TUGAS
TERSTRUKTUR
DOSEN
PEMBIMBING
PSIKOTERAPI
ISLAM
M.Fahli Zatra Hadi,M.Pd
INDIKASI JIWA YANG SEHAT DALAM
KONSEP ISLAM

DI SUSUN OLEH:
KELOMPOK 10
FIKA PUJIATI
REFNY ZELLY SANDOVA
JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS NEGERI SULTAN SHARIF
KASIM RIAU
PEKANBARU
2014/2015
KATA PENGANTAR
Alhamdulilah penulis ucapkan kehadirat Allah Swt yang telah
memberikan nikmat kesehatan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah
tentang INDIKASI JIWA YANG SEHAT DALAM KONSEP ISLAM,makalah ini dibuat untuk
memenuhi tugas mata kuliah Psikoterapi islam.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada bapak
M.Fahli Zatra Hadi,M.Pdselaku dosen mata kuliah psikoterapi islam,karena beliau
telah membimbing penulis hingga makalah ini selesai.terima kasih juga buat
teman teman,karena telah memberikan masukan sehingga penulis bisa menyelesaikan
makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari sempurna,oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang
bersifat membangun selalu penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Pekanbaru, september
2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………I
DAFTAR ISI…………………………………………………………………..II
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar belakang………………………………………………………….. 1
B.Rumusan masalah……………………………………………………….. 1
C.Tujuan……………………………………………………………........... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.Kecerdasan Rububiyah …………. …………………………………… 2
B. Kecerdasan Ubudiyah…………….…….. ……………………......
4
C.Kecerdasan khuluqiyah………………………………………………
5
BAB III PENUTUP
A.Kesimpulan……………………………………………………….......
9
B.Saran…………………………………………………………………. 9
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.LATAR
BELAKANG
Di
era globalisasi ini banyak manusia yang diciptakan oleh allah mempunyai kecerdasan yang sangat luar biasa. Dengan Kecerdasan yang dimiliki itu, seseorang bisa
saja menjadi ilmuan atau pakar dalam bidang ilmu kimia, tekhnik, kedokteran,
atau cabang ilmu yang lainnya.
Kecerdasan
merupakan sebuah pola pikir yang dimiliki manusia sejak manusia itu dilahirkan
didunia. Kecerdasan yang dimiliki manusia diantaranya kecerdasan rububiyah,
kecerdasan ubudiyah,dan kecerdasan khuluqiyah. Luasnya ilmu pengetahuan yang
dimiliki manusia tidak terlepas dari ketiga kecerdasan tersebut. Dengan ketiga
kecerdasan ini kehidupan manusia lebih tentram dan damai.
B.RUMUSAN
MASALAH
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah:
1.apa
saja kecerdasan rububiyah..?
2.apa
saja kecerdasan ubudiyah…?
3.apa
saja kecerdasan khuluqiyah..?
C.TUJUAN
Tujuan makalah
ini adalah untuk memenuhi (tugas kelompok) psikoterapi islam.
BAB
II
PEMBAHASAN
Indikasi
Jiwa Yang Sehat Dalam Konsep Islam
A.Kecerdasan
Rububiyah
Kecerdasan rububiyah ialah kemampuan
fitrah seorang hamba yang shalih dalam
hal antara lain:
a. Memelihara
dan menjaga diri dari hal-hal yang dapat menghancurkan kehidupannya baik dibumi
maupun dilangit atau di dunia hingga akhirat.
b. Mendidik
dan mengajar diri agar menjadi seorang hamba yang pandai menemukan esensi jati diri
(nur Muhammad) dan esensi citra diri (insan kamil), dengan kekuatan ilmu
laduni.
c. Memimpin
dan membimbing diri jasmaniah dan rohaniyah secara bersama sama secara bersama
sama secara totalitas untuk dapat tunduk dan patuh kepaa allah serta dapat
memberikan kerahmatan pada diri dan lingkungannya.
Firman allah SWT:
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR
Artinya: Wahai orang orang yang telah beriman, peliharalah
dirimu dan keluarga
Mu dari api neraka….(At-Tahrim,66:6).
d. Menyembuhkan
dan menyucikan diri dari penyakit dan gangguan yang dapat melemahkan bahkan
menghancurkan potensi jiwa, akal fikiran, qalbu dan inderawi didalam menangkap dan
memahami kebenaran kebenaran hakiki dengan melakukan pertaubatan dan perbaikan
diri seutuhnya.
Pendidikan, pengajaran, pengawasan dan kepemimpinan
yang sangat berhasil adalah yang dimulai dari dalam diri individu, karena
esensi diri adalah pintu untuk memasuki alam besar (makrokosmos).
Allah
berfirman:
* tbrâßDù's?r& }¨$¨Y9$# ÎhÉ9ø9$$Î/ tböq|¡Ys?ur öNä3|¡àÿRr& öNçFRr&ur tbqè=÷Gs? |=»tGÅ3ø9$# 4 xsùr& tbqè=É)÷ès?
Artinya: mengapa kamu perintahkan orang lain(manusia)
untuk mengerjakan kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu
selalu membaca kitab? Mengapa kamu tidak berfikir.(al-baqarah,2:44).
Seorang mukmin
sejati wajib memulai sesuatu dari dirinya sebelum dia mengajak orang lain.
Adalah mudah bagi seseorang untuk mengaku beragama akan tetapi memang sulit
untuk mempraktikkannya pada diri sendiri dan menjadikan dirinya sebagai qudwah
yang bisa dicontoh oleh umat manusia.
Niat dan iktikad orang yang bertaqwa dalam menuntut ilmu
dan pengetahuan adalah dalam rangka mencari keridhaan, kecintaan dan perjumpaan
dengannya serta memperoleh keselamatan dan kemanfaatan di dunia hingga di
akhirat. Segala sesuatunya selalu ia mulai dari dirinya sendiri, setelah itu di
sampaikan kepada lingkungannya.
Perbedaan nuansa dan otoritas keilmuan seseorang bukan
terletak pada banyak dan luasnya pengetahuan yang dimilikinya semata, akan
tetapi sejauh mana orang itu telah memahami. Mengaplikasikan ilmu itu dalam
dirinya secara mendalam, serta pengalaman dan kecerdasan rububiyahnya yang
sangat tinggi dan hidup. Oleh karena itu, nasehat nasehat yang disampaikan oleh
seseorang yang hanya berdasarkan pengetahuan secara teoritik, sangatlah berbeda
dengan nasehat dari seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan teoritik lalu ia
hidupkan ilmu pengetahuan itu dalam aplikasi dan empirik dibawah bimbingan dan
perlindungan fitrah tuhannya.
Indikasi seseorang yang telah memperoleh kecerdasan
rububiyah biasanya ia memiliki kekuatan, kewibawaan dan otoritas yang sangat
kuat dalam hal, antara lain:
1.
Menanamkan nilai-nilai kebaikan dan
kebenaran, baik kedalam dirinya sendiri ataupun orang lain dan lingkungannya,
yang mana orang lain dan lingkungannya itu tidak pernah merasa terpaksa dan
dipaksa untuk turut melakukan kebaikan dan kebenaran itu, akan tetapi semata
mata karena hadirnya keyakinan dan kemantapan yang bersumber dari nurani dan
fitrah.
2.
Mempengaruhi dan mengajak hati nurani
diri sendiri ataupun orang lain dan lingkungannya untuk melakukan perbaikan dan
perubahan yang positif pada prilaku, sikap dan penampilan secara tulus dan
lapang dada tanpa ada rasa keterpaksaan dan tekanan.
3.
Memberikan penyembuhan terhadap
penyakit, baik penyakit yang bersifat psikologis, spiritual, moral ataupun
fisik.
4.
Memberikan perawatan terhadap kualitas
keimanan, keislaman, keikhsanan dan ketauhidan, baik pada diri sendiri atau
orang lain dan lingkungannya.
Kecerdasan rububiyah itu sangat terlihat pada diri dimana
sebelum mereka menyeru dan mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan dan
kebenaran, mereka telah menjadikan diri mereka terlebih dahulu sebagai figur
yang pakar tentang kebaikan dan kebenaran, serta bagaimana cara memahami,
menghayati, mengamalkan dan mengalami kebenaran dan kebaikan itu, baik
dihadapan tuhannya maupun dihadapan makhluknya.
Sebelum mereka memimpin dan membimbing orang lain, mereka
telah pakar memimpin dan membimbing diri mereka sendiri menuju kepada perbaikan
dan kebenaran.begitu pula sebelum mereka menyembuhkan dan menyucikan orang lain
dari penyakit dan kotoran yang mengotori jiwa dan rohani, mereka telah berhasil
dengan gemilang menyembuhkan dan menyucikan jiwa dan rohani mereka dari penyakit-penyakit
dan kotoran kotoran dengan melakukan pertaubatan, ketaatan, dalam kehidupan
mereka secara konsisten dan disiplin yang tinggi.
B.Kecerdasan Ubudiyah
Kecerdasan ubudiyah ialah kemampuan
fitrah seorang yang shalih dalam mengaplikasikan ibadah dengan tulus tanpa
merasa terpaksa dan dipaksa, akan tetapi menjadikan ibadah sebagai kebutuhan
yang sngat primer dan merupakan makanan bagi rohani dan jiwanya.
Firman Allah:
÷Pr& öNçGYä. uä!#ypkà øÎ) u|Øym z>qà)÷èt ßNöqyJø9$# øÎ) tA$s% ÏmÏ^t7Ï9 $tB tbrßç7÷ès? .`ÏB Ï÷èt/ (#qä9$s% ßç7÷ètR y7yg»s9Î) tm»s9Î)ur y7ͬ!$t/#uä zO¿Ïdºtö/Î) @Ïè»yJóÎ)ur t,»ysóÎ)ur $Yg»s9Î) #YÏnºur ß`øtwUur ¼ã&s! tbqßJÎ=ó¡ãB ÇÊÌÌÈ
Artinya:Adakah kamu hadir ketika ya’qub kedatangan (tanda
apa yang kamu sembah sepeninggalku?”mereka menjawab. Kami akan menyembah
tuhanmu dan tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, ismail dan ishaq, (yaitu) tuhan yang
maha esa dan kami hanya tunduk patuh kepadanya.(al-baqarah,2:133).
Seseorang tidak akan mungkin dapat melakukan sekumpulan
ibadah dengan penuh rasa tulus, lapang dada dan semangat yang tinggi, kecuali
allah telah menganut gerakan kepadanya kecerdasan ubudiyah. Setiap ia
memperbanyak ibadahnya kepada allah maka terasa baginya semakin kurang ibadah
itu.
Ibarat orang yang sangat dahaga dalam suatu perjalanan
yang jauh di tengah tengah teriknya matahari, semakin banyak minum semakin
terasa dahaganya. Begitulah orang orang yang shalih dalam melakukan ibadah di
hadapan rabnya.
C.Kecerdasan Khuluqiyah
Kecerdasan khuluqiyah ialah kemampuan fitrah seseorang
yang shalih dalam berprilaku, bersikap dan berpenampilan terpuji sebagaimana
Rasulullah SAW. Perkataan yang keluar dari lisan mengandung kebenaran dan
hikmah, tutur kata lembut, sopan dan terlepas dari ungkapan ungkapan yang dapat
mengandung cela dan celaka diri dan orang lain. Demikian pula sikap, perbuatan
dan penampilan menjadi tauladan dan kebaikan dan kebenaran yang nyata serta
kenyataan yang baik dan benar bagi siapa saja yang memandangnya.
Dalam makna etomologis kata “khuluq” berasal dari kata
khulq”yang berarti:tabiat,budipekerti,kebiasaanatauadat,keperwiraan,kesatrian,kejantanan,agama
dan kemarahan.[2]
Karena itu akhlak adalah suatu keadaan yang melekat pada
jiwa manusia, yang dari padanya lahir perbuatan perbuatan dengan mudah, tanpa
melalui proses pemikiran, pertimbangan atau penelitian. Apabila keadaan
tersebut melahirkan perbuatan yang baik dan terpuji menurut pandangan akal dan
hukum islam, disebut dengan akhlak yang buruk.
Suatu perbuatan atau prilaku dapat dikatakan sebagai
akhlak apabila telah memenuhi dua syarat, yaitu:
Pertama, perbuatan dilakukan dengan berulang ulang apabila
suatu perbuatan hanya dilakukan sesekali saja, maka perbuatan itu tidak dapat
dikatakan sebagai akhlak.misalnya, pada suatu saat ada seseorang yang jarang
berderma tiba tiba memberikan uang kepada orang lain karena alasan tertentu.
Dengan tindakan ini ia tidak dapat disebut murah hati atau berakhlak dermawan
karena hal itu tidak melekat pada jiwanya.
Kedua, perbuatan timbul dengan mudah tanpa dipikirkan
atau diteliti lebih dalam sehingga ia benar benar merupakan suatu kebiasaan.
Jika perbuatan itu timbul karena terpaksa atau setelah dipikirkan dan
dipertimbangkan secara matang, tidaklah disebut sebagai akhlak.
Firman Allah SWT:
y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OÏàtã ÇÍÈ
Artinya:Sesungguhnya kamu benar benar memiliki
akhlak(budi pekerti) yang agung.”(Al-Qalam,68:4).
Akhlak, budi pekerti atau prilaku yang rasulullah
SAW.ajarkan dan contohkan adalah bersumber dari alquraan yang datangnya dari
dzat yang maha suci, maha terpuji dan maha mulia. Itulah akhlak islamiyah.
Akhlak, budi pekerti atau prilaku islamiyah ini mempunyai
identitas yang sangat khas, yaitu antara lain:
1. Kebaikannya
bersifat mutlak (al-khairiyah al-muthlaqah), yaitu kebaikan yang terkandung
dalam akhlak islam merupakan kebaikan yang murni, baik untuk individu maupun
untuk masyarakat, di dalam lingkungan, keadaan, waktu, dan tempat apapun.
2. Kebaikannya
bersifat menyeluruh (as-salahiyyah al-ammah), yaitu kebaikan yang terkandung
didalamnya merupakan kebaikan untuk seluruh umat manusia di segala zaman dan
disemua tempat.
3. Tetap,
langgeng dn mantap. Yaitu kebaikan yang terkandung didalamnya besifat tetap,
tidak berubah oleh perubahan waktu dan tempat atau perubahan kehidupan
masyarakat.
4. Kewajiban
yang harus dipatuhi (al-ilzam al-mustajab), yaitu kebaikan yang terkandung
dalam akhlak islam merupakan hukum yang harus dilaksanakan sehingga ada sanksi
hukum tertentu bagi orang orang yang tidak melaksanakannya.
5. Pengawasan
yang menyeleruh (ar-raqabah al-muhithah). Karena akhlak islam bersumber dari
tuhan, maka pengaruhnya lebih kuat dari akhlak ciptaan manusia, sehingga
seseorang tidak berani melanggarnya kecuali setelah ragu ragu dan kemudian akan
menyesali perbuatannya untuk selanjutnya bertaubat dengan sungguh sungguh dan
tidak mengulanginya lagi. Ini dapat terjadi karena agama merupakan pengawas
yang kuat. Pengawas lainnya adalah hati nurani yang hidup yang didasarkan pada
agama dan akal sehat yang dibimbing oleh agama dan hidayah.
Seseorang yang telah menapak perjalanan puncak dari
ketauhidannya terhadap allah
SWT. Secara aplikatif dan empirik, maka akhlak,
prilaku dan sikapnya senantiasa berorbitasi dalam cahaya(nur) af’al dan
sifatnya yang mulia dan suci. Ia akan berkata kata, berbuat, bersikap dan
berpenampilan dengan dan didalam af’al dan sifat sifatnya itu.
Firman allah SWT:
ª!$#ur ö/ä3s)n=s{ $tBur tbqè=yJ÷ès? ÇÒÏÈ
Artinya:Dan
allah telah menciptakan kamu semua, dan apa apa yang kamu perbuat
(ash-saffaat,37:96).
Siapa saja yang telah mencapai tingkat ketauhidannya
dengan kesabaran menjalankan perintah, menjauhi larangan dan menerima
ujian-nya, memelihara hak-hak nya karena rasa takut takwa kepadanya serta
berbuat kebajikan dan kebaikan, maka allah akan senantiasa hadir dan besemayam
dalam eksistensi diri, jati dan citra dirinya.
Dalam kondisi seperti itulah kecerdasan khuluqiyah akan
eksis ke permukaan perbuatan, sifat, karakter dan penampilan. Kecerdasan itu
pula yang dapat me-manage, menjaga dan memelihara seluruh prilaku dan sikap
bersama prilaku dan sikap allah SWT.
Firman allah SWT:
¬!ur âä!$oÿôF{$# 4Óo_ó¡çtø:$# çnqãã÷$$sù $pkÍ5 (
Artinya:Dan allah memiliki nama nama(sifat-sifat)
yang indah, maka memohonlah kepadanya dengan nama nama (sifat-sifat) itu.(al-a’raaf,7:180).
Suatu permohonan, perbuatan dan penghambaan yang suci dan
terlepas dari tipu daya berada didalam dan dengan nama dan sifat-sifat allah.
Perintah ayat diatas merupakan perintah aplikasi ketauhidan yang harus
dilaksanakan oleh setiap hamba yang senantiasa mengharapkan perjumpaan dan
kecintaannya yang hidup, nyata, yang tidak dapat diutarakan melalui kata dan
kalimat makhluk.
Kecerdasan khuluqiyah secara esensi ia terbit dari
Sembilan puluh Sembilan sifat atau nama allah yang telah tertanam dalam jiwa
dan rohani siapa saja yang telah fana(lebur) di dalamnya dan baqa (kekal)
dengannya. Kecerdasan itu termanifestasi dalam perbuatan, tingkah laku dan
sikap secara otomatis tanpa dipaksa dan terpaksa.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Kecerdasan rububiyah ialah kemampuan
fitrah seorang hamba yang shalih.Kecerdasan
ubudiyah ialah kemampuan fitrah seorang yang shalih dalam mengaplikasikan
ibadah dengan tulus tanpa merasa terpaksa dan dipaksa, akan tetapi menjadikan
ibadah sebagai kebutuhan yang sangat primer dan merupakan makanan bagi rohani
dan jiwanya. Kecerdasan khuluqiyah ialah kemampuan fitrah seseorang yang shalih
dalam berprilaku, besikap dan berpenampilan terpuji sebagaimana rassullah saw.
Oleh karena itu, ketiga kecerdasan
yang dimiliki manusia bisa menyembuhkan dan menyucikan jiwa dan rohani mereka
dari penyakit penyakit dan kotoran kotoran dengan melakukan pertaubatan,
ketaatan, dalm kehidupan mereka secara konsisten dan disiplin yang tinggi.
B.Saran
Semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah
pengetahuan pembaca tentang kecerdasan
manusia. Kritik dan saran yang bersifat
membangun pada makalah ini sangat penulis harapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Hamdani Bakran Adz-Dzaky. 2002.
Konseling dan psikoterapi islam, Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar