yang dimaksud ialah konselor harus memiliki ilmu pengetahuan yang
cukup luas tentang manusia dengan berbagai eksistensi dan problematikanya, baik
psikologi pada umumnya maupun psikologi islam yang bersumber kepada Al-Quran,
As-Sunnah dan emprik para sahabat.
2. Skill
(keahlian)
Skill
(keahlian dan keterampilan) ialah suatu potensi yang siap pakai yang di peroleh
melalui latihan-latihan yang disiplin, konsisten, dengan metode tertentu serta
dibawah bimbingan dan pengawasan para ahli yang lebih senior.
Dr.M.D.Dahlan
menjelaskan bahwa nkonselor dituntut untuk memiliki berbagai keterampilan
melaksanakan konseling serta karakteristik yang memadai seperti: empati,
tenang, selalu siap berdialog dengan klien, menumbuhkan keberanian klien untuk
berbicara, melaksanakan kegiatan konseling yang terarah.
Keterampilan dan
keahlian tidak akan tumbuh dengan sendirinya, baik konseling, maupun terapis
akan tetapi harus ada beberapa keterampilan yang perlu dilatihkan kepada calon
konselor atau terapis, yaitu:
v Takhalli
(pembersihan diri)
Pembersihan itu adalah
dengan jalan “taubat nasuha” yaitu dengan berikrar dengan sungguh-sungguh
dihadapan Allah SWT yang disaksikan pembimbing yang sangat menguasai tentang
ilmu melepaskan diri dari bekasan0bekasan kedurhakaan dan dosa dari dalam diri.
v Tahalli
(pengisian diri)
Setelah melakukan ikrar
dan janji setia dihadapan Allah SWT. melakukan tindakan-tindakan pembersihan
diri baik pembersihan akal pikiran, hati, jiwa, indrawi, dan jasad adalah
dengan jalan mengisi nya dengan ketaatan-ketaatan beribadah secara spesifik dengan
penuh pemahaman secara filosofis
lahiriyah maupun batiniyah.
v Tajalli
(kelahiran baru)
Tajalli ialah kelahiran
atau munculnya eksistensi yang baru dari manusia yaitu perbuatan, ucapan, sikap
dan gerak-gerik yang baru dan esensi diri yang baru itulah yang disebut dengan
kemenangan dari Allah SWT. adapun
indikasi kelahiran baru seseorang manusia adalah: hadirnya rasa aman, tenang,
tentram baik secara psikologis spiritual maupun fisik kemudian hadirnya
sikap,sifat, perilaku yang baik dan benar sopan santun, istiqomah dan
sebagainya secara otomatis bukan rekayasa. Selanjutnya hadirnya potensi
menerima ilham yang benar. Selanjutnya kesempurnaan yaitu hadirnya ketiga
tingkatan itu ke dalam diri.
v Pemberdayaan
menuju insan kamil
Pemberdayaan terhadap
potensi dan keahlian tingkat pemula ini adalah dengan berupaya meningkatkan
pemahaman, penghayatan dan pengalaman-pengalaman ibadah seperti fase tahali
pada tingkat yang lebih tinggi, semakin dalam dan kokoh pemberdayaan itu maka
semakin meningkatkan keahlian dan keterampilan dalam melaksanakan tugasnya.[1]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kesimpulannya
adalah syarat-syarat utama yang harus dimiliki oleh konselor, dan psikoterapi
islam adalah:
1. Adanya
hubungan spiritual yang sangat dekat dengan rabb-nya, yang hal itu diperoleh
melalui ketaatannya melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya.
2. Adanya
kualitas moral atau akhlak islamiyah yang baik dan benar secara otomatis dari
nurani bukan karena rekayasa dan tuntutan profesionalisme.
3. Adanya
pendidikan yang cukup dan menguasai teori-teori konseling, dan psikoterapi
islam maupun umum.
4. Adanya
keahlian dan ketrampilan dalam melakukan proses konseling, dan terapi dengan
metode ilmiah, propetik (kenabian) maupun normatif (Al-Quran dan As-Sunnah).
B.
Kritik
dan Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan, hal ini disebabkan karena keterbatasan ilmu yang
melekat dalam diri penulis. Oleh karena itu saran dan kritikan akan makalah
dari pembaca sangat membantu dalam penyempurnaan makalah ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Bakran Adz-Dzaky, Hamdani. 2002. Konseling dan Psikoterapi Islam.
Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.
[1]M.Hamdani Bakran
Adz-Dzaky, Konseling dan Psikoterapi
Islam, Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta, 2002, p. 299-329
Tidak ada komentar:
Posting Komentar