ya

Sabtu, 18 Oktober 2014

TINJAUAN UMUM TENTANG PSIKOTERAPI DALAM ISLAM (KELMPOK VI)



TUGAS KELOMPOK                                         DOSEN PEMBIMBING
Psikoterapi Islam                                                   M. Fahli Zatra Hadi. M.Pd

            TINJAUAN UMUM TENTANG PSIKOTERAPI           
DALAM ISLAM

  DISUSUN OLEH:

  KELOMPOK VI
    RATNA SARI DEWI  
RISKA PRATAMA

JURUSAN BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM
RIAU
2014/2015


KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan kesehatan kepada Penulis sehingga Penulis dapat menyelesaikan Makalah  mengenai Tinjauan Umum Tentang Psikoterapi Dalam Islam. Tidaklupa pula Penulisucapkanterimakasihatasbimbingan yang telahdiberikanolehDosenPembimbingBapakM. Fahli Zatra Hadi, M.Pd sehinggaPenulisdapatmenyelesaikanMakalahini.
            Meskipuntelahberusahadengansegenapkemampuan, namunPenulismenyadaribahwaMakalahinimasihjauhdarikesempurnaankarenaPenulismasihdalamtahapPerkuliahan.Olehsebabitu, dengankerendahanhatiPenulismengharapkankritikdan saran yang positifgunapenyempurnaanMakalahini.
            SemogaMakalahinidapatmemberikanmanfaatdandapatdijadikansebagaisumberinformasibagipembaca.Atas kritik dan saran yang positif dari pembaca, Penulis ucapkan terima kasih.



Pekanbaru, 23 September 2014


Penulis

 
  
 BAB I
PENDAHULUAN
A.    LatarBelakang
Manusia sebagai makhluk yang diciptakan lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk yang lainnya, tentu juga masih memiliki kekurangan dan kelemahan. Sebab yang maha sempurna hanyalah sang pencipta. Dalam menjalani kehidupan di dunia manusia tidak lepas dari berbagai masalah yang muncul karena kekuranga dan kelemahan yang dimilikinya. Masalah yang muncul dapat berasal dari dalam diri maupun dari lingkungannya.
Masalah yang muncul tersebut dikenal sebagai gangguan atau penyakit, ada yang disebut dengan penyakit fisik adapula penyakit hati atau penyakit jiwa. Penyakit fisik dapat disembuhkan dengan berbagai jenis obat baik tradisional maupun obat modern. Sedangkan untuk pengobatan penyakit jiwa dapat dilakukan melalui terapi, yang dalam dunia psikologi disebut dengan psikoterapi yang memiliki berbagai fungsi dan tujuan untuk memberikan pertolongan.
B.     Rumusan Masalah
1.    Bagaimana fungsi  psikoterapi Islam?
2.    Bagaimana tujuan psikoterapi Islam ?
3.    Bagiamana paradigma psikoterapi Islam ?
C.    Tujuan
Tujuandaripembuatanmakalahiniuntukmengetahuidanmemahamitentangfungsi, tujuan dan paradigma psikoterapi Islam.


 BAB II
PEMBAHASAN

A.      Fungsi dan Tujuan Psikoterapi
Sebagai suatu ilmu tentu saja Psikoterapi Islam mempunyai fungsi dan tujuan yang komplit, nyata dan mulia.
a.         Fungsi psikoterapi
Ada beberapa fungsi psikoterapi islam, yaitu:
1.    Fungsi pemahaman (Understanding)
Memberikan pemahaman dan pengertian tentang manusia dan prolematikanya dalam hidup dan kehidupan serta bagaimana mencari solusi dari problematika itu secara baik, benar dan mulia. Memberikan pemahaman pula bahawasanya ajaran Islam (Al-Qur’an dan As-Sunnah) merupakan sumber yang paing lengkap, benar dan suci untuk menyelesaikan berbagai problematika yang berkaitan dengan pribadi manusia dengan Tuhan-nya, pribadi manusia dengan dirinya sendiri, pribadi manusia dengan lingkungan keluarganya, pribadi manusia dengan lingkungan sosialnya.
2.      Fungsi pengendalian (Control)
Memberikan potensi yang dapat mengarahkan aktifitas setiap hamba Allah agar tetap terjaga dalam pengendalian dan pengawasan Allah Ta’ala. Sehingga tidak akan keluar dari hal kebenaran, kebaikan dan kemanfaatan.
3.      Fungsi peramalan atau analisis (Prediction)
Sesungguhnya dengan ilmu, seseorang akan memiliki potensi dasar untuk dapat melakukan analisa kedepan tentang segala peristiwa, kejadian dan perkembangan.
4.      Fungsi pengembangan (development)
Mengembangkan ilmu keislaman, khususnya tentang manusia dan seluk-beluknya, baik yang berhubungan dengan problematika ketuhanan menuju keinsanan; baik yang bersifat teoritis, aplikatif maupun empirik. Bahkan bagi yang mempelajari dan mengaplikasikan ilmu, ia pun berarti melakukan proses pengembangan eksistensi keinsanannya menuju kepada esensi keinsanan yang sempurna.
5.      Fungsi pendidikan (Education)
Hakikat pendidikan adalah meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, misalnya dari keadaan tidak tahu menjadi tahu, dari buruk menajadi baik, atau dari yang sudah baik menjadi lebih baik lagi. Fungsi utama datangnya para Nabi dan Rasul adalah memberikan pendidikan kepada seluruh umat manusia, agar menjadi pandai, kritis dan brillian. Dengan potensi itu seorang manusia akan dapat menjadi seorang manusia yang unggul dan sempurna (INSAN KAMIL) dimata Tuhan-nya. Psikoterapi islam memberikan bimbingan dalam proses pendidikan melepaskan diri dari bekasan-bekasan dosa dan kedurhakaan serta pengaruh-pengaruh negatif lainnya.
Disamping fungsi-fungsi utama tersebut, masih ada fungsi yang bersifat spesifik, yaitu:
1.    Fungsi pencegahan (Prevention)
Dengan mempelajari dan memahami ilmu ini, seseorang akan dapat terhindar dari hal-hal, keadaan atau peristiwa yang membahayakan dirinya, jiwa, mental, spritual atau moralnya.
2.    Fungsi penyembuhan / perawatan ( Treatment)
Psikoterapi islam akan membantu seseorang akan melakukan pengobatan, penyembuhan dan perawatan terhadap gangguan atau penyakit, khususnya terhadap gangguan mental, spiritual dan kejiwaan seperti dengan berzikir.
3.    Fungsi pensucian atau pembersihan (Sterilisasi or purification)
Psikoterapi islam melakukan upaya pensucian-pensucian diri dari bekasan-bekasan dosa dan kedurhakaan dengan pensucian najis (istinja’), pensucian yang kotor (mandi), pensucian yang bersih (wudhu), pensucian yang suci / fitri (shalat taubat) dll.
b.         Tujuan psikoterapi islam
1.        Memberikan pertolongan keapada setiap individu agar sehat jasmaniyah dan rohaniyah, atau sehat mental, spiritual dan moral, atau sehat jiwa dan raganya
2.        Menggali dan mengembangkan potensi esensial sumber daya insani
mengantarkan individu kepada perubahan konstruksi dalam kepribadian dan etos kerja
3.        Meningkatkan kualitas keimanan, keislaman, keihsanan dan katauhidan dalam kehidupan sehari-hari dan nyata
4.        Mengantarkan individu mengenal, mencintai dan berjumpa dengan esensi diri, atau   jati diri dan citra diri serta zat yang maha suci yaitu Allah SWT.[1]
Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikodinamik menurut Ivei et al (1987) adalah “membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari”. Dan tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisis menurut Corey (1991) sama dengan pendekatan psikodinamik menurut Ivei, yaitu dirumuska sebagai “membuat sesuatu yang tudak sadar menjadi sesuatu yang disadari”. Sedangkan psikoterapi dengan pendekatan rogerian terpusat pada pribadi, menurut Corey (1991)  adalah “untuk memberikan suasana aman dan bebas agar klien bisa mengeksplorasi dirinyadengan enak, sehingga ia bisa mengenali hal-ha yang mencegah pertumbuhannya dan bisa mengalami aspek-aspek pada dirinyayang sebelumnya ditolak atau terhambat.[2]
B.       Paradigma Psikoterapi Islam
Paradigma adalah sistem atau model konseptual yang mrnggambarkan suatu aspek kenyataan dimana nantinya dapat ditarik kesimpulan-kesimpulan tentang bagaimana atau apa langkah-langkah yang harus diambil untuk menjalankan suatu penelitian.
Paradigma psikoterapi islam jelas berakar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah (normatif), Empiris (pengalaman) dan Science (ilmu pemgetahuan), yakni dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.    Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah wahyu Allah Ta’ala yang telah diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada Rasul-nya Muhammad saw. melalui seorang malaikat Jibril as. Adapun arti penyembuhan/obat (syifa) yang terdapat  dalam Al-Qur’an menunjukkan bahwa Al-Qur’an itulah akal yang menyembuhkan bagi siapa saja yang meyakininya. Al-Qur’an sebagai penyembuh dibagi menjadi dua bagian:
Ø  Bersifat umum. Seluruh isi Al-Qur’an secara maknawi, surat-surat, ayat-ayat, maupun huruf-hurufnya memiliki potensi penyembuh atau obat.
Ø  Bersifat khusus. Bukan seluruh Al-Qur’an, melainkan hanya sebagain, bahwa ada dari ayat-ayat atau surat-surat dapat menjadi obat atau penyembuh terhadap suatu penyakit secara spesifik bagi orang-orang yang beriman dan meyakini akan  kekuasaan Allah Ta’ala, sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Israa yang artinya: “Dan kami menurunkan sebagian dari Al-Qur’an sebagai obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Al-Israa:82). Ayat yang memiliki kekhususan yaitu:  Asmaul husna, kalimat basmalah, surah Al-Fatihah dan beberapa surah yang lainnya, seperti Q.S Al-Baqarah, Q.S Al-Kahfi.
2.    As-Sunnah (Al-Hadits)
Ada beberapa  hadits yang menyatakan bagaimana Rasulullah saw. melakukan penyembuhan secara psikoterapi diantaranya:
Dari Abu Said ra. ia menyatakan bahwa malaikat Jibril as. berkata kepada Rasulullah saw: “Wahai Muhammad apakah anda sedang sakit? Nabi saw. menjawab: “benar”. Berkata Jibril as: “Dengan nama Allah aku mambaca mantra (do’a) untuk-mu dari segala sesuatu yang menyusahkan mu, dari semua jiwa atau mata orang yang dengki. Allah akan menyembuhkan mu. Dengan nama Allah aku membacakan mantra (do’a) untuk menangkalmu.
Dari ‘Aisyah ra. beliau menyatakan: “Bahwasanya apabila Rasulullah saw. sakit, beliau membaca dua surah Al-Qur’an (Al-Falaq dan An-Naas) untuk dirinya dan meniupkannya. Kemudian ketika sakitnya bertambah keras, maka  sayalah yang membacanya lalu saya usapkan ketempat yang sakit itu dengan menggunakan tangan beliau, demi mengharapkan berkahnya. (HR. Muslim)
3.    Empirik (pengalaman) orang-orang shaleh
Pengalaman para sahabat ketika ditengah-tengah perkampungan mereka menemukan seorang kepala suku atau suatu kaum yang tersengat binatang binatang berbisa. Salah seorang dari sahabat Nabi Muhammad saw. mengobati dan menghilangkan bisa itu dengan membaca surah Al-Fatihah.
Demikian pula Syekh Ibnu Al Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya Ad Daa’wa Ad Dawaa’, beliau menceritakan pengalamannya: “Ketika saya bermukim di kota Mekkah beberapa waktu saya pernah terkena suatu penyakit, dan saya pun telah berupaya untuk menemukan seorang dokter maupun obat, namun tidak seaorangpun dokter dan satu obatpun yang saya temukan. Akhirnya, saya mencoba menyembuhkannya sendiri dengan menggunakan surah Al-Fatihah setelah berlangsung beberapa lama, saya melihat hasilnya yang begitu menakjubkan.[3]


                                                                           BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Ada beberapa fungsi dari psokoterapi Islam, yaitu: fungsi pemahaman, fungsi pengendalian, fungsi peramalan, fungsi pengembangan dan fungsi pendidikan. Disamping itu ada pula fungsi yang bersifat spesifik, yaitu: fungsi pencegahan, fungsi penyembuhan dan perawatan, fungsi pensucian dan fungsi pembersihan. Berdasarkan fungsi tersebut, tujuan utama psikoterapi Islam adalah mengembangkan kesehatan mental pada diri pribadi dan masyarakat serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah.
Paradigma psikoterapi islam jelas berakar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah (normatif), Empiris (pengalaman) dan Science (ilmu pemgetahuan), yakni: Al-Qur’an, As- Sunnah dan Empirik. Psikoterapi Islam tidak hanya membantu manusia sehat secara psikologis, tetapi juga membantu meningkatkan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.
B.     Kritikdan Saran
Adapunkritikdan saran daripembaca yang sifatnyamembangundanmemperbaikisangat kami harapkan agar kami dapatmenulisdenganlebihbaiklagi.


 DAFTAR PUSTAKA

Bakran Adz-Dzaky, Hamdani. 2002.Konseling dan Psikoterapi Islam, Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.
Gunarsa, Singgih D. 2003.Konseling dan Terapi, Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.




[1]M. Hamdani Bakran Adz-Dzaky, Konseling dan Psikoterapi Islam, Fajar Pustaka Baru, Yogjakarta, 2002, p. 270-279.
[2]Singgih D Gunarsa, Konseling dan Terapi, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta,  2003, p. 159.
[3]M. Hamdani Bakran Adz-Dzaky, Konseling dan Psikoterapi Islam, Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta, 2002,  p. 279-294

Tidak ada komentar:

Posting Komentar