TUGAS KELOMPOK DOSEN PEMBIMBING
Psikoterapi Islam M.
Fahli Zatra Hadi, M. Pd
DOA-DOA PENCEGAHAN PERLINDUNGAN
DAN PENGOBATAN JIWA
DISUSUN
OLEH:
KELOMPOK II
ENDRA
SULAIMAN
RITA
APRILIA
JURUSAN BIMBINGAN
PENYULUHAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN
ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI SULTAN SYARIF KASIMRIAU
PEKANBARU 2014/2015
|
|
|
KATA PENGANTAR
Puji syukur Penulis
ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan
kesehatan kepada Penulis sehingga Penulis dapat menyelesaikan Makalah mengenai Doa-Doa Pencegahan Perlindungan dan Pengobatan Jiwa. Tidak lupa pula Penulis
ucapkan terima kasih atas bimbingan yang telah diberikan oleh Dosen Pembimbing
Bapak M. Fahli Zatra Hadi, M. Pd sehingga Penulis
dapat menyelesaikan Makalah ini.
Meskipun
telah berusaha dengan segenap kemampuan, namun Penulis menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan karena Penulis masih dalam tahap Perkuliahan. Olehsebabitu,
dengankerendahanhatiPenulismengharapkankritikdan saran yang positifgunapenyempurnaanMakalahini.
SemogaMakalahinidapatmemberikanmanfaatdandapatdijadikansebagaisumberinformasibagipembaca.Atas kritik dan saran
yang positif dari pembaca, Penulis ucapkan terima kasih.
Pekanbaru, September 2014
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LatarBelakang
Islam adalah agama yang kaya. Khazanahnya mencakup
segenap aspek kehidupan manusia, termasuk diantaranya masalah kesehatan dan
pengobatan. Ilmu pengobatan Islam sebenarnya tidak kalah dengan ilmu pengobatan
Barat. Contohnya, Ibnu Sina seorang muslim yang menjadi pionir ilmu kedokteran
modern. Ilmu pengobatan Islam bertumpu pada cara-cara alami dan metode ilahiah,
yag sebenarnya sangat bermanfaat bagi seorang muslim dalam menjaga kesehatan
dan mengobati penyakitnya.
Sebagai khalifah di muka bumi, manusia dibekali
akal oleh Allah SWT. di samping sebagai insting yang mendorong manusia untuk
mencari segala sesuatu yang dibutuhkan untuk melestarikan hidupnya seperti
makan, minum dan tempat berlindung. Dalam mencari hal-hal tersebut, manusia
akan mendapat pengalaman yang baik dan yang kurang baik maupun yang
membahayakan. Maka akallah yang mengolah, meningkatkan serta mengembangkan
pengalaman tersebut untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
Karena itu, manusia selalu dalam proses mencari
dan menyempurnakan hingga selalu progresif. Berbeda dengan binatang yang hanya
dibekali insting saja, hingga hidup mereka sudah terarah dan bersifat statis.
Akal lah yang membentuk serta membina kebudayaan manusia dalam berbagai aspek
kehidupannya.
B.
Tujuan
Tujuandaripembuatanmakalahiniuntukmengetahuidanmemahamitentangdoa-doa pencegahan
perlindungan dan pengobatan jiwa.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Mengobati Kesusahan Penderitaan dan Kesedihan
1.
Orang Sakit Doa dan
Pengobatan
Saat ini pengobatan terhadap ornag sakit (pasien) harus
dilakukan secara holistik dengan meliputi empat aspek pengobatan, yaitu: Bio-Psiko-Sosi-Religius.Dalam aspek
religius dikembangkan metode Psikoterapi
Religius, denan tujuan menggali kekuatan batin (mental dan jiwa) pasien
dengan tidak bermaksud mengubah keimanannya untuk membantu proses kesembuhan
pasien.
Dalam Islam dikenal pengobatan al-Thib al-Rahmany atau psikoterapi Islam yang melakukan
interventasi terhadap suasana kebatinan pasien dengan menggunakan metode dan
pendekatan: mah, dzikir, doa, shalat,
puasa, mandi taubat (hydro terapi) dan lain-lain.
Doa adalah salah satu metode psikoterapi Islam. Seperti
halnya metode-metode yang lain, dalam penerapannya doa haris memiliki
langkah-langkah sistematis dan kode etik dalam berdoa terhadap pasien.
Karena itu bagi orang-orang yang memberi pelayanan terapi
seperti, perawatan rohani Islam (Warois) dirumah sakit harus memiliki Standar
Operasional Prosedur (SOP) dalam mekanisme pelayanan doa bagi orang yang sakit
meliputi: pertama, dasar-dasar
pengetahuan mrngenai orang sakit, jenis-jenis penyakit, hal-hal yang
mempengaruhi prilaku orang sakit berdasarkan kondisi dan karakter nafsnya,
tahapan orang sakit, teori interventasi dan doa, batas peran Warois. Kedua, mekanisme pelayanan doa yang
meliputi: dasar-dasar pengetahuan tentang doa, pengertian, dasar hukum, dasar
berdoa dena cara-cara tertentu, mekanisme dan tata cara pelayanan doa dengan
pihak rumah sakit dan dengan pasien.
Ketiga, contoh tuntunan doa bagi Warios.
Artinya :“Dengannama Allah.
Sayalindungkanengkaudansetiapsesuatu yang men yakitkanengkaudankejaha tan setiapjiwaataupandanganmata
yang dengki. Allah akanmenyembuhkanengkau. Dengannama Allah akulindungkanengkau“.
Jika kita merasa susah dan sedih, Nabi menganjurkan membaca doa:لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
Laa ilaha ilallaahul ’azhiimul haliimu laa ilaaha ilallahu rabuul
’arsyil ’azhiim, laa ilaaha ilallaahu rabbussamaa waati wa rabbul ardhi wa rabbal
arsyil kariim
“Tiada tuhan melinkan Allah Yang Maha Besar lagi Maha penyantun. Tiada tuhan
melainkan Allah Pengatur ‘Arsy Besar. Tiada tuhan melainkan Allah Pengatur
langit, Pengatur bumi dan Pengatur ‘Arasy mulia.” (H.R. Bukhari-Muslim)
2.
Dasar-dasar Pengetahuan
Seputar Orang Sakit
Menurut Ibnu Qoyyim, penyakit ada dua yaitu, penyakit
fisik (‘adhuwl’yyah) dan penyakit
non-fisik. Penyakit non-fisik terbagi kepada, penyakit mental (ruhani) dan penyakit gangguan kejiwaan
(nafsani). Masing-masing penyakit
dapat saling mempengaruhi, karena itu dikenal dengan penyakit psikosomatis dan
somapsikotis.
3.
Aspek-aspek yang
Mempengaruhi Perilaku Orang Sakit
Ada empat hal yang dapat
mempengaruhi perilaku orang sakit, yaitu aspek bio-psiko-sosio-religius. Aspek
psikologis (nafs-jiwa) pasien adalah salah satu sasaran dari penerapan
psikoterapi Islam melalui intervensi doa. Ada tujuh nafs yang diketahui, yaitu:
nafs ammarah, nafs lawwamah, nafs
sawiyah, nafs mitha’innah, naf radhiyah, nafs mardhiyah dan nafs kamilah. Masing-masing nafs
memiliki karakter yang dapat berpengaruh
pada perilaku orang sakit dan masing-masing nafs selain memiliki potensi, juga
dapat berpenyakit (QS. Al-Anbiya’ [21]:35).
Yang Artinya: Tiap-tiap yang
berjiwa akan merasakan mati. kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang
sebenar-benarnya). dan Hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.
Beberapa contoh perilaku
orang sakit yang dipengaruhi kondisi nafsnya:
a)
Menolak,
denial
b)
Marah, anger
c)
Malas
d)
Irrasional
e)
Frustasi
f)
Depresi
Solusi sederhana guna mrngatasi persoalan di atas adalah
usaha, kerabat dan menerima.
4. Tahapan Orang Sakit
Terdapat beberapa tahapan
bagaimana orang mengalami sakit, antara lain:
a)
Ada gejala (syimtornatis)
b)
Dinyatakan sebagai orang sakit
c)
Mencari pengobatan
d)
Ketergantungan pada pengobatan
e)
Pengobatan (rehabilitasi)
Pada tahapan ketiga pasien yang menderita sakit (parah)
berlaku logika: apa saja, siapa saja dan
berapa sajayang penting sembuh. Dan pada tahap keempat pasien biasanya menyerahkan seluruh kendali dirinya
pada ynag mengobati.
5. Teori Intervensi dan Doa
Intervensi adalah proses mempengaruhi kondisi batin
(mental dan kejiwaan) serta kepribadian pasien sehingga dapat terjadi
perubahan. Doa berperan sebagi alat intervensi terhadap kondisi mental dan
kejiwaan pasien untuk membantu proses penyembuhan bersama-sama terapi lainnya.
Dilapangan kemungkinan terdapat orang yang tidak percaya
terhadap doa atau tidak mau menggunakan doa berbagai alasan apakah secara
teologis, sosiologis atau medis. Hal ini bisa terjadi dari pasien atau keluarga
pasien.
Bagi yang tidak mau menggunakan doa sebagai alat
intervensi sebaiknya jangan hanya melarang, tetapi harus dapat atau diminta
untuk memberi dan mencari solusi jenis intervensi dalam psikoterapi Islam
sebagai alat intervensi selain dengan doa.
Kecuali jika pasien sendiri ynag menolak harus diteluduri
dulu sebab-sebab penolakan. Terhadap pasien seperti ini mungkin intervensi
hanya dilakukan dengan nasehat keagamaan dan komukasi yang berbobo terapeutik
meski tidak menyentuh substansi metode psikoterapi.
B. Merasa Takut, Sulit Tidur dan Sulit Berfikir atau
Banyak Berfikir
Imam Ali ibn Abi Thalib
mengatkan, “Aku benar-benar heran melihat orang takabur, pada hal ia sebenarnya
rapuh. Ia bisa mati karena mengkelan, busuk karena keringat, dan tidak bisa
tidur karena kutu busuk”. Jika ia
mengkel, makananya tersendat ditenggorokan, ia bisa mat karena tidak
diselamatkan Allah. Jika keringatan dan tidak mandi, baunya apek. Dan ia tidak
bisa tidur jika digigit kutu busuk. Jika keadaanya seperti ini, bagaimana akan
sombong ? pada awalnya, ia bukan apa-apa, pada akhirnya ia juga bukan apa-apa.
Apa yang bisa disombongkan ?
Hanya ada satu resep
untuk mengobati penyakit ini, yaitu tawaduk (merendah). Dan ini bisa dicapai
dengan selalu mengingat bahwa dirinya bukan apa-apa. Apa yng bisa disombongkan
? harta, pangkat, kedudukan, atau kehormatan ? atau berasal dari kalangan
bangsawan ? semua ini omong kosong! Ulama mengatakan bahwa orang yang sombong
karena urusan dunia itu sebenarnya
dungu. Karena, ia telah menyombongkan diri dengan anadikata bernilai, niscaya
tidak akan diberikan Allah. Kitalah yang akan kembali kepada-Nya, bukan dunia.
Sangat bodoh kalau ada
yang beranggapan bahwa kehormatan, pangkat, dan kebagiaan seseorang diukur
dengan duduk atau berdirinya ornag lain saat ia datang. Atau diukur apakah
orang itu dimuliakan atau tidak ? bagi seorang mukmin, hal ini sangat tidak
layak. Karena, orang mukmin hanya mulia di sisi Allah. Apa gunanya diposisikan
di atas manusia lain, pada hal di sisi Allah kita bukan apa-apa ? ini hanya
akan membantu celah untuk terperosok ke dalam lubang penyakit yang selanjutnya
setelah penyakit sombong, yaitu riya’ orang mukmin mesti mewaspadai ini.
Intinya, agar tawaduk dan
tidak sombong, manusia harus selalu ingat bahwa kita tidak ada apa-apanya. Jika
hendak menyombongkan diri dengan dunia, dunia bahkan lebih hina untuk
disombongkan. Bahkan, manusia malu menjadi ahli dunia. Malu dan takut apabila Allah
menguji kita dengan harta, pangkat, kedudukan, kekuasaan, bahkan status sosial.
Takut ini akan Allah jadikan hujah untuk menyerang dan menjatuhkan dirinya
kelak pada hari kiamat. Mestinya ia bersyukur atas segala nikmat yang ia
terima, menelistik diri sendiri hingga yang paing dalam, dan meminta
pertanggung jawaban diri apakah setiap nikmat sudah disalurkan sesuai yang
diridhai Allah, sehingga kelak pada hari kiamat Allah tidak mempertanyakannya
lagi.
Dunia adalah cobaan.
Karena itu, saat generasi salaf berhadapan dengannya, mereka selalu mengatakan,
“inilah dosa yang siksanya langsung, tanpa ditunda-tunda”. Jika dunia
membelakangi mereka, dan mereka jatuh kedalam kefakiran, mereka bersukacita dan
berkata, “selamat datang. Syair orang-orang saleh”.
Jika diberi nikmat, orang
mestinya berpikir keras bagaimana menyalurkan nikmat itu dalam konteks ketaatan
kepada Allah. Jika diberi kedudukan, ia seharusnya merenungkan apa zakat
profesi ? zakat profesi adalah mengarahkan diri untuk memenuhi hak orang lain,
menolong yang lemah, dan memenuhi kebutuhan orang yang memerlukan. Inilah zakat
orang berpangkat dan berkedudukan. Bukan malah dijadikan kesempatan untuk
menyombongkan diri. Ini bodoh dan tidak layak menjadi sifat orang mukmin. Terdapat dalam qs. Hud:47
Artinya: “Ya Tuhanku, sungguh aku berlindung kepada-Mu
dari memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui hakikatnya. Dan sekiranya engkau
tidak memberi ampunan serta tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku
akan termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Hud: 47).
Do’a ketika merasa
takut :
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ، وَشَرِّ عِبَادِهِ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَأَنْ يَحْضُرُوْنِ.
Artinya: “Aku berlindung dengan
kalimat Allah yang sempurna dari kemarahan dan siksaanNya, serta kejahatan
hamba-hambaNya, dan dari godaan setan (bisikannya) serta jangan sampai mereka
hadir (kepadaku).”
C. Putus Asa
1.
Berputus Asa dalam
Melakukan Perintah Allah
Sering terdengar ungkapan dari orang-orang yang lemah
keimanannya, bahwa kita tidak perlu bersusah-payah atau menyakitkan diri dalam
memperbanyak ibadah, karena kita bukan Nabi, dan keimanan kita berbeda dengan
beliau. Oleh karena itu, Allah tidak akan memberatkan hamba-Nya. Tidak mungkin
kita dapat mengikuti ibadah-ibadah seperti beliau beribadah. Pada hal sudah
jelas dalam Al-Quran dikatakan bahwasanya dalam diri Rasulullah ada keteladanan
yang baik untuk meningkatkan ketakwaan kepada-Nya.
Kebanyakan orang-orang tidak mengenal kasih sayang
Tuhan-Nya sehinnga sering mengeluh, “kami sudah banyak ibadah, shalat, puasa
dan sebagainya, tetapi mengapa hidup kami tetap saja menderita dibandingkan
dengan orang-orang yang tidak shalat, tidak ibadah, tetapi hidupnya
berkecukupan, rumahnya bagus dan fasilitas kehidupannya seolah tidak pernah
kurang dan sebagainya”.
Akhirnya bisikan-bisikan iblis dan syaitan yang selalu
menggema di dalam dada mereka telah brhasil menggerogoti keimanannya dan
akhirnya pula mereka tidak mau lagi beribadah bahkan mencontoh orang-orang yang
mereka anggap senang dan bahagia tadi. Jika mereka mau untuk menyelidiki dan
memperhatikan kehidupan mereka orang-orang yang secara lahiriyah tampak bahagia
dan srba berkecukupan, maka akan memperoleh suatu kenyataan bahwa keluarga
mereka tidak harmonis, anak-anak moralnya rusak akibat pergaulan yang terlepas
dari bimbingannya, kegelisahan dan kegalauan tumbuh subur ditengah-tengah
kehidupan mereka dan sebagainya.
Tanda-tanda putus asa mulai hadir dalam diri seseorang
apabila mulai betrkurangnya semangat untuk beribadah, lalai dari
mengingat-ingat rahmat dan kebesaran Allah, membuang waktu denga perbuatan dan
kegiatan yang kurang bermanfaat, berprasangka buruk kepada Allah, selalu
was-was dan munculnya sikap ragu-ragu setiap ingin melakukan suatu aktifitas
dalam kehidupan sehari-hari.
2.
Putus Asa dalam
Menjauhkan Diri dari Larangan-larangan Allah
Bukan suatu hal yang mudah seseorang dapat dengan mudah
menjauhkan diri dari hal-hal yang dimurkai oleh Allah, kecuali adanya suatu
perjuangan dan pengorbanan yang kokoh dan sejati. Apalagi di tengah-tengah
gelombang perkembangan zaman, sains dan teknologi, semakin banyak orang-orang
yang hadir di hadapan kehidupan dunia dengan permaianan dan kemegahannya selalu
menggoda siapa saja yang keimanan dan ketauhidannya tidak siap pakai, dia akan
hanyut dan akan terpedaya kedalam keindahannya yang sama. Seperti yang
dijelaskan dalam surah Al-baqarah:286, yang artinya:
“Allah tidak
membebani seseorang kecuali yang sesuai dengan kemampuannya. Baginya ganjaran
untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang
diusahakannya. Dan mereka berkata, Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum
kami jika kami lupa atau kami berbuat salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
membebani kami tanggung jawab seperti telah Engkau telah bebankan atas
orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami apa
yang kami tidak kuat menanggungnya; dan maafkanlah kami, dan ampunilah kami
serta kasihanilah kami, karena Engkau-lah Pelindung kami. Maka tolonglah kami
terhadap kaum kafirin.”(Al Baqarah 286)
Akhirnya pada titik kelemahan dan kejenuhan menyentuh
iman seseorang, saat itulah bisikan-bisikan yang mengandung sangkaan-sangkaan
buruk timbul dan mendesah-desah didalam dada, seperti:
v
Timbulnya anggapan negatif karena terlalu
mengikuti perintah Allah agar menjauhkan diri dari hal-hal yang dibencinya,
justru akan membuat hidup terasa terkekang dan ketinggalan zaman
v
Timbulnya anggapan bahwa ajaran Islam hanya
mengekang kreatifitas manusia dalam mengembangkan bakat dan potensinya.
v
Timbulnya anggapan bahwa seseorang hanya dapat
menjauhkan diri dari larangan-larangan Allah, apabila telah memperoleh harta
benda yang berlimpah atau apabila telah menjelang usia senia antara 50-60 tahun
dan sebaginya
v
Timbulnya anggapan bahwa seseorang dgapat
menjalankan perintah dari menjauhi larangannya semata-mata karena bakat dan
kehendakanya, sehingga apabila seseorang merasa tidak berbakat tidak perlu
memaksakan diri untuk itu
v
Timbulnya anggapan bahwa zaman sekarang ini
sangat sulit untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangannya, karena
halangannya terlau berat. Oleh karena itu, pasrah saja dan terserah kepada
Allah
3.
Berputus Asa dalam
Menerima Ujian-ujin Allah
Keputusasaan pada tingkat inilah merupakan keputusasaan
yang paling berbahaya, karena kan membawa dampak yang besar. Karena tidak tahan
ujian hidup, seseorang rela meninggalkan ketaatan menjalankan perintahnya dan
ketaatan menjauhakna duri dari segala larangannya. Seperti, telah enggan
mengerjakan shalat, puasa, zakat, dzikir dan sebagianya, bahkan mencari-cari
solusi disarankan oleh syetan dan iblis, yaitu pergi ke tempat-tempat hiburan
untuk melampiaskan keputusasaannya dengan bermain-main bersama wanita-wanita
penghibur, minuman khamar bahkan obat-obat yang terlarang seprti narkoba dan
sebagainya.sebagai mana dalam
firman allah yang
Artinya:
IaBerkata "YaTuhanku,
SesungguhnyatulangkuTelahlemahdankepalakuTelahditumbuhiuban,
danAkubelumpernahkecewadalamberdoakepadaEngkau, YaTuhanku.
“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang engkau
jadikan mudah. Dan apabila engkau berkehendak, engkau
akan menjadikan kesusahan menjadi kemudahan”. (HR. Ibnu Hibban dalam
SHAHIHIHNYA no. 2427, Ibnu Sunni dalam Amal al-Yaum wa al-Lilah no.351, Abu
Nu’aim dalam Akhbar Ashfahan: 2/305, Imam Al-Ashbahani dalam al-Targhib: 1/131)
“Dari Anas bin Malik: aku malayani Rasulullah saw. saat
beliau singgah dan aku selalu mendengar beliau banyak berdoa: “Allahumma inni
A’uudzu bika minal ‘ajzi wal kasali wal bukhli wal jubni wa dhal’i ad-daini wa
ghalabatir rijaal” (Ya Allah aku berlindung kepada-mu dari sifat (gelisah),
sedih, lemah, malas, kikir, pengecut, terlilit hutang dan dari kekuasaan”. (HR.
Bukhari)
Keterangan Hadist:
Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita untuk berlindung
kepada Allah dari delapan perkara, setiap dua perkara saling bedekatan
maknanya, sebaimana yang telah dusebutkan oleh Ibnu Qoyyim didalam bukunya
“Badai al-Fawaid: 2/433”.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Doa
adalah salah satu metode psikoterapi Islam. Seperti halnya metode-metode yang
lain, dalam penerapannya doa harus memiliki langkah-langkah kode etik dan
sistematis dan kode etik dalam berdoa terhadap pasien.
Karena
itu, bagi orang-orang yang memberi pelayanan terapi seperti, perawat rohani
Islam (Warois) dirumah sakit harus memiliki Satandar Operasinal Prosedur (SOP)
dalam mekanisme pelayanan doa bagi orang
sakit yang meliputi: pertama, dasar-dasar pengetahuan
mrngenai orang sakit, jenis-jenis penyakit, hal-hal yang mempengaruhi prilaku
orang sakit berdasarkan kondisi dan karakter nafsnya, tahapan orang sakit,
teori interventasi dan doa, batas peran Warois. Kedua, mekanisme pelayanan doa yang meliputi: dasar-dasar
pengetahuan tentang doa, pengertian, dasar hukum, dasar berdoa dena cara-cara
tertentu, mekanisme dan tata cara pelayanan doa dengan pihak rumah sakit dan
dengan pasien. Ketiga, contoh
tuntunan doa bagi Warios.
B.
Kritikdan Saran
Adapunkritikdan saran daripembaca
yang sifatnyamembangundanmemperbaikisangat kami harapkan agar kami
dapatmenulisdenganlebihbaiklagi.
DAFTAR PUSTAKA
Bakran Adz-Dzaky, Hamdani. 2004.
Konseling dan Psikoterapi Islam, Yogyakarta:
Fajar Pustaka Baru.
Zainal Arifin, Isep. 2009. Bimbingan Penyuluhan Islam, Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.
Ali Al-Jufri, Habib. 2012. Terapi Rohani Untuk Semua Zaman, Jakarta:
|
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar