ya

Senin, 13 Oktober 2014

KONSEP MANUSIA DAN PROBLEMATIKANYA ( KELOMPOK 1)

TUGAS TERSTRUKTUR                                                 DOSEN PEMBIMBING
   Psikoterapi Islam                                                                     M. Fahli Zatra Hadi, M. Pd

Konsep Manusia dan Problematikanya

logo.jpg

DI SUSUN OLEH:
Kelompok I
Dewita Ramadani
Mukhlil Rimaman
Rahmi Ainun

JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS NEGERI SULTAN SHARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
2014

KATA PENGANTAR
Segalapujibagiallah yang telahmemberikannikmatsertahidayahnyaterutamanikmatkesempatandankesehatansehingga kami dapatmenyelesaikanmakalah yang berjudulKonsep Manusia dan Problematikanya”. Kemudianshalawatbesertasalamkitasampaikankepadanabibesarkita Muhammad SAW yang telahmemberikanpedomanhidupyakni al-qur’andansunnahuntukkeselamatanumat di dunia.
MakalahinimerupakansalahsatutugasmatakuliahPsikoterapi Islam di program studi BKI FakultasDakwahdanIlmuKomunikasi. SelanjutnyapenulismengucapkanterimakasihkepadabapakM. Fahli Zatra Hadi, M. Pd. SelakudosenpembimbingmatakuliahPsikoterapi Islam dankepadasegenappihak yang telahmemberikanbimbingansertaarahanselamapenulisanmakalahini.
Akhirnyapenulismenyadaribahwabanyakterdapatkekurangan-kekurangandalampenulisanmakalahini,makadariitupenulismengharapkankritikdan saran yang konstruktifdariparapembaca demi kesempurnaanmakalahini.





Pekanbaru, 23 September 2014


Penulis




                                                                                                                                                i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ..................................................................................................      i
Daftar Isi.............................................................................................................       ii
BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang ........................................................................................       1
  2. Tujuan .....................................................................................................       1

BAB II
PEMBAHASAN
a.       Definisi Manusia ....................................................................................        2
b.      Asal-Usul Manusia ................................................................................         3
c.       Potensi Manusia ....................................................................................         4

BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan ..........................................................................................          8
  2. Saran ....................................................................................................          8

DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Manusia adalah salah satu makhluk allah yang paling sempurna, baik dari aspek jasmaniyah maupun rohaniyahnya. Karena kesempurnaan itulah, maka untuk dapat memahami, mengenal secara dalam dan totalitas dibutuhkan keahlian yang spesifik. Dan hal itu tidak mungkin dapat dilakukan tanpa melalui studi yang panjang dan hati-hati tentang “manusia” melalui al-qur’an dan sudah tentu harus dibawah bimbingan dan petunjuk allah, serta berparadigma kepada proses pertumbuhan dan perkembangan eksistensi diri yang terdapat pada para nabi, rasul dan khususnya Nabi Muhammad SAW.
Asal-usul manusia secara esensial berasal mula dari allah, bersifat Nur (cahaya), ruh (hidup) dan gaib (tidak nampak oleh mata kasar).
Kemudian manusia dihadapan allah bukanlah seperti makhluk-makhluknya yang lain, akan tetapi seorang makhluk yang memiliki kelebihan luar biasa. Hal itu terbukti dengan cara allah memberikan amanah kepada manusia sebagai “KHALIFAH” yang berfungsi sebagai penggantinya dalam hal mengatur alam dan ekosistem ilahiyah yang rahmatan lil’alamin.

B.     Tujuan
1.      Agar kita bisa memahami definisi manusia
2.      Agar kita bisa mengetahui asal-usul manusia
3.      Agar kita bisa mengetahui bagaimana potensi manusia






BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Manusia
Manusia adalah salah satu makhluk allah yang paling sempurna, baik dari aspek jasmaniyah maupun rohaniyahnya. Karena kesempurnaannya itulah, maka untuk dapat memahami, mengenal secara dalam dan totalitas dibutuhkan keahlian yang spesifik.
Secara etimologi istilah manusia di dalam al-qur’an ada empat kata yang dipergunakan, yakni:

1.      Ins, Insan dan Unas
Kata-kata “Insan” diambil dari asal kata “Uns” yang mempunyai arti jinak, tidak liar, senang hati, tampak atau terlihat, seperti yang terdapat dalam firman allah SWT yang artinya:
Sungguh, kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (At-tin, 95:4)
Kesempurnaan manusia itu dapat kita lihat pada asal kata “ins” berarti seorang manusia, sedangkan “insani” bahwa manusia mempunyai dua unsur kemanusiaannya, yaitu aspek lahiriyah dan aspek batiniyah.
Sedangkan kata Ins dan Unas, hal itupun menunjukkan makna, bahwa sifat dasar manusia adalah fitri yang terpancar dari alam rohaninya, yaitu gemar bersahabat, ramah, lemah-lembut dan sopan santun serta taat kepada allah.

2.      Basyar
Kata basyar berasal dari maknanya yaitu menimbulkan rasa senang, bahagia, dan gembira bagi siapa saja yang melihatnya.

3.      Bani Adam
Arti kata “Bani Adam” ialah anak adam atau putra nabi adam, sebagaimana firmannya yang artinya:
Wahai anak adam, janganlah syetan itu benar-benar dapat menipumu, sebagaimana kedua orang tuamu telah ia keluarkan dari surga...”. (Al-A’raf, 7:27)


4.      Dzurriyat Adam
Sebagaimana dalam QS. Maryam ayat 58 menjelaskan bahwa:
mereka itulah orang yang telah diberi nikmat oleh allah, yaitu dari (golongan) para nabi dari keturunan adam, dan dari orang yang kami bawa (dalam kapal)bersama nuh”.

Para ahli telah mendefinisikan manusia dengan berbagai pengertian, seperti yang dikemukakan oleh Adi Negorodalam bukunya “Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia” menyatakan:”Manusia adalah alam kecil sebagian dari alam besar yang ada diatas bumi, sebagian dari makhluk yang bernyawa, binatang yang menyusui, akan makhluk yang mengetahui dan dapat menguasai kekuatan-kekuatan alam, diluar maupun didalam dirinya.
Kemudian kaum sufi dan ahli kerohanian Islam melatih diri dengan keras dan disiplin yang sangat tinggi dalam menjalankan ketaatan beribadah dengan mencontoh praktik rasulullah SAW. Hal itu tidak lain adalah bertujuan ingin mengembalikan definisi manusia dalam makna yang lebih lengkap dan sempurna dimata tuhannya maupun makhluknya yaitu Insan Kamil.

B.     Asal-usul Manusia
Secara esensial manusia berasal dari allah, bersifat Nur (cahaya), ruh (hidup) dan gaib (tidak nampak oleh mata kasar). Sedangkan usul manusia adalah berasal dari air dan tanah.
Penjelasan-penjelasan yang berhubungan dengan asal-usul manusia yakni:

1.      Asal Ruhaniyah
Asal manusia secara ruhaniyah yaitu berasal dari cahaya dan ruh allah (Nur Allah) yang bersifat gaib tetapi terang-benderang dan sangat menyilaukan pandangan batin manusia, jika ia dapat memandangnya atas izin-nya.

2.      Asal Jasmaniyah
Asal-usul manusia secara jasmaniyah atau badaniyah terdiri dari beberapa unsur, yakni:
·         Air
·         Tanah debu
·         Saripati tanah
·         Tanah liat
·         Tanah lumpur
·         Tanah seperti tembikar
·         Tanah bumi
·         Berbentuk tubuh

3.      Asal melalui proses keturunan Adam
Kejadian seorang manusia setelah penciptaan adam, ialah melalui proses keturunan yang berasal dari anak-anak dari cucu-cucu adam, yaitu:
·         Air mani (sperma)
·         Dalam rahim/ kandungan ibu
·         Proses kejadian dalam kandungan

C.     Potensi Manusia
Manusia merupakan makhluk yang istimewa di muka bumi dan juga memiliki potensi ataupun kelebihan yang luar biasa. Hal itu terbukti dengan diberinya amanah oleh allah kepada setiap manusia untuk menjadi seorang “KHALIFAH”, yakni sebagai penggantinya dalam hal me manage atau mengatur alam dan ekosistem ilahiyah  yang rahmatan lil’alamin.
Dalam menjalankan tugas kekhalifahan yang sangat berat, maka allah melimpahkan potensi-potensi ilahiyah bersama kehadiran Nur dan Ruh yang bersifat fitri kedalam diri seorang insan yang menjadi pilihan, keputusan dan ketentuannya.

Potensi-potensi yang ada didalam diri manusia adalah:
1.      Potensi Nur Ilahiyah
Nur ilahiyah ini adalah potensi yang paling tinggi dan sangat luas, gaib dan tidak terbatas, karena ia sangat dekat dengan eksistensi allah. Apabila Nur Ilahiyah itu telah utuh dan sempurna hadir atas izin-nya, maka fungsi esensinya akan tampak pada:
·         Keimanan
·         Keislaman
·         Keihsanan
·         Ketauhidan
·         Kegelapan
2.      Potensi Ruh Ilahiyah
Syeikh Abdullah Bin Husain Al Makki Al Idjlani, menyatakan bahwa potensi Ruh itu ada 4 macam:
·         Ruh Namiya yaitu yang ada pada manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.
·         Ruh Mutaharrika yaitu yang terdapat pada manusia dan hewan, tidak ada pada tumbuh-tumbuhan.
·         Ruh Natika yaitu khusus bagi manusia
·         Ruh Qudus yaitu faid (penjelmaan) Nur dzat allah bagi semua nabi dan wali yang ada mu’jizat dan karamah.
Jadi, potensi Ruh Ilahiyah yang utama adalah memberikan hidup dan kehidupan yang hidup secara hakiki, dalam habitat ketuhanan dan serumpun bersama-sama para rasul, nabi dan ahli waris mereka. Jasmani orang-orang yang potensi Ruh Ilahiyahnya eksis, mereka akan terjaga dan terbimbing dengan cahaya ruh-nya dari kehancuran dan tipu daya syetan.
3.      Potensi Nafs Ilahiyah
Dalam perspektif bahasa kata “nafs” memiliki beberapa arti, seperti: jiwa, darah, badan, tubuh dan orang. Pengertian nafs disini adalah yang berhubungan dengan eksistensi seorang manusia sebagai hamba allah, yang mana dalam setiap diri manusia memiliki potensi yang khusus. Dalam pandangan al-qur’an, nafs diciptakan allah dalam keadaan yang sempurna berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan.

Dalam literatur tasawuf, nafs dikenal memiliki delapan kata ganti, yaitu:
1.      Nafsu Ammarah Bissu’, yaitu kekuatan pendorong naluri sejalan dengan nafsu yang cenderung kepada keburukan.
2.      Nafsu Lawwamah, yaitu nafsu yang telah mempunyai rasa insaf dan menyesal sesudah melakukan pelanggaran.
3.      Nafsu Musawwalah, yaitu nafsu yang telah dapat membedakan mana yang lebih baik dan mana yang buruk
4.      Nafsu Mulhamah, yaitu nafsu yang memperoleh ilham dari allah SWT
5.      Nafsu Muthmainnah, yaitu nafsu yang telah mendapat tuntutan dan pemeliharaan yang baik sehingga jiwa menjadi tenteram.
6.      Nafsu Rdhiyah, yaitu nafsu yang mempunyai ridho kepada allah, yang mempunyai peranan penting dalam mewujudkan kesejahtaraan.
7.      Nafsu Mardhiyah, yaitu nafsu yang telah terlihat pada anugerah yang telah diberikannya berupa;tulus melakukan dzikir, mendpatkan kemuliaan
8.      Nafsu Kamilah, yaitu nafsu yang telah sempurna bentuk dan dasarnya,sudah cukup untuk mengajarkan irsyad (petunjuk)

4.      Potensi Qalb Ilahiyah
Qalbu dalam bentuk masdar atau kata benda mengandung arti lubuk hati, akal, kekuatan, semangat dan keberanian. Qalb merupakan tempat menerima perasaan kasih sayang, pengajaran, pengetahuan, berita, ketakutan, keimanan, keislaman, keihsanan, dan ketauhidan.
Arti lubuk hati dalam Al-qur’an, allah menggunakan tiga macam kata, yaitu:
a.       Al-Qalb, yaitu lubuk hati yang masih bolak balik dan belum mantap dalam memutuskan suatu keyakinan dan kekuatan untuk menerima berita antara hak dan batil
b.      Ash Shadri, yaitu asal katanya adalah kejadian, kembali, permulaan dari segala sesuatu, kukuh hati dan dada.
c.       Al-Fuad, yaitu arti asalnya kematian, ketetapan, manfaat dan hasil.
Rasulullah menyatakan bahwa hati itu ada empat macam, yaitu:
a.       Hati yang bening
b.      Hati yang tertutup
c.       Hati yang dibalikkan, yaitu hati yang dimiliki oleh orang yang nifaq
d.      Hati yang didalamnya bercampur dua perkara, yaitu dasar pokok keimanan dan dasar pokok kemunafikan.

5.      Potensi Akal Ilahiyah
Dari konteks ayat yang menggunakan akar kata ‘Aql dapat dipahami bahwa antara lain ialah:

a.       Daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu
b.      Dorongan moral
c.       Daya untuk mengambil pelajaran dan kesimpulan serta hikmah
Penggunaan akal fikiran dalam al-qur’an ada tiga kata yang dipakai, yaitu:
·         ‘Aql, kata ini menunjukkan penggunaan akal fikiran pada umumnya, baik ia adalah orang yang beriman ataupun tidak
·         Fikr, yaitu penggunaan kata ini ditujukkan bagi kerja otak para ahli, ulama dan intelektual
·         Lub, penggunaan kata ini ditujukan kepada kerja otak para rasul dan nabi.

6.      Potensi Inderawi Ilahiyah
Allah SWT telah menjadikan kesempurnaan yang lengkap dalam diri seorang manusia dengan potensi inderawi, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap dan peraba.
Indikasi potensi inderawi ilahiyah telah berfungsi dengan baik dan benar akan tampak pada kerjanya :
·         Penglihatan dapat menembus hkikat dari apa saja yang dilihat
·         Pendengaran dapat menangkap suatu yang hak dan suatu yang batil
·         Penciuman dapat membau aroma yang hak dan batil,atau haram dan halal
·         Pengecsp dapat merasakan makanan dan minuman yang halal dan haram
·         Peraba dapat merasakan dan menangkap makna dan simbol dari apa yang disentuhnya.
(M.Hamdani Bakran adz-Dzaky, Konseling dan Psikoterapi Islam, 2004,hal. 13-65 )







BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Manusia adalah salah satu makhluk allah yang paling sempurna, baik dari aspek jasmaniyah maupun rohaniyahnya.Para ahli telah mendefinisikan manusia dengan berbagai pengertian, seperti yang dikemukakan oleh Adi Negorodalam bukunya “Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia” menyatakan:”Manusia adalah alam kecil sebagian dari alam besar yang ada diatas bumi, sebagian dari makhluk yang bernyawa, binatang yang menyusui, akan makhluk yang mengetahui dan dapat menguasai kekuatan-kekuatan alam, diluar maupun didalam dirinya.
Secara esensial manusia berasal dari allah, bersifat Nur (cahaya), ruh (hidup) dan gaib (tidak nampak oleh mata kasar). Sedangkan usul manusia adalah berasal dari air dan tanah.
Manusia merupakan makhluk yang istimewa di muka bumi dan juga memiliki potensi ataupun kelebihan yang luar biasa. Hal itu terbukti dengan diberinya amanah oleh allah kepada setiap manusia untuk menjadi seorang “KHALIFAH”, yakni sebagai penggantinya dalam hal me manage atau mengatur alam dan ekosistem ilahiyah  yang rahmatan lil’alamin.
B.     Saran
Dengan kemampuan kita berfikir diharapkan kepada semua pihak setelah membaca makalah ini dapat memahami bagaimana definisi manusia, asal-usul manusia, dan potensi yang dimiliki manusia.









                                                                                                                                                ii

DAFTAR PUSTAKA


M. Hamdani Bakran Adz-Dzaky. Konseling dan psikoterapi Islam. Fajar pustaka baru, yogyakarta, 2004



Tidak ada komentar:

Posting Komentar