ya

Selasa, 14 Oktober 2014

KESEMPURNAAN JIWA DAN KECERDASAN ULUHIYAH (KELOMPOK 9)



   Tugas Kelompok                                                                             Dosen Pembimbing

   Psikoterapi Islam                                                                             M.Fahli Zatra Hadi, M.Pd






KESEMPURNAAN JIWA

DAN KECERDASAN ULUHIYAH







                            Oleh
                      Kelompok IX



Desi Susianti

Herlina diah safitri

  
 
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SUSKA RIAU

2014


BAB I
PENDAHULUAN

1.      LATAR BELAKANG
Kedekatan Allah SWT terhadap hamba tidak dapat dirasakan, kecuali melalui kecerdasan uluhiyah atau ihsan. Sehingga dengan itu ia akan selalu paham benar segala maksud, tujuan dan pesan-pesan-Nya. Baik melalui ayat-ayat dalam alquran maupun ayat-ayat yang terhampar pada semuaperistiwa, hal-ihwal dan aktifitaas dari segala yangtampak di dalam ruang dan waktu alamiyah maupun ilahiyah. Keekatan dengan Allah ini pun akhrnya membuka pintu-pitu alam malaikat dan dapat menghantarkan seorang memahami, mengenal secara lebih dekat bahkan bersahabat dengan para malaikat-nya
2.      RUMUSAN MASALAH
a.       Apa Yang Di Maksud Dengan Kesempurnaan Jiwa
b.      Apa Yang Di Maksud Dengan Kecerdasan Uluhiyah
3.     Tujuan
a.       Mengetahui Pengertian Kesempurnaan Jiwa
b.      Mengetahui Pengertian Kecerdasan Uluhiyah
  
BAB II
PEMBAHASAN
INDIKASI JIWA YANG SEHAT DALAM KONSEP ISLAM

1.      KESEMPURNAAN JIWA

Apabila seseorang hamba Allah telah berhasil melakukan pendidikan dan pelatihan penyehatan,maka ia akan dapat mencapai tingkat kejiwaan muthmaiinnah. Jiwa muthmaiinnah adalah jiwa yang senantiasa mengajak kembali kepada fitrah ilahiyah tuhannya.
Firman Allah SWT.
tûïÏ%©!$# !#sŒÎ) Nßg÷Fu;»|¹r& ×pt7ŠÅÁB (#þqä9$s% $¯RÎ) ¬! !$¯RÎ)ur Ïmøs9Î) tbqãèÅ_ºu ÇÊÎÏÈ                     
“ Orang-orang yang apabila di timpa musibah,mereka akan mengucapkan’innalillahi wainnailaihi raji’uun’.
Jiwa Radhyah adalah jiwa yang tulus, bening dan lapang dada terhadap Allah SWT,  terhadap kebijaksanaan  qudrat dan iradat-Nya. Jiwa inilah yang mendorong diri bersikap lapang dada, tawakkal, tulus ikhlas dan sabar dalam mengaplikasikan seluruh perintah-Nya menjauhi seluruh larangan-Nya dan menerima dengan lapang dada segala ujian dan coban yang dating dalam hidup dan kehidupannya.[1] Biasanya dalam diri seseorang hamba yang hampir-hampir ia tidak pernah mengeluh, merasa susah, sedih dan takut dalam menjalani kehidupan ini.


Firman Allah SWT:
Iwr& žcÎ) uä!$uŠÏ9÷rr& «!$# Ÿw êöqyz óOÎgøŠn=tæ Ÿwur öNèd šcqçRtøts ÇÏËÈ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qçR%Ÿ2ur šcqà)­Gtƒ ÇÏÌÈ  ÞOßgs9 3tô±ç6ø9$# Îû Ío4quysø9$# $u÷R9$# Îûur ÍotÅzFy$# 4 Ÿw Ÿ@ƒÏö7s? ÏM»uHÍ>x6Ï9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ uqèd ãöqxÿø9$# ÞOŠÏàyèø9$# ÇÏÍÈ   

 “Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu  tidak ada kekhawatiranya terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Yaitu orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira dalam  kehidupanya di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Dan tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (yunus,10:62-64).
Sedangkan  jiwa mardhyah adalah jiwa yang telah memperoleh titel dan gelar kehormatan dari allah SWT. Dan gelar itu keimanan, keislaman, keihsanan dan ketauhidannya tidak akan pernah mengalami erosi, dekadensi dan distori. Akan tetapi jiwa terus mendaki dan mi’raj ke hadirat Allah SWT. Dalam ruang dan waktu yang tiada berwaktu dan tiada beruang.
Jadi kesempurnaan jiwa adalah menyatunya jiwa yang selalu ingin mahir kembali kepada fitrah Tuhannya dengan penuh kemampuan bersikap tulus dan lapang dada bersama kehormatan dan titel ketuhanan yang memberikan otoritas penuh kepada jiwa untuk beruat, berkarya dan beribadah di dalam ruang dan waktu tuhanya yang terlepas dari jangkauan makhluk.
Kesehatan jiwa harus dipenuhi syarat atau sejumlah syarat-syarat, sehingga orang dapat menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri dan dengan alam luar, sedemikian rupa, sehingga dapat dicapai kebahagiaan dan kemampuan semaksimal mingkin oleh orang itu dan masyarakat di mana ia hidup.[2]
Sikap dan iktikad itu dapat eksis dalam diri seseorang disebabkan karena keberadaan dirinya sangat dekat dengan keberadaan Tuhannya. Sehingga kedekatan itu membuat seseorang dapat menyaksikan kebesaran dan kesucian-Nya (ihsan), melalui bimbingan petunjuk-Nya dalam mimpi, ilham dan kasysyaf yang benar dan tejaga. Dan tanpa kecerdasan uluhiyah, sangat sulit seseorang melakukan interaksi vertical yang bersifat transendental, empiric dan hidup, bukan spekulasi dan ilusi.
Firman Allah SWT.
#sŒÎ)ur y7s9r'y ÏŠ$t6Ïã ÓÍh_tã ÎoTÎ*sù ë=ƒÌs% ( Ü=Å_é& nouqôãyŠ Æí#¤$!$# #sŒÎ) Èb$tãyŠ ( (#qç6ÉftGó¡uŠù=sù Í< (#qãZÏB÷sãø9ur Î1 öNßg¯=yès9 šcrßä©ötƒ ÇÊÑÏÈ  

 “Dan apabila hamba-hamba-ku bertanya  kepadamu tentang Aku,maka sesungguhnya aku adalah dekat...”.(Al-baqarah,2:186)
Kedekatan Allah SWT terhadap hamba tidak dapat dirasakan, kecuali melalui kecerdasan uluhiyah atau ihsan. Sehingga dengan itu ia akan selalu paham benar segala  maksud, tujuan dan pesan-pesan-Nya. Baik melalui ayat-ayat dalam alquran  maupun  ayat-ayat yang terhampar pada semua peristiwa, hal-ihwal dan aktifitas dari segala yang tampak di dalam ruang dan waktu alamiyah maupun Ilahiyah. Kedekatan dengan Allah ini pun akhirnya membuka pintu-pintu alam malaikat dan dapat menghantarkan seseorang memahami, mengenal secara lebih dekat bahkan bersahabat dengan para Malaikat-Nya.
Ibnu Abi Dunya menyebutkan tentang suatu peristiwa  di mana dulu pernah ada salah seorang sahabat Rasulullah SAW dari golongan Anshar yang lebih populer disebut Abu Muallaq RA, beliau adalah seorang pedagang yang sangat taat beribadah dan wara’. Suatu ketika dalam perjalanan  beliau dihadang oleh perampok yang bersenjata. Perampok itu berkata : “ letakan apa saja yang engkau miliki karena aku akan membunuhmu!. Kemudian sahabat Nabi SAW itu berkata: izinkan aku melakuakan shalat empat rakaat, sebelum engkau merampas harta dan membunuhku”. Lalu beliau mengambil wudhu dan shalat empat rakaat, dan beliau berdoa pada sujud yang terakhir dari shalatnya.

$pkçJ­ƒr'¯»tƒ ß§øÿ¨Z9$# èp¨ZÍ´yJôÜßJø9$# ÇËÐÈûÓÉëÅ_ö$# ûÓÉëÅ_ö$# 4n<Î) Å7În/u ZpuŠÅÊ#u Zp¨ŠÅÊó£D ÇËÑÈ Í?ä{÷Š$$sù Îû Ï»t6Ïã ÇËÒÈ Í?ä{÷Š$#ur ÓÉL¨Zy_ ÇÌÉÈ      

 “Wahai jiwa yang tenang  kembalikanlah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Masuklah kedalam kelompok hamba-hamba-Ku dan masuklah kedalam  surga-surga-Ku.” (Al-Fajr,:27-30).

Ibnu Arabi RA menafsirkan jiwa muthmainnah sebagai jiwa yang tenang, karena ia telah tersiari oleh cahaya keyakinan, lalu ia merasa tenang dari kegoncangan ketika datang kepada Allah. Jiwa yang telah memiliki sifat-sifat kesempurnaan (Kamaliyah), keindahan (Jamaliyah), keagungan (Jalaliyah) dan keperkasaan (Qahhariyah), ia akan ditempatkan kedalam golongan para Nabi, Rasul dan orang-orang yang shalih, bahkan jiwa itu memperoleh hak untuk bermukim di dalam surga.

2.      KECERDASAN ULUHIYAH

Yang dimaksud dengan kecerdasan Uluhiyah ialah  kemampuan fitrah seseorang hamba yang shalih untuk melakukan interaksi vertical dengan Tuhannya, kemampuan mentaati segala apa-apa yang telah diperintahkan,  menjauhkan diri dari apa-apa yang telah dilarang dimurkai-Nya serta tabah terhadap ujian dan cobaan-Nya.
Kecerdasan inilah yang membuat seseorang menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari sikap menyekutui Allah SWT. (syirik), sikap menganggap remeh hukum-hukum-Nya atau sikap menunda-nunda diri untuk melakukan kebaikan dan kebenara (fasiq), sikap suka melanggar hukum-hukum-Nya padahal ia sadar apa yang dilakukannya itu merupakan perbuatan durhaka dan dosa (zhalim).
Kecerdasan ini pulalah yang senantiasa dapat mengmbalikan sikap dan iktikad tauhid seseorang kepada Allah SWT. Ketika ia sedang menghadapi berbagai persoalan di dalam hidup dan kehidupannya,  Ia selalu beriktikad bahwa sekecil apapun yang telah, sedang dan akan terjadi pasti semuanya terjadi atas kehendak dan kuasa Allah yang maha suci, dan esensi dari segalanya itu pasti mengandung hkmah, pelajaran dan ilmu yang suci pula.
Sikap dan iktikad pula dapat eksis dalam diri seseorang disebabkan karena keberadaan dirinya sangat dekat dengan keberadaan Tuhannya. Sehingga kedekatan itu membuat seseorang dapat menyaksikan kebesaran dan kesuciannya (ihsan), melalui bimbingan dan petunjuknya dalam mimpi, ilham dan kasysyaf yang beanar dan terjaga. Dan tanpa kecerdasan uluhiyah, sangat sulit seseorang melakukan interaksi vertikal yang bersifat transendental, empirik dan hidup, bukan spekulasi dan ilusi.
Firman Allah SWT  :
 #sŒÎ)ur y7s9r'y ÏŠ$t6Ïã ÓÍh_tã ÎoTÎ*sù ë=ƒÌs% (
Dan apabila hamba-hamba-ku bertanya kepadamu tentang aku, maka  seseungguhnya aku adalah dekat”. (al-baqarah :186)

Kedekatan Allah SWT terhadapa hamba tidak dapat dirasakan, kecuali melalui kecerdasan uluhiyah atau ihsan. Sehingga dengan itu ia akan selalu paham benar segala maksud, tujuan dan pesan-pesannya, baik melalui ayat-ayat dalam Alquran maupun ayat-ayat yang terhampar pada semua peristiwa, hal ikhwal dan aktifitas dari segala yang tampak ataupun yang tidak tampak di dalam ruang dan waktu alamiyah maupun ilahiyah. Kedekatan dengan Allah ini pun akhirnya membuka pintu alam Malaikat dan dapat menghantarkan seseorang memahami, mengenal secara lebih dekat bahkan bersahabat dengan para Malaikatnya, bersahabat dengan ruh dari huruf-huruf, kalimat-kalimat, ayat-ayat dan wahyunya, bersahabat dengan ruh para rasul, nabi dan kekasih-kekasih-Nya, bersahabat dengan ruh hari akhirnya serta bersahabat dengan esensi taqdir dan qadarnya.
Ayat diatas menerangkan bahwa allah senantiasa mengutus para Malaikat kepada hamba-hambanya untuk menyampaikan pesan-pesan ketuhanan. Hamba disini adalah para nabi, rasul dan auliya-Nya. Maksud diantaranya ialah menunjukan tidak semua hamba , melainkan hanya sebagian yaitu mereka yang telah dianugerahi kecerdasan uluhiyah. Mereka dapat menangkap dan menerima pesan-pesan ketuhanan itu melalui mimpi dan ilham.
Hubungan interaksi vertical ini, seperti dialami oleh seorang kekasih Allah Rabi’ah Al Adawiyah RA, ketika ia berada dalam suatu perjalanan yang panjang dan melintasi padang pasir. Sebelum ia berhenti dalam perjalanannya , ia berseru kepada Allah : “ya Allah, aku telah letih. Kearah manakah yang ahrus ku tuju? Aku ini hanyalah segumpal tanah sedang rumah-mu terbuat dari batu. Ya allah aku bermohon kepada-mu, tunjukanlah dirimu”. Lalu Allah pun menjawab permohonan Rabi’ah Al Adawiyah yang suara itu bergema dalam hati sanubarinya: “Rabia’h engkau sedang berada diatas sumber kehidupan delapan belas ribu dunia. Tidakkah engkau ingat betapa musa telah bermohon untuk melihat wajah-ku dan gunung-gunung terpecah-pecah menjadi empat puluh keeping. Karena itu merasa cukuplah engkau dengan nama ku saja.
Jadi, kecerdasan uluhiyah adalah kesempurnaan fitrah yang dimiliki oleh seseorang hamba yang shalih, yang mana kecerdasan itu termanifestasi pada kemampuan mengembangkan dan memberdayakan beberapa hal, sebagai berikut :
1.      Dapat merasakan kehadiran hakikat wujud allah dalam setiap kehidupannya.
2.      Dapat merasakan bekasan-bekasan pengingkaran, kedurhakan dan dosa.
3.      Dapat menjalin hubungan rohaniyah yang baik dengan allah, para malaikat dan arwah rijalullah.
4.      Mengalami mukasyafah akal fikiran, qalb dan inderawi.[3]

Berbahagialah orang-orang yang telah memperoleh anugerah dari allah swt. Berupa kecerdasan uluhiyah, karena dengan kecerdasan itu hubungan hubungan pribadi, rahasia dan nyata antara hamba dan khalik sangat terasa. Hidup dan hangat. Dimanapun dan waktu kapanpun ia berada di situlah senantiasa terjalin hubungan itu, tanpa seseorangmakhlukpun yang dapat mengetahui hubungan itu.
BAB III
PENUTUP
1.      KESIMPULAN
1)      Apabila seseorang hamba Allah telah berhasil melakukan pendidikan dan pelatihan penyehatan,maka ia akan dapat mencapai tingkat kejiwaan muthmaiinnah. Jiwa muthmaiinnah adalah jiwa yang senantiasa mengajak kembali kepada fitrah ilahiyah tuhannya.
2)      jiwa mardhyah adalah jiwa yang telah memperoleh titel dan gelar kehormatan dari allah SWT. Dan gelar itu keimanan, keislaman, keihsanan dan ketauhidannya tidak akan pernah mengalami erosi, dekadensi dan distori.
3)      Kedekatan Allah SWT terhadap hamba tidak dapat dirasakan, kecuali melalui kecerdasan uluhiyah atau ihsan. Sehingga dengan itu ia akan selalu paham benar segala  maksud, tujuan dan pesan-pesan-Nya.

2.      SARAN
Semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah pengetahuan pembaca tentang indikasi jiwa yang sehat dalam konsep islam. Demikian yang dapat kami sampaikan, kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca sangat kami harapkan

DAFTAR PUSTAKA

Bakran Adz-Dzaky Hamdani, (2004), Konseling Dan Psikoterapi Islam
Fajar Pustaka Baru Jogyakarta

Daradjat Zakiah, Prof, Dr, (1974), Pokok-Pokok Kesehatan Jiwa/Mental
NV Bulan Bintang Jakarta




[1] Hamdani Bakran Adz-Dzaky (2004), Konseling Dan Psikoterapi Islam, Halaman 54
[2] Zakiah Daradjat (1974), Pokok-Pokok Kesehatan Jiwa/Mental, Halaman 15
[3] Hamdani Bakran Adz-Dzaky (2004), Konseling Dan Psikoterapi Islam, Halaman 466


Tidak ada komentar:

Posting Komentar