Psikoterapi Islam M. Fahli Zatra
Hadi, M. Pd
Konsep Manusia dan Problematikanya

DI SUSUN OLEH:
Kelompok I
Dewita Ramadani
Mukhlil Rimaman
Rahmi Ainun
JURUSAN BIMBINGAN
KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN
ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS NEGERI
SULTAN SHARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
2014
KATA PENGANTAR
Segalapujibagiallah yang
telahmemberikannikmatsertahidayahnyaterutamanikmatkesempatandankesehatansehingga
kami dapatmenyelesaikanmakalah yang berjudul“Konsep Manusia dan
Problematikanya”. Kemudianshalawatbesertasalamkitasampaikankepadanabibesarkita
Muhammad SAW yang telahmemberikanpedomanhidupyakni
al-qur’andansunnahuntukkeselamatanumat di dunia.
MakalahinimerupakansalahsatutugasmatakuliahPsikoterapi Islam di program studi BKI FakultasDakwahdanIlmuKomunikasi. SelanjutnyapenulismengucapkanterimakasihkepadabapakM. Fahli Zatra Hadi, M. Pd. SelakudosenpembimbingmatakuliahPsikoterapi
Islam dankepadasegenappihak yang
telahmemberikanbimbingansertaarahanselamapenulisanmakalahini.
Akhirnyapenulismenyadaribahwabanyakterdapatkekurangan-kekurangandalampenulisanmakalahini,makadariitupenulismengharapkankritikdan
saran yang konstruktifdariparapembaca demi kesempurnaanmakalahini.
Pekanbaru, 23 September 2014
Penulis
i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
.................................................................................................. i
Daftar Isi............................................................................................................. ii
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang ........................................................................................ 1
- Tujuan ..................................................................................................... 1
BAB II
PEMBAHASAN
a. Definisi Manusia
.................................................................................... 2
b. Asal-Usul Manusia
................................................................................ 3
c. Potensi Manusia
.................................................................................... 4
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan .......................................................................................... 8
- Saran .................................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Manusia
adalah salah satu makhluk allah yang paling sempurna, baik dari aspek
jasmaniyah maupun rohaniyahnya. Karena kesempurnaan itulah, maka untuk dapat
memahami, mengenal secara dalam dan totalitas dibutuhkan keahlian yang
spesifik. Dan hal itu tidak mungkin dapat dilakukan tanpa melalui studi yang
panjang dan hati-hati tentang “manusia” melalui al-qur’an dan sudah tentu harus
dibawah bimbingan dan petunjuk allah, serta berparadigma kepada proses
pertumbuhan dan perkembangan eksistensi diri yang terdapat pada para nabi,
rasul dan khususnya Nabi Muhammad SAW.
Asal-usul
manusia secara esensial berasal mula dari allah, bersifat Nur (cahaya), ruh
(hidup) dan gaib (tidak nampak oleh mata kasar).
Kemudian
manusia dihadapan allah bukanlah seperti makhluk-makhluknya yang lain, akan
tetapi seorang makhluk yang memiliki kelebihan luar biasa. Hal itu terbukti
dengan cara allah memberikan amanah kepada manusia sebagai “KHALIFAH” yang
berfungsi sebagai penggantinya dalam hal mengatur alam dan ekosistem ilahiyah
yang rahmatan lil’alamin.
B.
Tujuan
1. Agar
kita bisa memahami definisi manusia
2. Agar
kita bisa mengetahui asal-usul manusia
3. Agar
kita bisa mengetahui bagaimana potensi manusia
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi
Manusia
Manusia
adalah salah satu makhluk allah yang paling sempurna, baik dari aspek
jasmaniyah maupun rohaniyahnya. Karena kesempurnaannya itulah, maka untuk dapat
memahami, mengenal secara dalam dan totalitas dibutuhkan keahlian yang
spesifik.
Secara
etimologi istilah manusia di dalam al-qur’an ada empat kata yang dipergunakan,
yakni:
1.
Ins,
Insan dan Unas
Kata-kata
“Insan” diambil dari asal kata “Uns” yang mempunyai arti jinak, tidak
liar, senang hati, tampak atau terlihat, seperti yang terdapat dalam firman
allah SWT yang artinya:
“Sungguh, kami telah menciptakan manusia
dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (At-tin, 95:4)
Kesempurnaan
manusia itu dapat kita lihat pada asal kata “ins” berarti seorang manusia, sedangkan “insani” bahwa manusia mempunyai dua unsur kemanusiaannya, yaitu
aspek lahiriyah dan aspek batiniyah.
Sedangkan
kata Ins dan Unas, hal itupun menunjukkan makna, bahwa sifat dasar manusia
adalah fitri yang terpancar dari alam rohaninya, yaitu gemar bersahabat, ramah,
lemah-lembut dan sopan santun serta taat kepada allah.
2.
Basyar
Kata
basyar berasal dari maknanya yaitu
menimbulkan rasa senang, bahagia, dan gembira bagi siapa saja yang melihatnya.
3.
Bani
Adam
Arti
kata “Bani Adam” ialah anak adam atau
putra nabi adam, sebagaimana firmannya yang artinya:
“Wahai anak adam, janganlah syetan itu benar-benar
dapat menipumu, sebagaimana kedua orang tuamu telah ia keluarkan dari surga...”.
(Al-A’raf, 7:27)
4.
Dzurriyat
Adam
Sebagaimana
dalam QS. Maryam ayat 58 menjelaskan bahwa:
“mereka itulah orang yang telah diberi nikmat
oleh allah, yaitu dari (golongan) para nabi dari keturunan adam, dan dari orang
yang kami bawa (dalam kapal)bersama nuh”.
Para
ahli telah mendefinisikan manusia dengan berbagai pengertian, seperti yang
dikemukakan oleh Adi Negorodalam bukunya “Ensiklopedi
Umum dalam Bahasa Indonesia” menyatakan:”Manusia adalah alam kecil sebagian
dari alam besar yang ada diatas bumi, sebagian dari makhluk yang bernyawa,
binatang yang menyusui, akan makhluk yang mengetahui dan dapat menguasai
kekuatan-kekuatan alam, diluar maupun didalam dirinya.
Kemudian
kaum sufi dan ahli kerohanian Islam melatih diri dengan keras dan disiplin yang
sangat tinggi dalam menjalankan ketaatan beribadah dengan mencontoh praktik
rasulullah SAW. Hal itu tidak lain adalah bertujuan ingin mengembalikan
definisi manusia dalam makna yang lebih lengkap dan sempurna dimata tuhannya
maupun makhluknya yaitu Insan Kamil.
B.
Asal-usul
Manusia
Secara
esensial manusia berasal dari allah, bersifat Nur (cahaya), ruh (hidup) dan
gaib (tidak nampak oleh mata kasar). Sedangkan usul manusia adalah berasal dari
air dan tanah.
Penjelasan-penjelasan
yang berhubungan dengan asal-usul manusia yakni:
1.
Asal
Ruhaniyah
Asal
manusia secara ruhaniyah yaitu berasal dari cahaya dan ruh allah (Nur Allah)
yang bersifat gaib tetapi terang-benderang dan sangat menyilaukan pandangan
batin manusia, jika ia dapat memandangnya atas izin-nya.
2.
Asal
Jasmaniyah
Asal-usul
manusia secara jasmaniyah atau badaniyah terdiri dari beberapa unsur, yakni:
·
Air
·
Tanah debu
·
Saripati tanah
·
Tanah liat
·
Tanah lumpur
·
Tanah seperti tembikar
·
Tanah bumi
·
Berbentuk tubuh
3.
Asal
melalui proses keturunan Adam
Kejadian
seorang manusia setelah penciptaan adam, ialah melalui proses keturunan yang
berasal dari anak-anak dari cucu-cucu adam, yaitu:
·
Air mani (sperma)
·
Dalam rahim/ kandungan
ibu
·
Proses kejadian dalam
kandungan
C. Potensi Manusia
Manusia
merupakan makhluk yang istimewa di muka bumi dan juga memiliki potensi ataupun
kelebihan yang luar biasa. Hal itu terbukti dengan diberinya amanah oleh allah
kepada setiap manusia untuk menjadi seorang “KHALIFAH”, yakni sebagai
penggantinya dalam hal me manage atau
mengatur alam dan ekosistem ilahiyah
yang rahmatan lil’alamin.
Dalam
menjalankan tugas kekhalifahan yang sangat berat, maka allah melimpahkan
potensi-potensi ilahiyah bersama kehadiran Nur dan Ruh yang bersifat fitri
kedalam diri seorang insan yang menjadi pilihan, keputusan dan ketentuannya.
Potensi-potensi
yang ada didalam diri manusia adalah:
1.
Potensi
Nur Ilahiyah
Nur
ilahiyah ini adalah potensi yang paling tinggi dan sangat luas, gaib dan tidak
terbatas, karena ia sangat dekat dengan eksistensi allah. Apabila Nur Ilahiyah itu telah utuh dan sempurna
hadir atas izin-nya, maka fungsi esensinya akan tampak pada:
·
Keimanan
·
Keislaman
·
Keihsanan
·
Ketauhidan
·
Kegelapan
2.
Potensi
Ruh Ilahiyah
Syeikh
Abdullah Bin Husain Al Makki Al Idjlani, menyatakan bahwa potensi Ruh itu ada 4
macam:
·
Ruh Namiya yaitu yang
ada pada manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.
·
Ruh Mutaharrika yaitu
yang terdapat pada manusia dan hewan, tidak ada pada tumbuh-tumbuhan.
·
Ruh Natika yaitu khusus
bagi manusia
·
Ruh Qudus yaitu faid (penjelmaan)
Nur dzat allah bagi semua nabi dan wali yang ada mu’jizat dan karamah.
Jadi, potensi Ruh Ilahiyah yang utama
adalah memberikan hidup dan kehidupan yang hidup secara hakiki, dalam habitat
ketuhanan dan serumpun bersama-sama para rasul, nabi dan ahli waris mereka.
Jasmani orang-orang yang potensi Ruh Ilahiyahnya eksis, mereka akan terjaga dan
terbimbing dengan cahaya ruh-nya dari kehancuran dan tipu daya syetan.
3.
Potensi
Nafs Ilahiyah
Dalam
perspektif bahasa kata “nafs”
memiliki beberapa arti, seperti: jiwa, darah, badan, tubuh dan orang.
Pengertian nafs disini adalah yang berhubungan dengan eksistensi seorang
manusia sebagai hamba allah, yang mana dalam setiap diri manusia memiliki
potensi yang khusus. Dalam pandangan al-qur’an, nafs diciptakan allah dalam
keadaan yang sempurna berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat
kebaikan dan keburukan.
Dalam
literatur tasawuf, nafs dikenal memiliki delapan kata ganti, yaitu:
1. Nafsu
Ammarah Bissu’, yaitu kekuatan pendorong naluri sejalan dengan nafsu yang
cenderung kepada keburukan.
2. Nafsu
Lawwamah, yaitu nafsu yang telah mempunyai rasa insaf dan menyesal sesudah
melakukan pelanggaran.
3. Nafsu
Musawwalah, yaitu nafsu yang telah dapat membedakan mana yang lebih baik dan
mana yang buruk
4. Nafsu
Mulhamah, yaitu nafsu yang memperoleh ilham dari allah SWT
5. Nafsu
Muthmainnah, yaitu nafsu yang telah mendapat tuntutan dan pemeliharaan yang
baik sehingga jiwa menjadi tenteram.
6. Nafsu
Rdhiyah, yaitu nafsu yang mempunyai ridho kepada allah, yang mempunyai peranan
penting dalam mewujudkan kesejahtaraan.
7. Nafsu
Mardhiyah, yaitu nafsu yang telah terlihat pada anugerah yang telah
diberikannya berupa;tulus melakukan dzikir, mendpatkan kemuliaan
8. Nafsu
Kamilah, yaitu nafsu yang telah sempurna bentuk dan dasarnya,sudah cukup untuk
mengajarkan irsyad (petunjuk)
4.
Potensi
Qalb Ilahiyah
Qalbu
dalam bentuk masdar atau kata benda mengandung arti lubuk hati, akal, kekuatan,
semangat dan keberanian. Qalb merupakan tempat menerima perasaan kasih sayang,
pengajaran, pengetahuan, berita, ketakutan, keimanan, keislaman, keihsanan, dan
ketauhidan.
Arti
lubuk hati dalam Al-qur’an, allah menggunakan tiga macam kata, yaitu:
a. Al-Qalb,
yaitu lubuk hati yang masih bolak balik dan belum mantap dalam memutuskan suatu
keyakinan dan kekuatan untuk menerima berita antara hak dan batil
b. Ash
Shadri, yaitu asal katanya adalah kejadian, kembali, permulaan dari segala
sesuatu, kukuh hati dan dada.
c. Al-Fuad,
yaitu arti asalnya kematian, ketetapan, manfaat dan hasil.
Rasulullah menyatakan bahwa hati
itu ada empat macam, yaitu:
a. Hati
yang bening
b. Hati
yang tertutup
c. Hati
yang dibalikkan, yaitu hati yang dimiliki oleh orang yang nifaq
d. Hati
yang didalamnya bercampur dua perkara, yaitu dasar pokok keimanan dan dasar
pokok kemunafikan.
5.
Potensi
Akal Ilahiyah
Dari
konteks ayat yang menggunakan akar kata ‘Aql dapat dipahami bahwa antara lain
ialah:
a. Daya
untuk memahami dan menggambarkan sesuatu
b. Dorongan
moral
c. Daya
untuk mengambil pelajaran dan kesimpulan serta hikmah
Penggunaan akal fikiran dalam
al-qur’an ada tiga kata yang dipakai, yaitu:
·
‘Aql, kata ini
menunjukkan penggunaan akal fikiran pada umumnya, baik ia adalah orang yang
beriman ataupun tidak
·
Fikr, yaitu penggunaan
kata ini ditujukkan bagi kerja otak para ahli, ulama dan intelektual
·
Lub, penggunaan kata
ini ditujukan kepada kerja otak para rasul dan nabi.
6.
Potensi
Inderawi Ilahiyah
Allah
SWT telah menjadikan kesempurnaan yang lengkap dalam diri seorang manusia
dengan potensi inderawi, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap
dan peraba.
Indikasi
potensi inderawi ilahiyah telah berfungsi dengan baik dan benar akan tampak
pada kerjanya :
·
Penglihatan dapat
menembus hkikat dari apa saja yang dilihat
·
Pendengaran dapat
menangkap suatu yang hak dan suatu yang batil
·
Penciuman dapat membau
aroma yang hak dan batil,atau haram dan halal
·
Pengecsp dapat
merasakan makanan dan minuman yang halal dan haram
·
Peraba dapat merasakan
dan menangkap makna dan simbol dari apa yang disentuhnya.
(M.Hamdani
Bakran adz-Dzaky, Konseling dan
Psikoterapi Islam, 2004,hal. 13-65 )
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Manusia
adalah salah satu makhluk allah yang paling sempurna, baik dari aspek
jasmaniyah maupun rohaniyahnya.Para ahli telah mendefinisikan manusia dengan
berbagai pengertian, seperti yang dikemukakan oleh Adi Negorodalam bukunya “Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia”
menyatakan:”Manusia adalah alam kecil sebagian dari alam besar yang ada diatas
bumi, sebagian dari makhluk yang bernyawa, binatang yang menyusui, akan makhluk
yang mengetahui dan dapat menguasai kekuatan-kekuatan alam, diluar maupun
didalam dirinya.
Secara
esensial manusia berasal dari allah, bersifat Nur (cahaya), ruh (hidup) dan
gaib (tidak nampak oleh mata kasar). Sedangkan usul manusia adalah berasal dari
air dan tanah.
Manusia
merupakan makhluk yang istimewa di muka bumi dan juga memiliki potensi ataupun
kelebihan yang luar biasa. Hal itu terbukti dengan diberinya amanah oleh allah
kepada setiap manusia untuk menjadi seorang “KHALIFAH”, yakni sebagai
penggantinya dalam hal me manage atau
mengatur alam dan ekosistem ilahiyah
yang rahmatan lil’alamin.
B.
Saran
Dengan
kemampuan kita berfikir diharapkan kepada semua pihak setelah membaca makalah
ini dapat memahami bagaimana definisi manusia, asal-usul manusia, dan potensi
yang dimiliki manusia.
ii
DAFTAR PUSTAKA
M. Hamdani Bakran Adz-Dzaky. Konseling dan psikoterapi Islam. Fajar
pustaka baru, yogyakarta, 2004
Tidak ada komentar:
Posting Komentar