ya

Senin, 13 Oktober 2014

INDIKASI GANGGUAN KEJIWAAN (KELOMPOK 8)



PISIKOTERAPI ISLAM
M. Fahli Zatra Hadi, M.Pd

INDIKASI GANGGUAN KEJIWAAN


logo3.jpg



DISUSUN OLEH

KELOMPOK 8:

MIFTAH HAKIKI
NURUL BARIAH




JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
2014
KATA PENGANTAR


Puji syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat hidayahnya sehingga kami dapat memyelesaikan makalah ini.
Makalah ini di buat sedemikian rupa, agar pembaca dapat memahami dan mengerti tntang “INDIKASI GANGGUAN KEJIWAAN”. Dan dapat dimanfaatkan oleh pmbaca, pendengar dan khususnya kami sebagai penulis.
Akhirnya, penulis juga mengucapkan terima kasi kepada dosen pembina kami Bpk M. Fahli Zatra Hadi, M.Pd. Dan terima kasi atas partisipasi semua pihak yang telah memberikan waktu dan tenaganya untuk penyempurnaan makalah ini dan semoga makalah ini bermanfaat bagi semua.


Pekanbaru,September 2014



Penulis















 
 
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latarbelakan
Gangguan jiwa merupakan suatu penyimpangan keadaan ideal dari suatu kesehatan mental yang merupakan indikasi adanya gangguan jiwa. Penyimpangan ini mencakup atas penyimpangan pikiran, perasaan dan tindakan yang menyebabkan  individu tidak mampu menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain, masyarakat dan lingkungan. Penyimpangan ini juga dapat mengenal setiap orang tanpa mengenal  umur, ras, agama maupun status sosial ekonomi. Walaupun unsure utapa terdapat unsure kejiwaan, tapi sebab umumnya mungkin pada tubuh (somatogenik), lingkungan sosial (sosiogenik), ataupun psikis (pesikogenik). Biasanya bukan penyebab tunggal, tetapi ada beberapa sebab sekaligus dari berbagai unsure yang saling mempengaruhi atau kebetulan terjadi, sehingga terjadi gangguan badan atau jiwa.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagai mana indikasi gangguan kejiwaan tersebut?
2.      Apasaja sebab-sebab ganguan kejieaan?
3.      Apa saja sebabdari gangguan kejiwaan?



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Indikasi Gangguan Kejiwaan
Keberadaan jiwa seseorang akan dapat diketahui melalui sikap, prilaku atau penampilannya, yang dengan fenomena itu seseorang dapat dinilai atau ditafsirkan bahwa kondisi kejiwaan atau rohaniyah dalam keadaan baik, sehat dan benar atau tidak.
Indikasi atau tanda-tanda kejiwaan yang tidak stabil sangat banyak, di antaranya adalah:
1.      Pemarah.
tûüÏJÏà»x6ø9$#urxáøtóø9$#tûüÏù$yèø9$#urÇ`tãĨ$¨Y9$#3ª!$#ur=ÏtäšúüÏZÅ¡ósßJø9$#ÇÊÌÍÈ
Artinya: “... dan orang-orang yang menahan marahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan”. (Ali ‘imran, 3: 134)
Kata marah atau kemarahan berasal dari kata ghadlaba-yaghdiubu, artinya marah; al-ghadlbu dalam bentuk islam berarti lembu, singa; al-ghadlbu artinya kemarahan; al-ghudluub artinya ular yang jahat.
Eksistensi kemarahan menurut Imam Al-ghazali RA. Berada pada dua tempat, yaitu:
Pertama: Kemarahan yang ada di dalam diri manusia untuk menjaganya dari kerusakan dan untuk menolak kehancuran. Di dalam kejadian manusia di dalamnya terdapat sesuatu yang panas dan suatu yang dingin dan di antara keduanya selalu bermusuhan dan bertentangan.
Kedua: Kemarahan dari luar diri manusia, yang disebabkan karna terbentuknya manusia dengan kendala-kendala atau marabahaya. Untuk keperluan ini, yakni untuk menahan kendala dan marabahaya diperlukan satu kekuatan dan pengayoman dirinya untuk menolak marabahaya dan terjadilah gejolak api marah di dalam dirinya sebagaimana menyalanya api di dalam tungku. Api kemarahan ini dapat merubah wajah seseorang menjadi merah akibat dari memanasnya darah di balik kulit, sehingga kulitpun menjadi transparan menampakan apa yang terjadi di dalamnya.
Sikap atau sifat mudah marah adalah suatu hal yang sangat membahayakan bagi perkembangan jiwa bahkan dapat memberikan celaka pada orang lain dan lingkungannya. Oleh karena itu ajaran islam membimbing individu dan masyarakat agar menjauhkan diri dari sifat pemarah dengan jalan melakukan upaya aktif mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Adapun cara mengendalikan kemarahan itu dapat dilaukan denganberbagai cara, antara lain (Ibdid, p. 393)
1.      Berdzikir kepada Allah, sambil mengingat-ingat adanya keutamaan kenahan marah, keutamaan memberi pengampunana dan kata maaf, keutamaan bersabar dan menahan diri di waktu memperoleh sesuatu yang tidak menyenangkan
2.      Membaca salawat kepada Nabi Muhammad SAW.berkali-kali sambil mengingat-ingat adanya siksaan Allah jika kemarahan itu diteruskan atau merenungkan akibatnya, yaitu permusuhan dan balas dendam
3.      Berwudhu dan mandi. Karna marah itu adalah api dan api dapat di padamkan dengan air, yaitu air wudhu dan mandi
4.      Membaca “ta’awwud” (mohon perlindungan dari sythan)
5.      Segera merubah keadaan ketika marah; jika ia sedang berdiri, hendaklah segera duduk, dan jika sedang duduk hendaklah berdiri atau berbaaring

2.      Dendam kesumat.
Dendam ialah sifat atau sikap suka membalas atas rasa sakit yang telah diderita sebelumnya karna orang yang telah menyakiti atau kepada orang lain karna rasa ingin menumpahkan kemarahan dan kepuasan hawa nafsu yang ada di dalam dada; atau sifat tidak senang memberikan maaf kepada orang lain yang telah menyakiti atau telah menimpakan rasa tidak nyaman.
Sifat dendam adalah penyakit hati yang sangat mempengaruhi mental atau kejiwaan seseorang; dan untuk mengusir atau menghilangkannya sangatlah sulit. Karna sifat ini sangat erat dengan sifat penarah. Seorang pemarah selalu diiringi dengan ingin membalas, dan apabiala belum terbalas atas suatu perbuatan yang membuat ia marah, maka hatinya tidak tenang dan gelisah. Bahkan saat ia tidak dapat mengendalikan marahnya, maka ia melampiaskan rasa dendamnya itu dengan melakukan  perusakan apa saja yang ada di sekitarnya.
Upaya untuk mengatasi penyakit kejiwaan ini, hanya dapat dilakukan dengan penghayatan terhadap  aplikasi ketauhidan. Namun sebelumnya, seseorang yang telah terkena penyakit atau gangguan seperti ini, hatinya atau rohaninya harus dibersihkan dudu dari bibit virus dengan yang berwarna kehitaman yang telah sengaja disebarkan oleh syathan dan iblis. Jika tidak dibersihkan maka untuk melakukan pelatihan terhadap penghayatan tauhid akan terganggu dan tidak efektif . yang dapat melakukan pembersihan itu hanyalah guru-guru atau Syaikh yang benar-benar telah menguasai seluk-beluk penyakit batin dan metode menghilangkannya.

3.      Pendengki (Hasad)
¨Šur׎ÏVŸ2ïÆÏiBÈ@÷dr&É=»tGÅ3ø9$#öqs9Nä3tRrŠãtƒ.`ÏiBÏ÷èt/öNä3ÏZ»yJƒÎ)#·$¤ÿä.#Y|¡ymô`ÏiBÏYÏãOÎgÅ¡àÿRr&.`ÏiBÏ÷èt/$tBtû¨üt6s?ãNßgs9,ysø9$#((#qàÿôã$$sù(#qßsxÿô¹$#ur4Ó®LymuÎAù'tƒª!$#ÿ¾Ín͐öDr'Î/3¨bÎ)©!$#4n?tãÈe@à2&äóÓx«ÖƒÏs%ÇÊÉÒÈ

Artinya:“Sebagian besar Ahli Kitab itu mengingatkan untuk mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman karna rasa dengki yang timbul dari diri mereka sendiri, setelah suatu kebenaran bagi mereka”. (Al-Baqarah, 2:109).

Dengki (hasad) ialah sikap atau sifat tidak senang melihat orang lain mendapatkan kenikmatan, kebaikan dan kedamaian itu berpindah kepada dirinya, dan ia merasa senang apabila orang yang dirampas kebahagiaanya itu menderita. Biasanya para pendengki itu apabila ia telah melakukan kedengkiannya, ia dapat melakukan upaya menjatuhkan orang lain dengan berbagai macam cara, tanpa memperdulikan akibat yang akan ditimbulkan dari perbuatannya itu.
Apabila seseorang ingin menjauhkan diri dari sifat dengki orang lain maupun dari dalam dirinya sendiri, maka langkah mulanya, jika kedua surat (Al-falak dan An-Naas) dijadikan amalan atau wiridan  di dalam kehidupannya sehari-hari. Insya Allah secara perlahan-lahan sifat yang merusak jiwa atau mental itu akan lenyap dari dalam diri sendiri maupun orang lain yang hidup dalam lingkungan yang paling dekat maupun dalam lingkungan yang paling jauh.

4.      Takabbur (sombong, angkuh)
Firman Allah SWT:
ŸwuröÏiè|Áè?š£s{Ĩ$¨Z=Ï9ŸwurÄ·ôJs?ÎûÇÚöF{$#$·mttB(¨bÎ)©!$#Ÿw=Ïtä¨@ä.5A$tFøƒèC9qãsùÇÊÑÈ

Artimya: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia dan janganlah kamu berjalan di atas bumi itu dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangkakan diri”. (Luqman, 31: 18)

Takabbur ialah sikap menyombongkan diri karna merasa dirinya mempunyai banya kelebihan dan menganggap orang lain mempunyai banya kekurangan. Latar belakang sikap orang ini, disebabkan oleh cara menanggap atau memandang dirinya dari cara mata kebesaran dan kemuliaan dunia serta memandang orang lain dari kaca mata kerendahan dan kehinaan di dunia.

Akibat dari perbuatan dan sikap takabbur ini adalah:
1.      Allah akan menyiksa orang-orang yang mempunyai sikap takabbur (sombong) dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak memperoleh perlindungan dan penolong dari azab dan kemurkaan Allah (An-Nisaa’,4:173)
2.      Orang-orang yang sombong adalah penghuni nerak, karna selalu mendustakan ayat-ayat Allah. (Al-A’raaf, 7: 36, An-Nahal, 16: 29)
3.      Orang-orang yang sombong adalah orang-orang yang mengingkari ayat-ayat atau hukum-hukum Allah, dan pintu-pintu langit (rahmat) telah tertutup untuk mereka serta mereka tidak akan masuk kedalam surga (Al-A’raaf, 7: 40)

5.      Suka pamer (Riya)
Riya adalah sikap atau sifat suka menonjolkan diri untuk mendapat pujian, yaitu memamerkan dirinya sebagai orang yang taat dan patuh kepada Allah dengan melakukan serangkaian ibadah, tetapi karna mengharapkan pujian dan sanjungan dari orang lain bukan karna ketulusan atau keiklasanya.(Ibid, p 68)
Akibat-akibat dari sikap orang yang suka pamer dan selalu mengharapkan pujian dan pujan dari manusia sebagaimana Allah SWT isyaratkan di dalam Al-Qur’an, yakni sebagai berikut:
1.      Sikap atau sifat riya merupakan sikap atau sifat dari orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian; dan mereka dicap-nya sebagai orang yang ingkar serta terlepas dari petunjuk-nya (Al-Baqarah, 2: 264)
2.      Pelakun riya digolongkan oleh Allah sebagai temannya syaithan itu adalah seburuk-buruknya teman (An-Nisaa’, 4: 38)
3.      Pelaku riya digolongkan juga sebagai orang-orang munafiq yang selalu menipu  Allah (An-Nissa’,4: 142)
4.      Pelaku riya ia tidak sadar, bahwa seluruh prilaku dan tingkahnya dalam penilaian Allah (Al-Anfaal, 8: 47)
5.      Pelaku riya itu adalah orang yang selalu mengadakan kedustaan dalam agamanya (Al-Maa’ uun, 107: 6)

6.      Membanggakan diri sendiri (‘ujub)
Ÿxsù(#þq.tè?öNä3|¡àÿRr&(uqèdÞOn=÷ær&Ç`yJÎ/#s+¨?$#ÇÌËÈ

Atinya:“Maka jangan lah engkau menganggap suci dirimu, Dia Allah lebih lebih mengetahui siapa saja yang bertakwa”. (An-Najam, 53: 32)

Ujub ialah bermegah diri atau berbangga diri dan suatu sifat atau siap merasa paling hebat, paling pandai, paling gagah, paling mulia dan sebagainya. Orang yang memiliki penyakit ‘ujub merasa dirinya besar, selalu benar dan tidak senang menerima saran atau keritik dari orang lain.(Amir An-Najar, op.cit.,p. 166)
Rasa bangga dan mengagumi atas kelebihan dan keutamaan yang telah diberikan oleh Allah SWT. Kepada seseorang, sehingga ia lupa diri, terbagi kepada tujuh macam, yaitu:(Ibid, p. 143)
1.      ‘Ujub kepada keindahan tubuhnya, kesehatannya, kekuatannya dan kegantengannya
2.      ‘Ujub dengan akal dan kecerdasan serta kepandaiannya dalam berbagai permasalahan, baik yang berkaitan dengan dunia ataupun keagamaannya
3.      ‘Ujub karna mempunyai ketueunan yang mulia
4.      ‘Ujub dengan sislsilah raja yang zhalim, bukan karna atas dasar ilmu dan ketakwaan
5.      ‘Ujub karna banyak memiliki anak, banyak mempunyai pembantu, keluarga, pengikut dan sebagainya
6.      ‘Ujub karna harta benda yang berlmpah
7.      ‘Ujub karna pendapat yang keliru.

7.      Berburuk sangka (Su’uzhzhan)
Bersangka buruk (su’ uzhzhan) ialah sikap yang selalu curiga atau berpendapat negatif (jelek) kepada suatu masalah atau kondisi. Jika terjadi suatu masalah atau suatu peristiwa, hal itu selalu di sandarkan kepada sebab-musabab yang tidak baik. Sebagai seorang hamba yang ridha, istiqamah dan bersyukur kepada Allah SWT, maka konsekwensinya ia senantiasa wajib dalam kondisi sabar, bahwa semua peristiwa yang terjadi di muka bumi ini mengandung hikmah.
Jauhkanlah diri sejauh-jauhnya dari sangkaan yang buruk kepada Allah, karna jika itu yang selalu terjadi, maka akan mendatangkan kehidupan yang senantiasa buruk pula; jika keburukan yang disangkakan itu lebih sering, maka lebih sering pula datangnya keburukan-keburukan dalam kehidupan. Akhirnya jiwa selalu bergerak kepada perbuatan yang dapat mendatangkan celaka baik bagi dirinya maupun lingkungannya, qalbunya selalu membisikan tuduhan-tuduhan negatif dan hina kepada Allah SWT maupun makhlik-nya, serta akan kehilangan keyakinan di dalam menjalankan ibadah dan ketaatan kepada-nya.

8.      Was-was
Was-was adalah bisikan-bisikan halus yang mengundang rayuan dan bujuakn untuk melakukan kejahatan dan pengingkaran terhadap Allah SWT. Bisikan-bisikan sangat lembut sekali ketika ia menyusup dalam hati sanubari seseorang. Jika ia lalai dari mengingat Allah dan lalai dari selalu memohon perlindungan-nya, maka bisikan itu akan sangat keras dan mengandung energi sihir yang sengaja dihembuskan oleh syaithan dan iblis ke dalam dadanya.
Ï%©!$#â¨ÈqóuqãƒÎûÍrßß¹ÄZ$¨Y9$#ÇÎÈ
Artinya: “Yang membisikan kejahatan ke dalam dada-dada manusia”. (An-Nass, 114: 5)
Was-was itu sangat berbahaya bagi seseorang, karna ia dapat datang dan masuk ke dalam hati dan jiwanya kapan saja dan di mana saja. Oleh karna itulah Allah senantiasa memerintahkan agar selalu ingat dan berlindung kepada-nya baik secara lahir, batin maupun Sirr.

9.      Pendusta (Kadzib)
Pendusta adalah sikap atau sifat yang suka berbicara tidak benar dari kenyataan, apapun yang ia katakan hanyalah berupa kebohongan, yang bertujuan ingin dengan senagja menyebar fitnah dan berita dusta kepada orang lain. Bahkan pendusta yang paling berat adalah orang yang dengan sengaja dan terang-terangan mendustakan ayat-ayat dan hukum-hukum Allah. Ia mengakui akan kebenaran Allah dan kebenaran dari ketauhidan Rasul-Nya Muhmmad SAW akantetapi prilaku dan sikapnya tidak sesuai dengan apa yang dipercayai dan diyakininya. Itulah sifat-sifat orang munafiq, fasiq, kufur dan musyrik.
Sebagaimana Rasulullah SAW mengatakan, bahwa terdapat empat karakter dalam diri seseorang, maka orang itu akan memperoleh titel munafik sejati, yaitu:
1.      Apabila di percya ia berkhianat
2.      Apabila berbicara banyak dustanya
3.      Apabila berjanji ia sering menyalahinya
4.      Apabila berdebat ia selalu curang (ingin menang sendiri)


10.  Rakus dan serakah.
(¨bÎ)©!$#ŸwÏökuô`tBuqèdÔ$ÎŽô£ãBÒ>#¤x.ÇËÑÈ

Artinya:“Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada siapa yang melampaui batas dan pendusta (Al-Mu’min, 40: 28)

Rakus atau serakah ialah suatu sikap yang sanagt berlebihan dalam mencintai dunia, harta benda dan lainnya sehingga mengalahkan kepentingan agamanya; tidak peduli lagi apakah sesuatu yang dicintainya itu halal atau haram, hak dan batil.
Oleh karna itu bagi orang yang ingin mendidik jiwanya dengan baik dan benar, maka sikap yang harus diambilnya di antaranya ialah bersikap zuhud dan wara’.

B.     Sebab-Sebab Gangguan Kejiwan (Mental)
1.      Faktor Internal
Firman Allah SWT:
óOÏ%r'sùy7ygô_urÈûïÏe$#Ï9$ZÿÏZym4|NtôÜÏù«!$#ÓÉL©9$#tsÜsù}¨$¨Z9$#$pköŽn=tæ4ŸwŸ@ƒÏö7s?È,ù=yÜÏ9«!$#4šÏ9ºsŒÚúïÏe$!$#ÞOÍhŠs)ø9$# ÆÅ3»s9uruŽsYò2r&Ĩ$¨Z9$#ŸwtbqßJn=ôètƒÇÌÉÈ
Artinya: “Maka hadapkanlah wajah kamu dengan lurus kepada agama Allah, yang dia telah menciptakan manusia di atas fitrah itu; tidak ada perubahan bagi penciptaan dengan fitrah Allah itu; itulah agama yang lurus, akan tetapi kebantakan manusia tidak mengetahuinya”. (Ar-rum, 30: 30)
Setiap manusia yang lahir ke muka bumi ini telah tercipta dalam keadaan fitrah (suci); nuraninya senantiasa ingin menghadap Tuhannya dan ingin mengikuti agama-Nya; dan fitrah yang telah Allah ciptakan dalam diri setiap manusia tidak akan pernah merubah, ia tetap menyuarakan seruan agar senantiasa kembali kepada kebenaran Ilahiyah. Bagaimana buruk dan jeleknya prilaku dan perbuatan seorang manusia, tetapi hati nuraninya tetap hidup dalam dada, hanya saja gaungnya tidak dapat menembus dinding-dinding jiwa, akal fikiran, qalbu, indrawi dan fisiknya, kecuali kelima hal itu mengalami benturan yang sangat dahsyat dalam perjlanan kehidupnya.
Rasulullah SAW bersabda, bahwa setiap anak yang dilahirkan ia dalam kondisi suci tanpa dosa. Kemudian kelak dalam perkembangannya ia akan menjadi tetap suci atau tidak tergantung usha daan daya upaya kedua orang tuanya; apakah ia akan menjadi seorang mukmin atau muslimah yang sejati lagi tangguh, atau akan menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi.
Gangguan kejiwaan(mental) akan sangat terlihat pada sikap dan pribadinya yang telah tertanam sejak ia dilahirkan ke muka bumi. Bagaimana perkawinan dan hubungan seks yang dilakuakn; setelah dalam masa kehamilan, lahir, pendidikan dari nol hingga remaja apakah aktifitas dalam kondisi semua itu melalui metode dan cara yang Allah dan Rasul-Nya ridhai, atau dengan metode dan cara yahudi, nasrani dan majuski.
2.      Faktor Eksternal
Penyimpangan-penyimpangan secara psikologis yang dilakuakn oleh individu dan pelanggaran terhadap rambu-rambu Ilahiyah adalah disebabkan dua faktor, faktor dari dalam atau bawaan (internal) dan faktor dari luar (eksternal). Penyimpangan dan pelaanggaran yang di sebabkan karna faktor eksternal adalah lebih banyak terfokus pada bagian sistim pendidikan yang telah diberikan kepada indifidu sejak ia berusia 0 tahun sampai dengan dewasa (25-40 tahun).
Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang mengarah kepada pengembangan dan pemberdayaan potensi fitrah Ilahiyah; yaitu pendidikan keimanan, keislaman, dan ketauhidan; bukan pendidikan yang justru mengarah kepada pengembangan karakteristik Yahudiyah, Nasraniyan dan Majusiyah, seperti:
1)      Tidak pernah awal pendidikan individu sejak kecilnya diperkenalkan dengan kalimat syahadat dan kalimat tauhid.
2)      Tidak pernah diperkenalkan dan ditanamkan ke dalam jiwa tentang hukum-hukum halal dan haram serta akibat-akibat yang akan diperoleh, jika melakukan hal-hal yang halal atau yang haram; padahal Rasulullah SAW telah memerintahkan untuk mengajarkan masalah tersebut.
3)      Tidak pernah oleh lingkungan keluarag sejak usia tujuh tahun untuk melakuakn ibadah dan kedua orang tuanya tidak memberikan ketauhidan untuk itu.
4)      Tidak pernah ditanamkan nilai-nilai kecintaan kepada Rasulullah SAW., para rasul dan para nabi serta auliya Allah, dan meneladani seluruh prilaku dan kemuliaan mreka di dalam menjalani kehidupan duniawi dan ukhrawi
5)      Tidak pernah diajarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta tidak pernah di berikan ketauladanan bagaimana cara mengaplikasikan Al-Quran dan As-sunnah dalam kehidupan sehari-hari,padahal Nabi SAW memerintahkan :
“Didiklah anak anakmu dengan tiga sifat : mencintai nabimu, mencintai keluarganya dan membaca Al-Quran. Sesungguhnya pembaca dan yang mengamalkan Al-Quran itu berada dalam perlindungan ‘Arasy Allah yang pada hari tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya bersama para Nabi-Nya dan orang-orang suci-Nya”(HR.Thabrani dari Ali RA).
6)      Lingkungan keluarga yang kurang harmonis dan lingkungan dalam rumah yang kotor, tidak tertata rapi serta lingkungan tetangga yang tidak islami.
7)      Pendidikan dan lingkungan yang tidak islami.
Sangatlah banyak faktor dan penyebab yang membawa kepada penyimpangan, kegoncangan dan dekadensi moral,dan buruknya sistem pendidikan yang ada ditengah-tengah masyarakat yang penuh dengan kedurhakaan dan dosa dalam kenyataan yang sungguh mengenaskan, banyak bibit kejahatan dan kerusakan yang mengitari anak-anak,remaja hingga orang dewasa dan menyerang mereka dari berbagai arah.
Jadi, faktor faktor utama yang menyebabkan adanya potensi penyimpangan perilaku dan gangguan psikologi pada individu secara internal adalah terfokus pada proses pembunuhan,hubungan seks,kondisi psikologi kedua orangtuanya saat dalam kandungan serta pendidikan spiritual dalam kandungan yang menyimpang  dari tuntutan dan bimbingan ilahiyah. Sedangkan secara eksternal adalah terfokus kepada tidak ada atau kurangnya pendidikan agama secara dini,mendasar dan mengakar, tidak adanya ketauladanan baik dari kedua orantua nya atau lingkungan serta terjadinya dikotomis antara agama,pendidikan dan kehidupan.

C.    Akibat Buruk Dari Gangguan Kejiwaan
Akibat-akibat buruk yang akan ditimbulkan oleh sikap, sifat dan perilaku yang tidak sehat secara psikologis dalam perspektif Islam adalah padamnya dan lenyapnya “Nur Ilahiyah” yang menghidupkan kecerdasan-kecerdasan hakiki dari dalam diri seorang hamba sehingga ia sangat sulit melakukan adaptasi baik dengan lingkungan vertikalnya maupun lingkungan horizontal.
Indikasi-indikasi yang menandakan telah kehilangannya Nur Ilahiyah yang menerangi kecerdasan-kecerdasan hakiki yang fitrah itu,antara lain ialah:
1.      Jiwa kehilangan power dan energi untuk mendorong melakukan perbuatan,tindakan dan perjuangan dalam rangka menegakkan sikap perilaku dan potensi mutch-mainnah (ketenangan,kedamaian dan sopan santun), potensi mardhiyah (yang diridhai atau dilapangdada oleh Allah);

2.      Firman-Nya :
ôs%yxn=øùr&`tB$yg8©.yÇÒÈ
ôs%urz>%s{`tB$yg9¢yŠÇÊÉÈ
Artinya: “Sesungguhnya telah beruntunglah siapa saja yang telah mensucikan jiwanya,dan sesungguhnya telah merugilah siapa saja yang telah mengotorinya”(QS Asy Syams,91:9-10)
3.      Maksudnya adalah sungguh beruntung orang yang senantiasa membesarkan dan meninggikan jiwanya dengan mentaati perintah Allah, dan sungguh merugi orang oyang telah mengotori,menghinakan dan mengecilkan jiwanya dengan cara mendurhakai perintah serta larangan-Nya.
4.      Akal pikiran telah kehilangan power dan energi untuk merenungkan, memikirkan dan menganalisa rahasia-rahasi ayay ayat Allah,baik yang tertulis dalam Al-Quran maupun yang tertulis diseluruh alam semesta. Akal fikiran tidak kuasa berfikir tentang hakikat kebenaran dan kebenaran hakikat,bahkan yang paling fatal dari akibat sakitnya mental adalah akal fikiran tidak kuasa mencari dan menemukan jalan-jalan untuk menuju kebenaran Ilahiyah yang dapat memberikan kehidupan yang hidup.
5.      Termasuk akibat dari kedurhakaan kepada Allah adalah ia dapat membuat akal fikiran menjadi rusak, karena dalam pikiran itu ada cahaya,sedangkan kedurhakaan itu akan memadamkan cahaya yang terdapat dalam akal itu. Jika cahayanya telah padam maka tersebut akan menjdai semakin lemah dan berkurang.
6.      Sebagian ulama Salaf mengatakan, bahwa tidak ada seorangpun yang dapat berbuat durhaka kepada Allah,melainkan akal pikirannya akan rusak. Hal ini merupakan suatu realitas,karena apabila akal pikirannya masih dalam keadaan sehat,pasti ia akan dapat mengendalikan dirinya dari perilaku kedurhakaan, sedangkan ia berada dalam genggaman Allah Taa’ala berada dalam kekuasaan-Nya, berada dalam pengawasan-Nya, berada didalam rumah-Nya dan bertempat tinggal di alam yang luas para malaikat-Nya, menyaksikan dan mengawasi-Nya.(Ibdi., p. 114)
7.      Qalbu (hati yang lembut) telah kehilangan power dan energi untuk menangkap dan menerima hidayah,irsyad,firasat dan ilaham,bahkan ia tidak dapat menampakkan ayat-ayat dan rahasia ketuhanan secara kasysyaf (penyingkapan alam gaib). Sehingga,jika hati itu telah mati maka seseorang akan kehilangan rasa kasihsayang,sikap toleransi dan kelembutan,bahkan justru sikap dan sifat kejam,sadis dan bengislah yang tumbuh subur.
8.      Inderawi kehilangan power dan energi untuk menangkap objek dari hakikat lahiriyah ayat-ayat Allah, hakikat fenomena dan peristiwa yang berada/terjadi di lingkungannya. Seperti penglihatan hanya dapat melihat objek lahiriyah,pendengaran hanya dapat menangkap suara dan bunyi lahiriyah,penciuman hanya dapat membau aroma lahiriyah,pengecap hanya dapat mengecap rasa lahiriyah,peraba hanya dapat meraba objek lahiriyah. Sedangkan objek batiniyah tidak ditangkap, yaitu asal-usul dan kondisi objek yang paling dalam lagi hakiki; apakah objek itu halal atau haram,hak atau batil, berasal dari syaitan,iblis,jin atau malaikat dan Allah.
9.      Firman Allah SWT :
zNtFyzª!$#4n?tãöNÎgÎ/qè=è%4n?tãuröNÎgÏèôJy(#n?tãuröNÏd̍»|Áö/r&×ouq»t±Ïî(öNßgs9urë>#xtãÒOŠÏàtãÇÐÈ


Artinya: “Allah telah menutup mati hati dan pendengaran mereka serta penglihatan mereka pun ditutup;dan mereka memperoleh siksa yang besar”.(QS.Al-Baqarah,2;7)
10.  Jasad kehilangan power dan energi untuk tegak berdiri kokoh dalam mengaplikasikan perbaikan,kebenaran,kemanfaatan dan keselamatan yang hakiki akan tetapi justru jasad sangat kokoh dan kuat jika beridir dalam melakukan aktifitas-aktifitas perusakan,kedustaan,kehancuran dan tipu daya.
Apabila seseorang individu,akal,fikiran,qalb,jiwa dan seluruh tubuhnya kotor dan penuh dengan karat-karat kedurhakaan dan dosa kepada Tuhannya, maka ia akan mengalami kehancuran dalam kehidupannya;apabila dalam suatu kelompom kecil,seperti organisasi atau rumahtangga,didalamnya terdapat orang orang yang rusak mental atau jiwanya,maka goncanglah kelompok itu;dan apabila suatu bangsa,negeri atau pemerintahan dikelola oleh seseorang seperti demikian,maka apa yang akan terjadi? Kehancuran lah yang akan muncul;disana sini terjadi pembunuhan,pencurian,perampokan,tipudaya,salingmemfitnah,kejahatan, pelanggaran dan penyimpangan lainnya.
Berikut hal hal yang dapat kita pahami dari peristiwa peristiwa umat terdahulu;apa yang menyebabkan mereka menjadi kerdil dan porak poranda seolah olah tanpa bekas,seperti :
a)      Apa yang menyebabkan iblis dilaknat dan diusir dari kerajaan langit; dan ia berubah bentuk lahir dan batinnya kepada kepada bentuk yang paling buruk dan lebih mengerikan;bahkan kondisi batinnya berubah menjadi lebih buruk dan lebih mengerikan ketimbang bentuk wajahnya; yang dekat diganti dengan yang jauh, rahmat diganti dengan laknat indah diganti dengan jelek,surga diganti dengan neraka yang membakar,imam diganti dengan kufur,bersahabat dengan pemimpin yang terpuji menjadi satu hal yang dimusuhi dan menyusahkan; suara tasbih ;taqdis,dan tahlil diganti dengan hiasan kekafiran, kemunafikan,kedustaan dan kekejian; hiasan keimanan diganti dengan dengan hiasan kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan; sehingga ia dihadapan Allah menjadi makhluk yang paling hina. Kedudukannya jatuh ke tempat yang paling rendah. Ia berhak memperoleh kemurkaan Allah hingga binasa. Hukuman Allah yang berat menimpanya; ia akan menjadi pemimpin orang-orang fasik,pendosa dan iapun rela menjadi pemimpin mereka.
b)      Apa yang menyebabkan angin dapat menguasai kaum Ad, sehingga mereka mati bergelimpangan di atas permukaan tanah bagaikan tunggul-tunggul pohon kurma yang telah lapuk; angin itu memporak-porandakan rumah rumah,sawah sawah,ladang ladang dan hewan hewan ternak mereka.
c)      Apa yang menyebabkan Allah telah mengirim awan siksaan,dimana awan itu laksana payung yang memberi perlindungan kepada Nabi Syu’aib AS. Akan tetapi setelah  awan itu berada diatas kepala orang orang yang menentangnya,tiba tiba tutunlah api yang bernyala-nyala dihadapan mereka.
d)     Apa yang menyebabkan Allah menenggelamkan kapan Fir’aun bersama kaumnya ditangah samudra lalu ruh ruh mereka dipindahkan kedalam neraka jahanam dan tubuhnya ditenggelamkan sedangkan ruh nya dibakar
e)      Mengapa Allah menenggelamkan Qarun, istana, harta benda dan keluarganya hingga rata dengan permukaan bumi.




BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Keberadaan jiwa seseorang akan dapat diketahui melalui sikap, prilaku atau penampilannya, yang dengan fenomena itu seseorang dapat dinilai atau ditafsirkan bahwa kondisi kejiwaan atau rohaniyah dalam keadaan baik, sehat dan benar atau tidak. Penyimpangan-penyimpangan secara psikologis yang dilakuakn oleh individu dan pelanggaran terhadap rambu-rambu Ilahiyah adalah disebabkan dua faktor, faktor dari dalam atau bawaan (internal) dan faktor dari luar (eksternal). Penyimpangan dan pelaanggaran yang di sebabkan karna faktor eksternal adalah lebih banyak terfokus pada bagian sistim pendidikan yang telah diberikan kepada indifidu sejak ia berusia 0 tahun sampai dengan dewasa (25-40 tahun).

B.     Saran
Penulis mengharapkan keritik dan saran yang membangun karna makalah ini jauh dari kesempurnaan.



DAFTAR PUSTAKA

Hamdani Bakran Adz-Dzky. 2004. Konseling dan Psikologi Isla, Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru













DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii
BAB IPENDAHULUAN................................................................................ 1
A.    Latarbelakan......................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah................................................................................. 1
BAB IIPEMBAHASAN................................................................................. 2
A.    Indikasi Gangguan Kejiwaan............................................................... 2
B.     Sebab-Sebab Gangguan Kejiwan (Mental)........................................ 10
C.     Akibat Buruk Dari Gangguan Kejiwaan............................................ 13
BAB IIIPENUTUP....................................................................................... 18
A.    KESIMPULAN................................................................................. 18
B.     Saran................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 19


ii
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar