Tugas kelompok 5 Dosen Pembimbing
Psikoterapi Islam M. Fahli Zatra Hadi, M.Pd
Defenisi Psikoterapi
Objek Psikoterapi dan Metodologi Psikoterapi dalam Islam
Disusun oleh:
Sumiatun
Zura Apriyani
BIMBINGAN
KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH
DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
KATA
PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb
Puji
syukur penulis ucapkan kehadirat allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayahnya serta nikmat kesehatan kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini yaitu tentang Defenisi Psikoterapi Objek Psikoterapi
dan Metodologi Psikoterapi dalam Islam. Makalah ini disusun dalam rangka
memenuhi tugas mata kuliah dari Psikoterapi Islam.
Pada kesempatan ini penulis ucapkan terima
kasih kepada bapak M. Fahli Zatra Hadi,
M.Pd selaku dosen pembimbing, karena beliau yang telah membimbing penulis
sehingga makalah ini selesai. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada
rekan-rekan karena telah memberi saran dan masukan sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini.
Penulis
menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun penulis harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Wassalammualaikum wr.wb
Pekanbaru, September 2014
Penulis
DAFTAR
ISI
SAMPUL
HALAMAN
KATA
PENGANTAR i
DAFTAR
ISI ii
BAB I :
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang 1
B. Rumusan masalah 1
C. Tujuan
makalah 1
BAB II :
PEMBAHASAN
A. Defenisi Psikoterapi Islam 2
B. Objek
psikoterapi Islam 4
C.
Metodologi psikoterapi Islam
6
BAB III
: PENUTUP
A. Kesimpulan 9
B. Saran 9
Daftar
Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Islam adalah agama yang sangat agung. Yang
memberikan pencerahan pada manuisa dalam berbagai aspek terkait dengan alam
semesta manusia dan kehidupan. Dengan kata lain Islam adalah sebuah ideologi(tidak
sekedar agama ritual) yang mampu menjawab setiap problematika umat manusia.
Setiap orang memiliki masalah dalam
hidupnya, terkadang masalah itu terlihat sangat besar sekali dan terkadang
terlihat sangat kecil sekali. Sebuah masalah yang ditangani secara tepat akan
mengahsilkan kepuasan tersendiri tapi apabila masalah itu kurang tepat
penanganannya akan menimbulkan kekacaun atau masalah baru yang lebih besar
lagi.
Dalam studi psikologi penanngan yang tepat terhadap klien
sangat di perhatikan.
Setiap klien memiliki gangguan jiwa yang bermacam – macam. Ada yang bisa
ditangani oleh seorang psikolog atau psikiater dan ada yang tidak bisa
ditangani. Gangguan – gangguan yang bisa ditangani oleh psikolog atau psikiater
maka gangguan itu bisa disembuhkan dengan menjalani psikoterapi.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan psikoterapi Islam?
2. Siapa
yang menjadi objek dalam psikoterapi Islam?
3. Apa
saja metodologi dari psikoterapi Islam?
C. Tujuan
Makalah
Makalah ini dibuat untuk mengetahui tinjauan umum
tentang psikoterapi dalam islam, seperti defenisi psikoterapi Islam, objek
psikoterapi Islam dan metodologi psikoterapi Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Defenisi
Psikoterapi Islam
Istilah psikoterapi (psychotherapy) mempunyai pengertian cukup banyak dan kabur,
terutama karena istilah tersebut digunakan dalam berbagai bidang operasional
ilmu empiris seperti psikiatri, psikologi, bimbingan dan penyuluhan (Guidance
and Counseling).
Dalam perspektif bahasa kata psikoterapi berasal
dari kata “psyche” dan “therapy” psyche mempunyai beberapa arti, antara lain:
1. Jiwa
dan hati
2. Dalam
mitologi Yunani, psyche adalah seorang gais cantik yang bersayap kupu-kupu.
Jiwa digambarkan berupa gadis dan kupu-kupu symbol keabadian.
3. Ruh,
akall dan diri (Dzat)
4. Dalam
bahasa arab psyche dapat dipadankan dengan “nafs”dengan bentuk jama’nya “anfus
atau nufus”. Ia memiliki beberapa arti, diantaranya jiwa, ruh, darah, jasad,
orang, dan diri sendiri.
Dari beberapa arti secara etimologis dapat difahami,
bahwa psyche atau nafs adalah bagian dari diri manusia dari aspek yang lebih
bersifat rohaniyah dan paling tidak
lebih banyak menyingung sisi yang dalam dari eksistensi manusia.
Firman Allah SWT :
$pkçJr'¯»t
ß§øÿ¨Z9$#
èp¨ZÍ´yJôÜßJø9$#
ÇËÐÈ
ûÓÉëÅ_ö$#
4n<Î)
Å7În/u
ZpuÅÊ#u
Zp¨ÅÊó£D
ÇËÑÈ
Í?ä{÷$$sù
Îû
Ï»t6Ïã
ÇËÒÈ
Í?ä{÷$#ur
ÓÉL¨Zy_
ÇÌÉÈ
“Hai jiwa
yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai-Nya. Kemudian
masuklah kedalam golongan hamba-hamba ku dan masuklah kedalam surga-ku”
(Al-Fajr, 89:27-30).
Adapun kata “therapy” dalam bahasa inggris bermakna
pengobatan dan penyembuhan, sedangkan dalam bahasa arab kata therapy sepadan
dengan “Al Istisyfa” digunakan oleh muhammmad Abdul Aziz al Khalidiy dalam
kitabnya’’Al Istisyfa’bil Quran.Firman Allah Ta’ala yang memuat kata syifa’.
$pkr'¯»t â¨$¨Z9$# ôs% Nä3ø?uä!$y_ ×psàÏãöq¨B `ÏiB öNà6În/§ Öä!$xÿÏ©ur $yJÏj9 Îû ÍrßÁ9$# Yèdur ×puH÷quur tûüÏYÏB÷sßJù=Ïj9 ÇÎÐÈ
‘’Wahai manusia,sesungguhnya telah datang kepadamu
pelajaran dari tuhanmu dan penyembuh penyakit yang ada didalam dada,dan
petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman (percaya dan yakin)’’
.(yunus,10:57) .
Pada hakikatnya Allah lah yang maha penyembuh, maha
obat dan maha penyehat. Dan prosesnya adakalanya dia langsung secara pribadi,
dan adakalanya diutusnya seorang malaikat atau Nabi-Nya.
Kata-kata “Syifa atau Istisyfa” mengandung beberapa
makna seperti :
1. Ahsanah
artinya mengadakan perbaikan
2.
Ashlaha
artinya
melakukan perbaikan
3.
Tharah artinya mensucikan,
membersihkan
4.
Akhraja artinya mengeluarkan,
mengusir, membuang, atau meniadakan
5.
Syaraha artinya menjelaskan,
membuka, meluaskan dan melapangkan.
6.
Wadha’an artinya hilangkan,
cabutkan
7.
Ghafara
artinya
menutupi, mengampuni, memperbaiki
8.
Kaffara
artinya menghapuskan, dan mengampuni
9.
Naza’a
artinya
mencabut, mengeluarkan dan menjauhkan[1]
Psikoterapi yang lahir pada pertengahan dan akhir
abad yang lalu, dilihat secara etimologis mempunyai arti sederhana, yakni
“psyche” yang artinya jelas, yaitu “mind” atau sederhananya jiwa. Dan “therapy”
dari bahasa yunani yang berarti “merawat” aatau “mengasuh”, sehingga
psikoterapi dalam arti sempitnya adalah perawatan terhadap aspek kejiwaan
seseorang. Dalam Oxford English Dictionary perkataan “psychotherapeutic” yang
diartikan sebagai perawatan terhadap sesuatu penyakit dengan mempergunakan
teknik psikologis untuk melakukan intervensi psikis.[2]
Dengan demikian psikoterapi dapat dipandang sebagai
penerapan metode psikologis terhadap perlakuan pada kondisi manusia.[3]
B.
Objek
Psikoterapi Islam
Objek atau sasaran yang menjadi fokus
penyembuhan, perawatan dan pengobatan
dari psikoterapi Islam adalah manusia (insan) secara utuh, yakni yang berkaitan
atau menyangkut dengan ganguan pada :
1. Mental,
yaitu yang berhubungan dengan fikiran, akal, ingatan atau proses yang
berasiosasi dengan pikiran, akal dan ingatan. Seperti mudah lupa, malas
berfikir, tidak mampu berkonsentrasi, tidak dapat mengambil suatu keputusan
dengan baik dan benar, bahkan tidak memiliki kemampuan membedakan antara halal
dan haram yang mudharat serta yang hak dan yang batil.
Demi
untuk menjaga dan memelihara kesehatan mental itu Allah Ta’ala mengharamkan
dari orang-orang yang telah beriman, percaya dan meyakini akan adanya dia.
2. Spiritual,
yaitu yang berhubungan dengan masalah ruh, semangat atau jiwa, religious, yang
berhubungan agama, keimanan, kesalehan dan menyangkut nilai-nilai
Transendental. Seperti syirik (menduakan Allah), Nifak, fasik dan kufur, lemah
keyakinan dan tertutup alam gaib, semua itu akibat dari kedurhakaan dan
pengingkaran kepada Allah SWT.
Firman
Allah :
“sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni seseorang
yang berbuat syrik (menduakan) kepada-Nya,dan dia akan mengampuni selain dari
perbuatan syirik kepada siapa saja yang dia kehendaki.dan barang siapa
berbuat syirik kepada allah,maka benar-benar
ia telah berbuat dosa besar’’ .(An Nisaa;4:8)
Ayat di atas telah menerangkan
secara jelas tentang eksistensi orang-orang yang berbuat syirik atau
menyekutukan dia dengan sesuatu,sehingga mereka itu benar-benar telah rusak dan
sakit parah spiritualnya, bahkan Allah Ta’ala menyebutkan mereka sebagai
orang-orang yang:
a.
Tidak mendapat ampunan selama perbuatan
syirik itu belum ditinggalkan
b.
Keluar dari bimbingan dan hidayahnya
c.
Diharamkan surga dan dihalalkan neraka
baginya
d.
Terombang-ambing dalam kegelisahan,
kebimbangan, dan kegalauan hidup
Selain itu Nifak adalah penyakit
sepiritual yang juga sangat berbahaya, yaitu sifat yang mendua. Dalam hati ia
sangat menentang kebenaran Allah, tetapi lisannya melanjutkan kata-kata dan
kalimat kebaikan, kebenaran dan ketakwaan.
Rasulullah saw, menerangkan bahwa
tanda-tanda orang munafik ada tiga, pertama jika ia berkata ia berdusta, kedua
jika ia berjanji ia tidak menepatinya (ingkar) dan jika dipercaya ia berhianat.
Penyakit batiniyah atau spiritual
ini sangat sulit untuk disembuhkan atau diobati karena ia sangat tersembunyi
didalam diri setiap orang. Oleh karena itu tanpa ada pertolongan dan petunjuk
serta bimbingan dari Allah Ta’ala. Maka penyakit itu tidak akan pernah
disembuhkan dengan mudah.
Demikian pula penyakit batiniyah
seperti fasiq, yaitu sifat atau sikap menganggap enteng hukum-hukum dan hak-hak
Allah Ta’ala, suka menunda-nunda untuk melakukan suatu perbuatan kebenaran dan
kebaikan, menganggap enteng perkara-perkara yang berhubungan dengan akhlak dan
moral.
3. Moral
(akhlak) yaitu suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia yang daripadanya
lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah, tanpa melalui proses pemikiran,
pertimbangan atau penelitian atau sikap mental dan watak yang terjabarkan dalam
bentuk : berfikir, berbicara, bertingkah laku dan sebagainya. Moral, akhlak
atau tingkah laku merupakan ekspresi dari kondisi mental dan spiritual. Ia
muncul dan hadir secara spontan dan otomatis, dan tidak dapat dibuat-buat atau
direkayasa. Perbuatan dan tingkah laku kadang sering tidak disadari bahwa
perbuatannya menyimpang norma-norma agama Islam dan dapat membahayakan dirinya
dan orang lain. Seperti liar, pemarah, sembrono, dengki, dendam, suka mengambil
hak orang lain, berprasangka buruk, pemalas, dan mudah putus asa. Dalam ajaran
Islam perbuatan ini sangat tercela dan di murkai Allah dan Rasul-Nya.
4. Fisik
(jasmaniyah) tidak semua ganguan fisik dapat disembuhkan dengan psikoterapis
islam, kecuali memang ada izin dari Allah SWT.
C.
Metodologi
psikoterapi Islam
Sebagai suatu ilmu,psikoterapi
Islam harus mempunyai metode dan dengan metode itulah fungsi dan tujuan dari
esensi ilmu ini dapat tercapai dengan baik, benar dan ilmiahnya. Artinya ilmu
ini membawa manfaat bagi umat manusia, dan ia benar karena berasal dan berakar
dari kebenaran ilahiyah, serta ilmiah, karena dapat dengan mudah dipahami,
diaplikasikan dan dialami oleh siapa saja yang ingin mengambil manfaat dan
kebaikan dari ilmu ini.
Adapun metode-metode yang dipakai
oleh psikoterapi Islam adalah
1. Metode
ilmiah (Method of Science)
Metode ilmiah adalah metode yang
selalu dan sering diaplikasikan dalam dunia pengetahuan pada umumnya. Dan untuk
membuktikan suatu kebenaran dan hipotesa-hipotesa maka dibutuhkan penelitian
secara empiris dilapangan, dan untuk mencapai kesempurnaan, paling tidak
mendekati kesempurnaan untuk penelitian hipotesa itu, maka metode ini sangat
dibutuhkan dengan teknik-teknik seperti interview (wawancara), experiment,
observasi (pengamatan), test dan survey dilapangan.
2. Metode
keyakinan (Method of Tenacity)
Metode keyakinan adalah metode
berdasarkan suatu keyakinan yang kuat yang dimiliki oleh seorang peneliti.
Keyakinan itu dapat diraih melalui :
a.
Ilmul
yaqin, yaitu suatu keyakinan yang diperoleh berdasarkan
ilmu teoritis.
b.
‘ainul
yaqin, yaitu suatu keyakinan yang diperoleh melalui
pengamatan mata kepala secara langsung tanpa perantara.
c.
Haqul
yaqin, yaitu suatu keyakinan yang diperoleh melalui penghayatan
dan pengalamn (empiris), artinya sipeneliti sekaligus menjadi pelaku dalam
peristiwa dari penelitianya.
d.
Kamalul
yaqin, suatu keyakinan yang sempurna dan lengkap, karena
ia dibangun diatas keyakinan berdasarkan pengamatan dan penghayatan teoritis.
3.
Metode otoritas (Method of
outhority)
Metode otoritas adalah suatu metode
dengan menggunakan otoritas yang dimiliki oleh seorang peneliti / psikoterapi,
yaitu berdasarkan keahlian, kewibawaan dan pengaruh positif. Atas dasar itulah
seorang psikoterapis memiliki hak penuh untuk melakukan tindakan secara
bertangung jawabnya. Apabila seorang psikoterapis memiliki otoritas yang
tinggi, maka sangat membantu dalam mempercepat proses penyembuhan terhadap
suatu penyakit atau ganguan yang sedang diderita oleh seseorang.
4.
Metode intuisi atau ilham (method
of intuition )
Metode intuisi atau ilham adalah metode
berdasarkan ilham yang bersifat wahyu yang datangnya dari allag
Ta’ala.Metode ini sering dilakukan oleh para sufi dan orang-orang yang dekat
dengan allah Ta’ala dan mereka memiliki pandangan batin yang tajam (Bashirah
),serta tersingkapnya alam kegaiban (mukasysyafah).
Ada
satu metode lagi yang digunakan oleh para kaum sufi dalam mereka melakukan
proses pensucian diri dan evolusi spiritual. metode ini tidak hanya bertujuan
memberikan penyembuhan dan
perawatan,akan tetapi sampai kepada peningkatan kualitas dari esensi
manusia,yaitu penemuan jati diri dari citra diri yang mulia dan suci.
Metode Tasawwuf (method of Sufism ),adalah suatu metode peleburan diri
dari sifat-sifat,karakter-karakter dan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari
kehendak dan tuntunan ketuhanan.Metode ini dibagi tiga, yakni:
a.
Takhalli,
yaitu metode pengosongan diri dari bekasan pengingkaran (dosa) terhadap Allah
Ta’ala dengan jalan melakukan pertobatan yang sesungguhnya (nasuha).
b.
Tahalli,
yaitu
pengisian diri dengan ibadah dan ketaatan, aplikasi tauhid dan akhlak yang
terpuji dan mulia.
c.
Tajalli,
dalam
makna bahasa dapat berarti tampak, terbuka, menampakan atau menyatakan diri.[4]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Jadi dapat disimpulkan bahwa
psikoterapi adalah sebagai penyembuhan atau perawatan dan pengasuhan terhadap
seseorang yang didalam dirinya terdapat penyakit-penyakit mental, seperti
dengki, takabur, munafik, iri, mudah putus asa dan masih banyak lagi. Sehingga dengan adanya terapi penyakit
tersebut dapat dihilangkan dari diri seseorang,
dan berada dijalan Allah sesuai dengan kaidah-kaidah agama islam. Adapun
penggunaan-penggunaan dalam metodologi psikoterapi islam seperti :
1.
Metode ilmiah
2.
Metode keyakinan
3.
Metode otoritas
4.
Metode intuisi
B. Saran
Semoga makalah ini bermanfaat bagi
pembaca, penulis dan pendengar. Adapun kritik dan saran dari para pembaca yang
sifatnya membangun makalah ini, sangat penulis harapkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Graham,
Helen. (2003), Psikologi Humanistik. Yogyakarta: pustaka
pelajar.
Bakran
Adz-Dzky, Hamdani. (2004), Konseling dan
Psikoterapi Islam, Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.
Gunarsa,
Singgih D. (2003), Konseling dan Terapi, Jakarta:
PT BPK Gunung Mulia.
[1] HM. Hamdani Bakran Adz-Dzaky, Konseling dan Psikoterapi Islam, Yogyakarta:
Fajar Pustaka Baru, 2004, hlm. 225-236
[2] Prof.
Dr. Singgih D. Gunarsa, Konseling dan
Terapi, Jakarta: PT BPK Gunung
Mulia, 2003, hlm. 154
[3] Helen Graham, Psikologi
Humanistik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003, hlm. 77.
[4] HM. Hamdani Bakran Adz-Dzaky, Konseling
dan Psikoterapi Islam, Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2004, hlm.
237-270.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar