ya

Kamis, 30 Oktober 2014

KELOMPOK 11 ( DOA MENGOBATI KESUSAHAN PENDERITAAN DAN KESEDIHAN )



TUGAS KELOMPOK                                                           DOSEN PEMBIMBING
Psikoterapi Islam                                                                   M. Fahli Zatra Hadi, M. Pd

                                                    

DOA-DOA PENCEGAHAN PERLINDUNGAN
DAN PENGOBATAN JIWA




DISUSUN OLEH:

                                                     KELOMPOK II
                                                  ENDRA SULAIMAN
                                                     RITA APRILIA



JURUSAN BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIMRIAU
PEKANBARU 2014/2015


                                                                



i
 
 
KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan kesehatan kepada Penulis sehingga Penulis dapat menyelesaikan Makalah  mengenai Doa-Doa Pencegahan Perlindungan dan Pengobatan Jiwa. Tidak lupa pula Penulis ucapkan terima kasih atas bimbingan yang telah diberikan oleh Dosen Pembimbing Bapak M. Fahli Zatra Hadi, M. Pd sehingga Penulis dapat  menyelesaikan Makalah ini.
            Meskipun telah berusaha dengan segenap kemampuan, namun Penulis menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena Penulis masih dalam tahap Perkuliahan. Olehsebabitu, dengankerendahanhatiPenulismengharapkankritikdan saran yang positifgunapenyempurnaanMakalahini.
            SemogaMakalahinidapatmemberikanmanfaatdandapatdijadikansebagaisumberinformasibagipembaca.Atas kritik dan saran yang positif dari pembaca, Penulis ucapkan terima kasih.



Pekanbaru, September 2014


Penulis









BAB I
PENDAHULUAN

A.    LatarBelakang
Islam adalah agama yang kaya. Khazanahnya mencakup segenap aspek kehidupan manusia, termasuk diantaranya masalah kesehatan dan pengobatan. Ilmu pengobatan Islam sebenarnya tidak kalah dengan ilmu pengobatan Barat. Contohnya, Ibnu Sina seorang muslim yang menjadi pionir ilmu kedokteran modern. Ilmu pengobatan Islam bertumpu pada cara-cara alami dan metode ilahiah, yag sebenarnya sangat bermanfaat bagi seorang muslim dalam menjaga kesehatan dan mengobati penyakitnya.
Sebagai khalifah di muka bumi, manusia dibekali akal oleh Allah SWT. di samping sebagai insting yang mendorong manusia untuk mencari segala sesuatu yang dibutuhkan untuk melestarikan hidupnya seperti makan, minum dan tempat berlindung. Dalam mencari hal-hal tersebut, manusia akan mendapat pengalaman yang baik dan yang kurang baik maupun yang membahayakan. Maka akallah yang mengolah, meningkatkan serta mengembangkan pengalaman tersebut untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
Karena itu, manusia selalu dalam proses mencari dan menyempurnakan hingga selalu progresif. Berbeda dengan binatang yang hanya dibekali insting saja, hingga hidup mereka sudah terarah dan bersifat statis. Akal lah yang membentuk serta membina kebudayaan manusia dalam berbagai aspek kehidupannya.

B.     Tujuan
Tujuandaripembuatanmakalahiniuntukmengetahuidanmemahamitentangdoa-doa pencegahan perlindungan dan pengobatan jiwa.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Mengobati Kesusahan Penderitaan dan Kesedihan
1.      Orang Sakit Doa dan Pengobatan
Saat ini pengobatan terhadap ornag sakit (pasien) harus dilakukan secara holistik dengan meliputi empat aspek pengobatan, yaitu: Bio-Psiko-Sosi-Religius.Dalam aspek religius dikembangkan metode Psikoterapi Religius, denan tujuan menggali kekuatan batin (mental dan jiwa) pasien dengan tidak bermaksud mengubah keimanannya untuk membantu proses kesembuhan pasien.
Dalam Islam dikenal pengobatan al-Thib al-Rahmany atau psikoterapi Islam yang melakukan interventasi terhadap suasana kebatinan pasien dengan menggunakan metode dan pendekatan: mah, dzikir, doa, shalat, puasa, mandi taubat (hydro terapi) dan lain-lain.
Doa adalah salah satu metode psikoterapi Islam. Seperti halnya metode-metode yang lain, dalam penerapannya doa haris memiliki langkah-langkah sistematis dan kode etik dalam berdoa terhadap pasien.
Karena itu bagi orang-orang yang memberi pelayanan terapi seperti, perawatan rohani Islam (Warois) dirumah sakit harus memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam mekanisme pelayanan doa bagi orang yang sakit meliputi: pertama, dasar-dasar pengetahuan mrngenai orang sakit, jenis-jenis penyakit, hal-hal yang mempengaruhi prilaku orang sakit berdasarkan kondisi dan karakter nafsnya, tahapan orang sakit, teori interventasi dan doa, batas peran Warois. Kedua, mekanisme pelayanan doa yang meliputi: dasar-dasar pengetahuan tentang doa, pengertian, dasar hukum, dasar berdoa dena cara-cara tertentu, mekanisme dan tata cara pelayanan doa dengan pihak rumah sakit dan dengan pasien. Ketiga, contoh tuntunan doa bagi Warios.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgm3xdjFadpqFZuMqPPAaF7_8EzSSCxDk439UCUMWRVOUS6bP1R1cDjcC6AQLse-4R-XjU8NEYzhRaH-A1L5A3rreUP49OxeeKyCqJgOApwLpy8REdwFdDqQvD2-t4z_7uES-1dFQ80yoNz/s320/penyakit.JPG
Artinya :“Dengannama Allah. Sayalindungkanengkaudansetiapsesuatu yang men yakitkanengkaudankejaha tan setiapjiwaataupandanganmata yang dengki. Allah akanmenyembuhkanengkau. Dengannama Allah akulindungkanengkau“.
Jika kita merasa susah dan sedih, Nabi menganjurkan membaca doa:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
Laa ilaha ilallaahul ’azhiimul haliimu laa ilaaha ilallahu rabuul ’arsyil ’azhiim, laa ilaaha ilallaahu rabbussamaa waati wa rabbul ardhi wa rabbal arsyil kariim
“Tiada tuhan melinkan Allah Yang Maha Besar lagi Maha penyantun. Tiada tuhan melainkan Allah Pengatur ‘Arsy Besar. Tiada tuhan melainkan Allah Pengatur langit, Pengatur bumi dan Pengatur ‘Arasy mulia.” (H.R. Bukhari-Muslim)

2.        Dasar-dasar Pengetahuan Seputar Orang Sakit
Menurut  Ibnu Qoyyim, penyakit ada dua yaitu, penyakit fisik (‘adhuwl’yyah) dan penyakit non-fisik. Penyakit non-fisik terbagi kepada, penyakit mental (ruhani) dan penyakit gangguan kejiwaan (nafsani). Masing-masing penyakit dapat saling mempengaruhi, karena itu dikenal dengan penyakit psikosomatis dan somapsikotis.
3.      Aspek-aspek yang Mempengaruhi Perilaku Orang Sakit
Ada empat hal yang dapat mempengaruhi perilaku orang sakit, yaitu aspek bio-psiko-sosio-religius. Aspek psikologis (nafs-jiwa) pasien adalah salah satu sasaran dari penerapan psikoterapi Islam melalui intervensi doa. Ada tujuh nafs yang diketahui, yaitu: nafs ammarah, nafs lawwamah, nafs sawiyah, nafs mitha’innah, naf radhiyah, nafs mardhiyah dan nafs kamilah. Masing-masing nafs memiliki karakter  yang dapat berpengaruh pada perilaku orang sakit dan masing-masing nafs selain memiliki potensi, juga dapat berpenyakit (QS. Al-Anbiya’ [21]:35).
Yang Artinya:   Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kami akan menguji kamu dengan  keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan Hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.
Beberapa contoh perilaku orang sakit yang dipengaruhi kondisi nafsnya:
a)        Menolak, denial
b)        Marah, anger
c)        Malas
d)       Irrasional
e)        Frustasi
f)         Depresi
Solusi sederhana guna mrngatasi persoalan di atas adalah usaha, kerabat dan menerima.
4.      Tahapan Orang Sakit
Terdapat beberapa tahapan bagaimana orang mengalami sakit, antara lain:
a)      Ada gejala (syimtornatis)
b)      Dinyatakan sebagai orang sakit
c)      Mencari pengobatan
d)     Ketergantungan pada pengobatan
e)      Pengobatan (rehabilitasi)
Pada tahapan ketiga pasien yang menderita sakit (parah) berlaku logika: apa saja, siapa saja dan berapa sajayang penting sembuh. Dan pada tahap keempat pasien  biasanya menyerahkan seluruh kendali dirinya pada ynag mengobati.


5.      Teori Intervensi dan Doa
Intervensi adalah proses mempengaruhi kondisi batin (mental dan kejiwaan) serta kepribadian pasien sehingga dapat terjadi perubahan. Doa berperan sebagi alat intervensi terhadap kondisi mental dan kejiwaan pasien untuk membantu proses penyembuhan bersama-sama terapi lainnya.
Dilapangan kemungkinan terdapat orang yang tidak percaya terhadap doa atau tidak mau menggunakan doa berbagai alasan apakah secara teologis, sosiologis atau medis. Hal ini bisa terjadi dari pasien atau keluarga pasien.
Bagi yang tidak mau menggunakan doa sebagai alat intervensi sebaiknya jangan hanya melarang, tetapi harus dapat atau diminta untuk memberi dan mencari solusi jenis intervensi dalam psikoterapi Islam sebagai alat intervensi selain dengan doa.
Kecuali jika pasien sendiri ynag menolak harus diteluduri dulu sebab-sebab penolakan. Terhadap pasien seperti ini mungkin intervensi hanya dilakukan dengan nasehat keagamaan dan komukasi yang berbobo terapeutik meski tidak menyentuh substansi metode psikoterapi.
B.     Merasa Takut, Sulit Tidur dan Sulit Berfikir atau Banyak Berfikir
Imam Ali ibn Abi Thalib mengatkan, “Aku benar-benar heran melihat orang takabur, pada hal ia sebenarnya rapuh. Ia bisa mati karena mengkelan, busuk karena keringat, dan tidak bisa tidur karena kutu busuk”.  Jika ia mengkel, makananya tersendat ditenggorokan, ia bisa mat karena tidak diselamatkan Allah. Jika keringatan dan tidak mandi, baunya apek. Dan ia tidak bisa tidur jika digigit kutu busuk. Jika keadaanya seperti ini, bagaimana akan sombong ? pada awalnya, ia bukan apa-apa, pada akhirnya ia juga bukan apa-apa. Apa yang bisa disombongkan ?
Hanya ada satu resep untuk mengobati penyakit ini, yaitu tawaduk (merendah). Dan ini bisa dicapai dengan selalu mengingat bahwa dirinya bukan apa-apa. Apa yng bisa disombongkan ? harta, pangkat, kedudukan, atau kehormatan ? atau berasal dari kalangan bangsawan ? semua ini omong kosong! Ulama mengatakan bahwa orang yang sombong karena urusan dunia itu  sebenarnya dungu. Karena, ia telah menyombongkan diri dengan anadikata bernilai, niscaya tidak akan diberikan Allah. Kitalah yang akan kembali kepada-Nya, bukan dunia.
Sangat bodoh kalau ada yang beranggapan bahwa kehormatan, pangkat, dan kebagiaan seseorang diukur dengan duduk atau berdirinya ornag lain saat ia datang. Atau diukur apakah orang itu dimuliakan atau tidak ? bagi seorang mukmin, hal ini sangat tidak layak. Karena, orang mukmin hanya mulia di sisi Allah. Apa gunanya diposisikan di atas manusia lain, pada hal di sisi Allah kita bukan apa-apa ? ini hanya akan membantu celah untuk terperosok ke dalam lubang penyakit yang selanjutnya setelah penyakit sombong, yaitu riya’ orang mukmin mesti mewaspadai ini.
Intinya, agar tawaduk dan tidak sombong, manusia harus selalu ingat bahwa kita tidak ada apa-apanya. Jika hendak menyombongkan diri dengan dunia, dunia bahkan lebih hina untuk disombongkan. Bahkan, manusia malu menjadi ahli dunia. Malu dan takut apabila Allah menguji kita dengan harta, pangkat, kedudukan, kekuasaan, bahkan status sosial. Takut ini akan Allah jadikan hujah untuk menyerang dan menjatuhkan dirinya kelak pada hari kiamat. Mestinya ia bersyukur atas segala nikmat yang ia terima, menelistik diri sendiri hingga yang paing dalam, dan meminta pertanggung jawaban diri apakah setiap nikmat sudah disalurkan sesuai yang diridhai Allah, sehingga kelak pada hari kiamat Allah tidak mempertanyakannya lagi.
Dunia adalah cobaan. Karena itu, saat generasi salaf berhadapan dengannya, mereka selalu mengatakan, “inilah dosa yang siksanya langsung, tanpa ditunda-tunda”. Jika dunia membelakangi mereka, dan mereka jatuh kedalam kefakiran, mereka bersukacita dan berkata, “selamat datang. Syair orang-orang saleh”.
Jika diberi nikmat, orang mestinya berpikir keras bagaimana menyalurkan nikmat itu dalam konteks ketaatan kepada Allah. Jika diberi kedudukan, ia seharusnya merenungkan apa zakat profesi ? zakat profesi adalah mengarahkan diri untuk memenuhi hak orang lain, menolong yang lemah, dan memenuhi kebutuhan orang yang memerlukan. Inilah zakat orang berpangkat dan berkedudukan. Bukan malah dijadikan kesempatan untuk menyombongkan diri. Ini bodoh dan tidak layak menjadi sifat orang mukmin. Terdapat dalam qs. Hud:47
Artinya: “Ya Tuhanku, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui hakikatnya. Dan sekiranya engkau tidak memberi ampunan serta tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Hud: 47).
Do’a ketika merasa takut :

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ، وَشَرِّ عِبَادِهِ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَأَنْ يَحْضُرُوْنِ
.
Artinya: “Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kemarahan dan siksaanNya, serta kejahatan hamba-hambaNya, dan dari godaan setan (bisikannya) serta jangan sampai mereka hadir (kepadaku).”


C.    Putus Asa 
1.      Berputus Asa dalam Melakukan Perintah Allah
Sering terdengar ungkapan dari orang-orang yang lemah keimanannya, bahwa kita tidak perlu bersusah-payah atau menyakitkan diri dalam memperbanyak ibadah, karena kita bukan Nabi, dan keimanan kita berbeda dengan beliau. Oleh karena itu, Allah tidak akan memberatkan hamba-Nya. Tidak mungkin kita dapat mengikuti ibadah-ibadah seperti beliau beribadah. Pada hal sudah jelas dalam Al-Quran dikatakan bahwasanya dalam diri Rasulullah ada keteladanan yang baik untuk meningkatkan ketakwaan kepada-Nya.
Kebanyakan orang-orang tidak mengenal kasih sayang Tuhan-Nya sehinnga sering mengeluh, “kami sudah banyak ibadah, shalat, puasa dan sebagainya, tetapi mengapa hidup kami tetap saja menderita dibandingkan dengan orang-orang yang tidak shalat, tidak ibadah, tetapi hidupnya berkecukupan, rumahnya bagus dan fasilitas kehidupannya seolah tidak pernah kurang dan sebagainya”.
Akhirnya bisikan-bisikan iblis dan syaitan yang selalu menggema di dalam dada mereka telah brhasil menggerogoti keimanannya dan akhirnya pula mereka tidak mau lagi beribadah bahkan mencontoh orang-orang yang mereka anggap senang dan bahagia tadi. Jika mereka mau untuk menyelidiki dan memperhatikan kehidupan mereka orang-orang yang secara lahiriyah tampak bahagia dan srba berkecukupan, maka akan memperoleh suatu kenyataan bahwa keluarga mereka tidak harmonis, anak-anak moralnya rusak akibat pergaulan yang terlepas dari bimbingannya, kegelisahan dan kegalauan tumbuh subur ditengah-tengah kehidupan mereka dan sebagainya.
Tanda-tanda putus asa mulai hadir dalam diri seseorang apabila mulai betrkurangnya semangat untuk beribadah, lalai dari mengingat-ingat rahmat dan kebesaran Allah, membuang waktu denga perbuatan dan kegiatan yang kurang bermanfaat, berprasangka buruk kepada Allah, selalu was-was dan munculnya sikap ragu-ragu setiap ingin melakukan suatu aktifitas dalam kehidupan sehari-hari.
2.      Putus Asa dalam Menjauhkan Diri dari Larangan-larangan Allah
Bukan suatu hal yang mudah seseorang dapat dengan mudah menjauhkan diri dari hal-hal yang dimurkai oleh Allah, kecuali adanya suatu perjuangan dan pengorbanan yang kokoh dan sejati. Apalagi di tengah-tengah gelombang perkembangan zaman, sains dan teknologi, semakin banyak orang-orang yang hadir di hadapan kehidupan dunia dengan permaianan dan kemegahannya selalu menggoda siapa saja yang keimanan dan ketauhidannya tidak siap pakai, dia akan hanyut dan akan terpedaya kedalam keindahannya yang sama. Seperti yang  dijelaskan dalam surah Al-baqarah:286, yang artinya:
Allah tidak membebani seseorang kecuali yang sesuai dengan kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya. Dan mereka berkata, Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami berbuat salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami tanggung jawab seperti telah Engkau telah bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami apa yang kami tidak kuat menanggungnya; dan maafkanlah kami, dan ampunilah kami serta kasihanilah kami, karena Engkau-lah Pelindung kami. Maka tolonglah kami terhadap kaum kafirin.”(Al Baqarah 286)
Akhirnya pada titik kelemahan dan kejenuhan menyentuh iman seseorang, saat itulah bisikan-bisikan yang mengandung sangkaan-sangkaan buruk timbul dan mendesah-desah didalam dada, seperti:
v  Timbulnya anggapan negatif karena terlalu mengikuti perintah Allah agar menjauhkan diri dari hal-hal yang dibencinya, justru akan membuat hidup terasa terkekang dan ketinggalan zaman
v  Timbulnya anggapan bahwa ajaran Islam hanya mengekang kreatifitas manusia dalam mengembangkan bakat dan potensinya.
v  Timbulnya anggapan bahwa seseorang hanya dapat menjauhkan diri dari larangan-larangan Allah, apabila telah memperoleh harta benda yang berlimpah atau apabila telah menjelang usia senia antara 50-60 tahun dan sebaginya
v  Timbulnya anggapan bahwa seseorang dgapat menjalankan perintah dari menjauhi larangannya semata-mata karena bakat dan kehendakanya, sehingga apabila seseorang merasa tidak berbakat tidak perlu memaksakan diri untuk itu
v  Timbulnya anggapan bahwa zaman sekarang ini sangat sulit untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangannya, karena halangannya terlau berat. Oleh karena itu, pasrah saja dan terserah kepada Allah
3.      Berputus Asa dalam Menerima Ujian-ujin Allah
Keputusasaan pada tingkat inilah merupakan keputusasaan yang paling berbahaya, karena kan membawa dampak yang besar. Karena tidak tahan ujian hidup, seseorang rela meninggalkan ketaatan menjalankan perintahnya dan ketaatan menjauhakna duri dari segala larangannya. Seperti, telah enggan mengerjakan shalat, puasa, zakat, dzikir dan sebagianya, bahkan mencari-cari solusi disarankan oleh syetan dan iblis, yaitu pergi ke tempat-tempat hiburan untuk melampiaskan keputusasaannya dengan bermain-main bersama wanita-wanita penghibur, minuman khamar bahkan obat-obat yang terlarang seprti narkoba dan sebagainya.sebagai mana dalam firman allah yang
Artinya: IaBerkata "YaTuhanku, SesungguhnyatulangkuTelahlemahdankepalakuTelahditumbuhiuban, danAkubelumpernahkecewadalamberdoakepadaEngkau, YaTuhanku.


“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang engkau jadikan mudah. Dan apabila engkau berkehendak, engkau akan menjadikan kesusahan menjadi kemudahan”. (HR. Ibnu Hibban dalam SHAHIHIHNYA no. 2427, Ibnu Sunni dalam Amal al-Yaum wa al-Lilah no.351, Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashfahan: 2/305, Imam Al-Ashbahani dalam al-Targhib: 1/131)

“Dari Anas bin Malik: aku malayani Rasulullah saw. saat beliau singgah dan aku selalu mendengar beliau banyak berdoa: “Allahumma inni A’uudzu bika minal ‘ajzi wal kasali wal bukhli wal jubni wa dhal’i ad-daini wa ghalabatir rijaal” (Ya Allah aku berlindung kepada-mu dari sifat (gelisah), sedih, lemah, malas, kikir, pengecut, terlilit hutang dan dari kekuasaan”. (HR. Bukhari)
Keterangan Hadist:
Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita untuk berlindung kepada Allah dari delapan perkara, setiap dua perkara saling bedekatan maknanya, sebaimana yang telah dusebutkan oleh Ibnu Qoyyim didalam bukunya “Badai al-Fawaid: 2/433”.








BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Doa adalah salah satu metode psikoterapi Islam. Seperti halnya metode-metode yang lain, dalam penerapannya doa harus memiliki langkah-langkah kode etik dan sistematis dan kode etik dalam berdoa terhadap pasien.
Karena itu, bagi orang-orang yang memberi pelayanan terapi seperti, perawat rohani Islam (Warois) dirumah sakit harus memiliki Satandar Operasinal Prosedur (SOP) dalam  mekanisme pelayanan doa bagi orang sakit yang meliputi: pertama, dasar-dasar pengetahuan mrngenai orang sakit, jenis-jenis penyakit, hal-hal yang mempengaruhi prilaku orang sakit berdasarkan kondisi dan karakter nafsnya, tahapan orang sakit, teori interventasi dan doa, batas peran Warois. Kedua, mekanisme pelayanan doa yang meliputi: dasar-dasar pengetahuan tentang doa, pengertian, dasar hukum, dasar berdoa dena cara-cara tertentu, mekanisme dan tata cara pelayanan doa dengan pihak rumah sakit dan dengan pasien. Ketiga, contoh tuntunan doa bagi Warios.

B.     Kritikdan Saran
Adapunkritikdan saran daripembaca yang sifatnyamembangundanmemperbaikisangat kami harapkan agar kami dapatmenulisdenganlebihbaiklagi.









DAFTAR PUSTAKA

Bakran Adz-Dzaky, Hamdani. 2004. Konseling dan Psikoterapi Islam, Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.
Zainal Arifin, Isep. 2009. Bimbingan Penyuluhan Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Ali Al-Jufri, Habib. 2012. Terapi Rohani Untuk Semua Zaman, Jakarta:




 

 


ii
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar