Tugas Kelompok Dosen Pembimbing
Psikoterapi Islam M.Fahli
Zatra Hadi, M.Pd
KESEMPURNAAN JIWA
DAN KECERDASAN ULUHIYAH
Kelompok IX
Desi Susianti
Herlina diah safitri
FAKULTAS DAKWAH
DAN ILMU KOMUNIKASI
JURUSAN BIMBINGAN
KONSELING ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI
SUSKA RIAU
BAB I
PENDAHULUAN
1.
LATAR BELAKANG
Kedekatan Allah SWT
terhadap hamba tidak dapat dirasakan, kecuali melalui kecerdasan uluhiyah atau ihsan.
Sehingga dengan itu ia akan selalu paham benar segala maksud, tujuan dan pesan-pesan-Nya.
Baik melalui ayat-ayat dalam alquran maupun ayat-ayat yang terhampar pada semuaperistiwa,
hal-ihwal dan aktifitaas dari segala yangtampak di dalam ruang dan waktu alamiyah
maupun ilahiyah. Keekatan dengan Allah ini pun akhrnya membuka pintu-pitu alam malaikat
dan dapat menghantarkan seorang memahami, mengenal secara lebih dekat bahkan bersahabat
dengan para malaikat-nya
2.
RUMUSAN MASALAH
a. Apa Yang Di Maksud Dengan Kesempurnaan Jiwa
b. Apa Yang Di Maksud Dengan Kecerdasan Uluhiyah
3.
Tujuan
a. Mengetahui Pengertian Kesempurnaan Jiwa
b. Mengetahui Pengertian Kecerdasan Uluhiyah
BAB II
PEMBAHASAN
INDIKASI
JIWA YANG SEHAT DALAM KONSEP ISLAM
1. KESEMPURNAAN JIWA
Apabila
seseorang hamba Allah telah
berhasil melakukan pendidikan dan pelatihan penyehatan,maka ia akan dapat
mencapai tingkat
kejiwaan muthmaiinnah. Jiwa
muthmaiinnah adalah jiwa yang senantiasa mengajak kembali kepada fitrah
ilahiyah tuhannya.
Firman Allah
SWT.
tûïÏ%©!$# !#sÎ) Nßg÷Fu;»|¹r& ×pt7ÅÁB (#þqä9$s% $¯RÎ) ¬! !$¯RÎ)ur Ïmøs9Î) tbqãèÅ_ºu ÇÊÎÏÈ
“ Orang-orang yang
apabila di timpa musibah,mereka akan mengucapkan’innalillahi wainnailaihi
raji’uun’’.
Jiwa
Radhyah adalah jiwa yang tulus,
bening
dan lapang dada terhadap
Allah SWT, terhadap
kebijaksanaan qudrat dan iradat-Nya. Jiwa inilah yang
mendorong diri bersikap lapang
dada, tawakkal, tulus ikhlas dan sabar dalam
mengaplikasikan seluruh
perintah-Nya menjauhi seluruh
larangan-Nya dan menerima dengan lapang dada segala ujian dan
coban yang dating dalam hidup dan kehidupannya.[1] Biasanya
dalam diri seseorang hamba yang hampir-hampir
ia tidak pernah mengeluh, merasa susah,
sedih dan takut dalam menjalani kehidupan ini.
Firman Allah
SWT:
Iwr& cÎ) uä!$uÏ9÷rr& «!$# w êöqyz óOÎgøn=tæ wur öNèd cqçRtøts ÇÏËÈ úïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qçR%2ur cqà)Gt ÇÏÌÈ ÞOßgs9 3tô±ç6ø9$# Îû Ío4quysø9$# $u÷R9$# Îûur ÍotÅzFy$# 4 w @Ïö7s? ÏM»uHÍ>x6Ï9 «!$# 4 Ï9ºs uqèd ãöqxÿø9$# ÞOÏàyèø9$# ÇÏÍÈ
“Ingatlah
sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak
ada kekhawatiranya terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Yaitu orang yang beriman
dan mereka selalu bertaqwa. Bagi
mereka berita gembira dalam kehidupanya
di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Dan
tidak ada perubahan
bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah
kemenangan yang besar. (yunus,10:62-64).
Sedangkan jiwa mardhyah adalah jiwa yang telah
memperoleh titel dan gelar kehormatan dari allah SWT. Dan gelar itu keimanan, keislaman, keihsanan dan
ketauhidannya
tidak akan pernah mengalami erosi,
dekadensi
dan distori. Akan
tetapi jiwa terus mendaki dan mi’raj ke hadirat Allah SWT. Dalam ruang dan waktu
yang tiada berwaktu dan
tiada beruang.
Jadi
kesempurnaan jiwa adalah menyatunya jiwa yang selalu ingin mahir kembali kepada
fitrah Tuhannya
dengan penuh kemampuan bersikap tulus dan lapang dada bersama kehormatan dan
titel ketuhanan yang memberikan otoritas penuh kepada jiwa untuk beruat, berkarya dan beribadah
di dalam ruang dan waktu tuhanya yang terlepas dari jangkauan makhluk.
Kesehatan jiwa harus dipenuhi syarat atau sejumlah
syarat-syarat, sehingga orang dapat menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri
dan dengan alam luar, sedemikian rupa, sehingga dapat dicapai kebahagiaan dan
kemampuan semaksimal mingkin oleh orang itu dan masyarakat di mana ia hidup.[2]
Sikap dan iktikad itu dapat eksis dalam diri seseorang
disebabkan karena keberadaan dirinya sangat dekat dengan keberadaan Tuhannya. Sehingga
kedekatan itu membuat seseorang dapat menyaksikan kebesaran dan kesucian-Nya
(ihsan), melalui bimbingan petunjuk-Nya dalam mimpi, ilham dan kasysyaf yang
benar dan tejaga. Dan tanpa kecerdasan uluhiyah, sangat sulit seseorang
melakukan interaksi vertical yang bersifat transendental, empiric dan hidup,
bukan spekulasi dan ilusi.
Firman Allah SWT.
#sÎ)ur y7s9r'y Ï$t6Ïã ÓÍh_tã ÎoTÎ*sù ë=Ìs% ( Ü=Å_é& nouqôãy Æí#¤$!$# #sÎ) Èb$tãy ( (#qç6ÉftGó¡uù=sù Í< (#qãZÏB÷sãø9ur Î1 öNßg¯=yès9 crßä©öt ÇÊÑÏÈ
“Dan apabila hamba-hamba-ku
bertanya kepadamu tentang Aku,maka
sesungguhnya aku adalah dekat...”.(Al-baqarah,2:186)
Kedekatan
Allah SWT terhadap
hamba tidak dapat dirasakan,
kecuali
melalui kecerdasan uluhiyah atau ihsan.
Sehingga dengan
itu ia akan selalu paham benar segala
maksud, tujuan
dan pesan-pesan-Nya. Baik
melalui ayat-ayat dalam alquran
maupun ayat-ayat yang terhampar
pada semua peristiwa, hal-ihwal
dan aktifitas dari segala yang tampak
di dalam ruang dan waktu alamiyah maupun Ilahiyah. Kedekatan dengan Allah ini
pun akhirnya membuka pintu-pintu alam malaikat dan dapat menghantarkan
seseorang memahami, mengenal secara lebih dekat bahkan bersahabat dengan para
Malaikat-Nya.
Ibnu
Abi Dunya menyebutkan tentang suatu peristiwa
di mana dulu pernah ada salah seorang sahabat Rasulullah SAW dari golongan Anshar
yang lebih populer disebut Abu Muallaq RA,
beliau
adalah seorang pedagang yang sangat taat beribadah dan wara’. Suatu ketika dalam
perjalanan beliau dihadang oleh perampok
yang bersenjata. Perampok
itu berkata : “ letakan
apa saja yang engkau miliki karena aku akan membunuhmu!. Kemudian sahabat Nabi
SAW itu berkata: izinkan aku melakuakan shalat empat rakaat, sebelum engkau merampas
harta dan membunuhku”. Lalu
beliau mengambil wudhu dan shalat empat rakaat, dan beliau berdoa pada
sujud yang terakhir dari shalatnya.
$pkçJr'¯»t ß§øÿ¨Z9$# èp¨ZÍ´yJôÜßJø9$# ÇËÐÈûÓÉëÅ_ö$# ûÓÉëÅ_ö$# 4n<Î) Å7În/u ZpuÅÊ#u Zp¨ÅÊó£D ÇËÑÈ Í?ä{÷$$sù Îû Ï»t6Ïã ÇËÒÈ Í?ä{÷$#ur ÓÉL¨Zy_ ÇÌÉÈ
“Wahai jiwa yang
tenang kembalikanlah kepada Tuhanmu
dengan ridha dan diridhai. Masuklah
kedalam kelompok hamba-hamba-Ku dan masuklah kedalam surga-surga-Ku.” (Al-Fajr,:27-30).
Ibnu Arabi RA menafsirkan jiwa muthmainnah sebagai
jiwa yang tenang, karena ia telah tersiari oleh cahaya keyakinan, lalu ia
merasa tenang dari kegoncangan ketika datang kepada Allah. Jiwa yang telah
memiliki sifat-sifat kesempurnaan (Kamaliyah), keindahan (Jamaliyah), keagungan (Jalaliyah)
dan keperkasaan (Qahhariyah), ia akan
ditempatkan kedalam golongan para Nabi, Rasul dan orang-orang yang shalih,
bahkan jiwa itu memperoleh hak untuk bermukim di dalam surga.
2.
KECERDASAN ULUHIYAH
Yang dimaksud
dengan kecerdasan Uluhiyah ialah
kemampuan fitrah seseorang hamba yang shalih untuk melakukan interaksi
vertical dengan Tuhannya, kemampuan mentaati segala apa-apa yang telah
diperintahkan, menjauhkan diri dari apa-apa yang telah
dilarang dimurkai-Nya serta tabah terhadap ujian dan cobaan-Nya.
Kecerdasan
inilah yang membuat seseorang menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari sikap menyekutui Allah SWT.
(syirik), sikap menganggap remeh hukum-hukum-Nya
atau sikap menunda-nunda diri untuk melakukan kebaikan dan kebenara (fasiq),
sikap suka melanggar hukum-hukum-Nya
padahal ia sadar apa yang dilakukannya itu merupakan perbuatan durhaka dan dosa
(zhalim).
Kecerdasan
ini pulalah yang senantiasa dapat mengmbalikan sikap dan iktikad tauhid
seseorang kepada Allah SWT. Ketika ia sedang menghadapi berbagai persoalan di
dalam hidup dan kehidupannya, Ia selalu beriktikad bahwa sekecil apapun yang
telah, sedang dan akan terjadi pasti semuanya terjadi atas kehendak dan kuasa
Allah yang maha suci, dan esensi dari segalanya itu pasti mengandung hkmah, pelajaran
dan ilmu yang suci pula.
Sikap dan
iktikad pula dapat eksis dalam diri seseorang disebabkan karena keberadaan
dirinya sangat dekat dengan keberadaan Tuhannya. Sehingga kedekatan itu membuat
seseorang dapat menyaksikan kebesaran dan kesuciannya (ihsan), melalui
bimbingan dan petunjuknya dalam mimpi, ilham dan kasysyaf yang beanar dan terjaga. Dan tanpa
kecerdasan uluhiyah, sangat sulit seseorang melakukan interaksi vertikal yang bersifat
transendental, empirik
dan hidup, bukan spekulasi dan ilusi.
Firman Allah
SWT :
#sÎ)ur y7s9r'y Ï$t6Ïã ÓÍh_tã ÎoTÎ*sù ë=Ìs% (
“Dan apabila
hamba-hamba-ku bertanya kepadamu tentang aku, maka seseungguhnya aku adalah dekat”. (al-baqarah :186)
Kedekatan Allah
SWT terhadapa hamba tidak dapat dirasakan, kecuali melalui kecerdasan uluhiyah
atau ihsan. Sehingga dengan
itu ia akan selalu paham benar segala maksud, tujuan dan pesan-pesannya, baik
melalui ayat-ayat dalam Alquran maupun ayat-ayat yang terhampar pada semua
peristiwa, hal ikhwal dan aktifitas dari segala yang tampak ataupun yang tidak
tampak di dalam ruang dan waktu alamiyah maupun ilahiyah. Kedekatan dengan Allah ini pun akhirnya
membuka pintu alam Malaikat
dan dapat menghantarkan seseorang memahami, mengenal secara lebih dekat bahkan
bersahabat dengan para Malaikatnya, bersahabat dengan ruh dari huruf-huruf,
kalimat-kalimat,
ayat-ayat dan wahyunya, bersahabat dengan ruh
para rasul, nabi dan kekasih-kekasih-Nya,
bersahabat dengan ruh hari akhirnya serta bersahabat dengan esensi taqdir dan
qadarnya.
Ayat diatas
menerangkan bahwa allah senantiasa mengutus para Malaikat kepada hamba-hambanya
untuk menyampaikan pesan-pesan ketuhanan. Hamba
disini adalah para nabi, rasul dan auliya-Nya. Maksud diantaranya ialah
menunjukan tidak semua hamba , melainkan hanya sebagian yaitu mereka yang telah
dianugerahi kecerdasan uluhiyah. Mereka dapat menangkap dan menerima
pesan-pesan ketuhanan itu melalui mimpi dan ilham.
Hubungan
interaksi vertical ini, seperti dialami oleh seorang kekasih Allah Rabi’ah Al
Adawiyah RA, ketika ia berada dalam suatu perjalanan yang panjang dan melintasi
padang pasir. Sebelum ia berhenti dalam perjalanannya , ia berseru kepada Allah
: “ya Allah, aku telah letih. Kearah manakah yang ahrus ku tuju? Aku ini
hanyalah segumpal tanah sedang rumah-mu terbuat dari batu. Ya allah aku
bermohon kepada-mu, tunjukanlah dirimu”. Lalu Allah pun menjawab permohonan Rabi’ah
Al Adawiyah yang suara itu bergema dalam hati sanubarinya: “Rabia’h engkau
sedang berada diatas sumber kehidupan delapan belas ribu dunia. Tidakkah engkau
ingat betapa musa telah bermohon untuk melihat wajah-ku dan gunung-gunung
terpecah-pecah menjadi empat puluh keeping. Karena itu merasa cukuplah engkau
dengan nama ku saja.
Jadi,
kecerdasan uluhiyah adalah kesempurnaan fitrah yang dimiliki oleh seseorang
hamba yang shalih, yang mana kecerdasan itu termanifestasi pada kemampuan
mengembangkan dan memberdayakan beberapa hal, sebagai berikut :
1.
Dapat
merasakan kehadiran hakikat wujud allah dalam setiap kehidupannya.
2.
Dapat
merasakan bekasan-bekasan pengingkaran, kedurhakan dan dosa.
3.
Dapat
menjalin hubungan rohaniyah yang baik dengan allah, para malaikat dan arwah
rijalullah.
4.
Mengalami
mukasyafah akal fikiran, qalb dan inderawi.[3]
Berbahagialah
orang-orang yang telah memperoleh anugerah dari allah swt. Berupa kecerdasan
uluhiyah, karena dengan kecerdasan itu hubungan hubungan pribadi, rahasia dan
nyata antara hamba dan khalik sangat terasa. Hidup dan hangat. Dimanapun dan
waktu kapanpun ia berada di situlah senantiasa terjalin hubungan itu, tanpa
seseorangmakhlukpun yang dapat mengetahui hubungan itu.
BAB III
PENUTUP
1.
KESIMPULAN
1)
Apabila seseorang hamba Allah telah
berhasil melakukan pendidikan dan pelatihan penyehatan,maka ia akan dapat mencapai tingkat kejiwaan
muthmaiinnah. Jiwa
muthmaiinnah adalah jiwa yang senantiasa mengajak kembali kepada fitrah
ilahiyah tuhannya.
2)
jiwa mardhyah adalah
jiwa yang telah memperoleh titel dan gelar kehormatan dari allah SWT. Dan gelar itu keimanan, keislaman, keihsanan dan
ketauhidannya
tidak akan pernah mengalami erosi,
dekadensi
dan distori.
3)
Kedekatan Allah SWT terhadap hamba tidak
dapat dirasakan, kecuali
melalui kecerdasan uluhiyah atau ihsan.
Sehingga dengan
itu ia akan selalu paham benar segala
maksud, tujuan
dan pesan-pesan-Nya.
2. SARAN
Semoga dengan
adanya makalah ini dapat menambah pengetahuan pembaca tentang indikasi jiwa
yang sehat dalam konsep islam. Demikian yang dapat kami sampaikan, kritik dan
saran yang bersifat membangun dari pembaca sangat kami harapkan
DAFTAR
PUSTAKA
Bakran Adz-Dzaky
Hamdani, (2004), Konseling Dan
Psikoterapi Islam
Fajar Pustaka Baru Jogyakarta
Daradjat Zakiah,
Prof, Dr, (1974), Pokok-Pokok Kesehatan
Jiwa/Mental
NV Bulan Bintang Jakarta
[1] Hamdani Bakran Adz-Dzaky
(2004), Konseling Dan Psikoterapi Islam, Halaman
54
[2] Zakiah Daradjat (1974), Pokok-Pokok Kesehatan Jiwa/Mental, Halaman
15
[3] Hamdani Bakran Adz-Dzaky
(2004), Konseling Dan Psikoterapi Islam, Halaman
466

Tidak ada komentar:
Posting Komentar